Bojonegoro (beritajatim.com) – Sejumlah seniman di Kabupaten Bojonegoro menggelar pertunjukan untuk mengenang dan umbul doa 100 hari meninggalnya Jagad Pramujito. Pertunjukan digelar di Aktore Media Arts Kelurahan Klangon Kabupaten Bojonegoro, Senin (7/10/2024) malam.
Pertunjukan diisi dengan pentas musik, pemutaran film pendek perjalanan almarhum Jagad Pramujito dalam berkesenian, pertunjukan tetembangan seni tradisional sandur, sket, dan ditutup dengan doa bersama yang dikhususkan untuk almarhum seniman kontemporer kawakan di Bojonegoro.
“Jagad Pramujito merupakan seniman, guru, dan orang tua yang selalu kami rindukan pemikiran, ilmu, gelak tawa, dan candanya. Semoga mendapat surgaNya,” ujar seniman musik, Brian Armando.
Jagad Pramujito semasa hidup memang sangat aktif dalam pelestarian seni tradisional musik maupun pertunjukan. Hidupnya sudah diwakafkan untuk merawat kesenian yang berkembang di Bojonegoro. Hingga sampai sekarang seni tradisional yang digelutinya masih terus lestari.
Seniman yang meneruskan perjuangan Jagad Pramujito dalam merawat seni tradisional Sandur, salah satunya adalah Oky Dwi Cahyo. Dia mengungkapkan, berkat pemikiran dan ketelatenan Mas Pram dalam mengembangkan sandur, kesenian tradisional itu kini masih terus bisa dinikmati sebagai pertunjukan.
“Ini sebagai bentuk doa atas ilmu dan perjuangannya mempertahankan kesenian di Bojonegoro,” ujarnya yang juga menginisiasi pertunjukan untuk mengenang 100 hari meninggalnya seniman Sandur Bojonegoro, Jagad Pramujito.
Oky menyebut, seni sandur kini bisa diterima seluruh kalangan masyarakat, termasuk para pelajar karena tidak lepas dari pengembangan dari pemikiran Jagad Pramujito. Ia bersama almarhum Masnoen membuat kelompok sandur yang murni menggunakan teknik teater dalam setiap pertunjukan dan tidak ada unsur magis.
“Meski begitu, Mas Pram juga berpesan agar akar dari kesenian tradisi itu harus tetap dipelajari. Sehingga tidak tergantikan,” pesannya.
Pertunjukan mengenang 100 hari meninggalnya seniman Sandur Bojonegoro Jagad Pramujito meski digelar sederhana tapi syarat dengan makna. Penonton yang datang merasa terhipnotis dengan aroma wewangian dari pembakaran dupa juga doa-doa dari tetembangan sandur yang dilantunkan.
“Seperti flashback melihat pertunjukan ini. Mas Pram seolah hadir. Jadi teringat masa lalu saat berproses,” ujar salah seorang penonton yang hadir, Ariska Nurrachma. [lus/kun]







