Malang (beritajatim.com) – Di era sekarang, banyak anak muda yang menemukan gairah dan minat di tengah-tengah masa kuliah mereka. Banyak dari mereka mulai memikirkan masa depan untuk membuka usaha atau mencari sumber pendapatan.
Salah satu individu yang demikian adalah Abdul Latif. Sebagai lulusan Universitas Brawijaya Malang, perjalanan hidup Latif tidaklah mudah. Sejak kecil, pria asal Tasikmalaya ini tinggal bersama Uwa (sebutan akrab untuk kakak dari ayah/ibu) yang bekerja sebagai tukang becak. Ibunya telah meninggal dunia ketika ia baru berusia satu tahun.
“Kehidupan sehari-hari Uwa sebagai tukang becak membuat pendanaan sekolah menjadi sangat sulit bagi saya. Mulai dari SD hingga SMK di Tasikmalaya, saya selalu mengandalkan beasiswa untuk bisa melanjutkan pendidikan,” paparnya.
Setelah menyelesaikan SMP, Latif bercita-cita untuk melanjutkan studinya. Namun, nasib berkata lain, Uwa mengalami penyakit serius yang mengganggu kesehariannya. Meskipun begitu, Latif mendapatkan keberuntungan. Ia diterima di SMK Muhammadiyah Tasikmalaya tanpa biaya.
“Saya mendapatkan beasiswa pribadi dari seorang guru. Nama guru tersebut akan selalu dikenang sepanjang hidup, Bu Early Nurhidayati. Bukan hanya dukungan materi yang diberikan, namun dukungan moralnya jauh lebih berharga. Kelembutannya akan menjadi cerita yang terus diwariskan kepada anak-anak, cucu, dan keturunan saya,” ujarnya dengan penuh haru.
Selama berada di SMK, ia terpaksa harus tinggal di panti asuhan. Hal ini disebabkan Uwa tidak lagi mampu membiayai pendidikannya. Meskipun demikian, tekad Latif untuk melanjutkan pendidikannya tetap kuat.
“Dari panti asuhan, saya mendapatkan akses informasi mengenai beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Singkat cerita, saya diterima di dua program studi di Universitas Brawijaya, yaitu D3 Teknik Informatika dan S1 Sistem Informasi. Saya mendapatkan beasiswa untuk keduanya,” lanjut pria berusia 26 tahun ini.
Ketika memasuki dunia perkuliahan, ia dengan gigih mencari berbagai beasiswa. Ia berhasil meraih empat beasiswa.
“Meskipun pada akhirnya tetap kurang, saya memutuskan untuk mengambil jalur usaha sambil kuliah. Saya pernah menjual camilan yang diletakkan di kantin-kantin kampus, memberikan layanan perbaikan laptop secara online, serta menawarkan jasa pengembangan website dan aplikasi,” ungkapnya.
Baca Juga: Senjani Kitchen: Pelopor Catering Sehat dari Malang yang Berkembang Pesat
Dari berbagai jenis usaha sampingan yang ia jalani, yang masih berjalan hingga saat ini adalah Senjani Kitchen. Usaha ini dimulai saat ia memasuki semester 6 dengan modal dari beasiswa.
Berdasarkan perjalanan dan pengalaman hidupnya, saat ini ia sedang menginisiasi sebuah program beasiswa untuk membantu orang-orang kurang mampu agar dapat melanjutkan pendidikannya pada tingkat yang lebih tinggi.
“Bagi saya, pendidikan adalah jembatan menuju kesuksesan. Meskipun tidak menjamin, saya belum menemukan hal lain yang lebih berharga daripada pendidikan,” tegasnya.

Saat ini, ia menyebutkan bahwa ada dua penerima bantuan dari program ini. Pertama, anak dari karyawan Senjani Kitchen yang masih duduk di SD. Kedua, seorang tetangga dari desanya yang sudah diterima di perguruan tinggi namun tidak memiliki biaya.
“Beasiswa ini masih bersifat pribadi, dan harapannya adalah dapat memberikan manfaat yang lebih luas di bawah naungan suatu yayasan. Yayasan tersebut rencananya akan diberi nama ‘Early Foundation’ sebagai bentuk rasa terima kasih saya atas dedikasi luar biasa dari seorang guru yang luar biasa, guru kehidupan, yaitu Bu Early Nurhidayati,” tuturnya.
Karena itu, ia meluangkan waktu untuk merenungi perjalanan hidupnya. Ia telah merasakan pahit dan manis dalam menjalani kehidupan.
“Pada dasarnya, selalu ada jalan di setiap langkah yang saya ambil. Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya sendirian. Sejak menyadari hal ini, saya tidak pernah meragukan masa depan. Saya yakin bahwa segalanya sudah dijamin oleh Sang Pemilik Segalanya, yaitu Allah SWT,” ungkapnya.
“Keadaan ekonomi keluarga saya saat ini jauh lebih baik daripada sepuluh tahun lalu, terutama karena usaha. Namun, saya tidak pernah takut kehilangan harta. Jika ditakdirkan untuk menjadi miskin, saya sudah memiliki pengalaman sejak kecil, sehingga saya tidak akan takut,” tambah Latif lagi.
[berita-terkait number=”3″ tag=”showup”]
Oleh karena itu, Ibeng, julukannya, memberikan motivasi kepada para pemuda agar tetap optimis dan gigih.
“Jangan ragu sedikit pun terhadap masa depan. Kita harus beriman pada qada’ dan qadar dari Allah. Itu adalah dasar kehidupan!” tegasnya. (ted)






