Situbondo (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, memulai pembangunan sektor pariwisata dengan menyiapkan Baluran International Triathlon. Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo ingin sektor pariwisata menjadi gerakan dan tak berhenti pada potensi.
Baluran akan menjadi titik awal dan ikon pengembangan pariwisata di Situbondo.Kawasan ini termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Banyuputih. Di sini terletak kawasan taman nasional yang dikenal julukan “Africa van Java” atau “Little Africa in Java”.
Dengan luas 25 ribu hektare, Taman Nasional Baluran memliki bentang alam mirip savana Afrika yang dihuni berbagai jenis flora dan fauna, seperti rusa dan banteng.
Selain Taman Nasional Baluran yang berjuluk Little Africa, Baluran memiliki sekian destinasi wisata yang menarik, antara lain Pantai Sijile, Pantai Lempuyang, dan Pantai Bama. “Ada juga wisata ribuan sapi. yang bergerombol begitu,” kata Bupati Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Selasa (13/5/2025).
Rio juga siap membangun kawasan aglomerasi dengan Kabupaten Bondowoso yang punya potensi wisata Gunung ijen. “Belum lagi wisata-wisata di wilayah barat, seperti Plaza Rengganis,” katanya.
Plaze Rengganis terletak di Desa Baderan, Kecamatan Sumbermalang. Desa ini merupakan jalur pendakian ke Gunung Argopuro.
Bupati Rio menantang kesiapan pelaku pariwisata Situbondo untuk memaksimalkan potensi Baluran. “Ini pertarungan kompetisi jasa wisata. Arenanya sudah mau saya buat nih. Sekarang kemauan dari (pelaku wisata) Situbondo ada tidak? Jangan cuma mengeluh, jangan cuma komplain,” katanya.
“Apapun kegiatannya, seberapapun besar anggarannya, sebagus apapun infrastrukturnya, kalau sumber daya manusianyanya tidak catch up, tidak menyesuaikan, hanya jadi cerita saja nanti,” kata Rio.
Rio telah mengumpulkan sejumlah pihak yang berkepentingan di dunia jasa pariwisatam anak-anak muda yang tertarik dengan wisata perjalanan dan fotografi, dan pengelola badan usaha milik desa (BUMDes).
Rio menanyakan kesiapan mereka untuk menerima wisatawan. “Percuma saya mau bikin kebijakan yang super dahsyat, kalau sumber daya manusianya tidak catch up,” katanya.
Ibarat hendak berperang, arena, anggaran, senjata, dan amunisi sudah tersedia. “Tinggal habituasi. Bagaimana anak-anak muda ini melakukan proses pembiasaan,” kata Rio.
Rio juga tengah melobi sejumlah pengusaha untuk berinvestasi di Situbondo, termasuk menanamkan modal di sektor pariwisata. “Saya juga meghubungi Damri agar membuka rute-rute dari Situbondo, Jadi aksesibilitasnya dibuat,” katanya.
Pemkab Situbondo serius hendak mengembangkan sektor. pariwisata. “Tapi saya baru akan menggelontorkan dana ke situ ketika masyarakat sudah mau kerja bakti,” kata Rio.
“Wisata bukan sekadar kebijakan ansichm tapi gerakan. Ada triple track yakni pemerintah, masyarakatm dan investor. Itu gerakan bareng-bareng, Banyuwangi sudah lama melakukan itu. Situbondo baru sebatas melihat potensi,” kata Rio. [wir]






