Surabaya (beritajatim.com) – PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), anak perusahaan PTPN III (Persero), meluncurkan program “Penguatan Tebu Rakyat” yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas petani tebu dan mendukung pencapaian swasembada gula nasional pada tahun 2028.
Program ini fokus pada peningkatan kualitas budidaya tebu, mulai dari penyediaan bibit unggul, penggunaan pupuk yang tepat, hingga pemanenan pada waktu yang optimal. Selain itu, SGN juga memberikan akses yang lebih mudah bagi petani terhadap pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) Khusus.
Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), Mohammad Abdul Ghani, menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas tebu adalah kunci untuk mencapai swasembada gula. Dengan meningkatkan produktivitas dari 5 ton per hektar menjadi 8 ton per hektar, biaya produksi gula dapat ditekan secara signifikan.
“Jika produktivitas petani meningkat, maka harga pokok produksi gula akan turun. Ini akan memberikan keuntungan yang lebih besar bagi petani,” ujar Abdul Ghani.
Abdul Ghani menggambarkan produktivitas tebu pada tahun 1930 bisa mencapai 14,7 ton per hektare. Kondisi saat ini, produktivitas per hektare 5 ton. Selepas program penguatan diharapkan produktivitas bisa 8 ton per hektare.
Dari data internal PTPN, kata Abdul Ghani, kalau petani mampu menaikkan produktivitas 5 ton ke 8 ton maka untuk menghasilkan 1 kg HPP gula itu turun dari sekitar Rp9.763/kg menjadi hanya Rp6.269/kg. Biaya ini sudah termasuk sewa lahan, sehingga bila lahan milik sendiri biaya pokoknya bisa turun.
“Bila produktivitas bisa 8 ton per hektare, sekarang gula Rp15.000, uangnya sudah Rp120 juta, kesimpulannya petani mendapat Rp 47 juta per hektare kalau lahan sendiri bisa mencapai Rp60 juta,” tuturnya.
Dia menegaskan bila produksi tebu 8 ton per hektare dengan asumsi luas lahan tebu 500.000 hektare, secara nasional maka bisa menghasilkan minimal 4 juta ton gula. “Artinya untuk mencapai swasembada gula konsumsi itu bukan target yang berlebihan,” katanya.
Pemerintah memberikan dukungan penuh terhadap program ini melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian yang menyediakan KUR Khusus untuk petani tebu. Selain itu, berbagai BUMN seperti Petrokimia Gresik, PTPN, RNI, dan Bulog juga turut berkontribusi dalam mendukung program ini.
SGN juga telah menyiapkan infrastruktur digital bernama E-Tera yang akan digunakan untuk mengelola data petani dan kebutuhan mereka. Platform ini diharapkan dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, mengatakan penguatan ekosistem tebu rakyat ini memang salah satu kunci untuk swasembada gula konsumsi terutama pada 2028 mendatang. Perseroan sudah menyiapkan KUR khusus kluster tebu.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan, SGN optimistis dapat mencapai target swasembada gula pada tahun 2028. Dengan meningkatkan produktivitas petani dan memperkuat kemitraan antara perusahaan dan petani, target tersebut diyakini dapat tercapai. [rea/ian]






