Surabaya (beritajatim.com) – Miss Dja memulai debutnya sebagai aktris Dardanella pada tahun 1930, di usia 16 tahun di Batavia. Saat itu, ia mendapat peran kecil dalam sebuah lakon dengan judul asing yang menarik — “Mademoiselle de Monte Carlo” — yaitu sebagai seorang gadis buta.
Miss Dja memerankannya dengan begitu penuh perasaan dan alami, hingga banyak penonton berkaca-kaca. Surat kabar, terutama yang berbahasa Indonesia, memuji penampilannya. Beberapa bulan kemudian, awal 1931, ia mendapat kesempatan emas.
Kelompok Dardanella sedang tur di Sumatra. Miss Riboet menderita demam tinggi di Pematang Siantar; kemungkinan ia tertular malaria saat pertunjukan sebelumnya di Tandjong Balei yang tidak sehat. Pertunjukan “The Merry Widow” — lagi-lagi dengan judul asing yang khas — harus tetap berjalan, dan tak seorang pun selain Miss Dja dianggap layak menggantikan Miss Riboet dalam peran utama.
Seluruh bintang Dardanella berjaga di belakang layar selama pertunjukan untuk mencegah kesalahan dari primadona muda ini, tapi semua usaha itu tidak diperlukan, karena ia memerankan peran tersebut seolah sudah biasa melakukannya.
Sejak itu, karier Miss Dja terus menanjak. Beberapa minggu kemudian, dalam premiere “Dr. Samsi” di Medan — sebuah drama adat Indonesia yang ditulis khusus untuk Dja — ia mendapat peran utama. Ternyata ia sangat cocok memerankan seorang ibu tua yang bertemu kembali dengan anaknya yang hilang setelah 30 tahun.
Di Padang, pertunjukan ini bahkan dihadiri oleh Gubernur Sumatra’s Westkust, yang memuji sutradara atas pengaturan panggung dan naskahnya.
Dan kini, 17 tahun kemudian, Miss Dja yang menawan — yang kini sudah menikah dan dipanggil Mrs. Dja — menjadi pemilik “Sarong Club” di Chicago. Sejauh yang kami tahu, dialah satu-satunya artis stamboel yang mencapai hal itu.
Setelah berkenalan dengan beberapa tokoh utama Dardanella, sedikit tentang organisasi kelompok ini, yang cukup khas untuk kelompok modern semacam itu. Dardanella terdiri dari sekitar 120 orang, dengan 40-50 orang bermain dalam selingan. Komposisinya sangat beragam: ada orang Ambon, Manado, Jawa, Manila, Tionghoa, Eropa, dan Indo-Eropa.
Dardanella berkeliling ke seluruh Nusantara, hingga ke pelosok Sumatra, Borneo, Jawa, Celebes, dan Ambon. Mereka memiliki mobil sendiri untuk mengangkut orang, dekor, properti, kostum, dll. Di kota kecil, mereka bermain di tenda sendiri dengan penerangan listrik mandiri. Program dicetak di percetakan miniatur milik mereka. Dekor, yang cukup bagus, dilukis oleh seorang pelukis Tionghoa.
Para direksi dan artis tinggal bersama. Ada pengawasan tertentu terhadap perilaku mereka. Terdapat keteraturan, kedisiplinan, dan latihan rutin — seperti kelompok Eropa besar. Tidak ada kekacauan atau kenyamanan khas “Indische” di panggung, seperti yang biasa terlihat di pertunjukan bangsawan. Semua berjalan tepat seperti yang direncanakan.
Namun, unsur Timur tetap ada, terutama dalam banyak lakon yang dipentaskan. Ceritanya harus relevan dengan kehidupan agar bisa menyentuh penonton Indonesia modern, yang ingin melihat masalah kontemporer di panggung, seperti dalam “Haïda”. Lakon ini berakhir bahagia, seperti di bioskop — sebuah konsesi pada selera penonton yang masih bertahan hingga kini.
“East is East, and West is West”, tapi di Dardanella, keduanya bertemu dengan harmonis. Andai saja masyarakat luas bisa seperti komunitas kecil teater Melayu dan kelompok kabaret itu! [but]
*) Terjemahan bebas dari tulisan G.H. von Faber (Direktur Pendidikan Umum) yang dimuat di koran berbahasa Belanda “De Vrije Pers” (14-12-1948).






