Bojonegoro (beritajatim.com) – Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bojonegoro, Helmy Elisabeth mengungkapkan, pembelian gabah kering panen (GKP) ditingkat petani jauh di bawah harga penentuan pemerintah (HPP).
Saat ini, harga gabah kering panen (GKP) ditingkat petani bervariasi mulai dari Rp 3.300 hingga tertinggi Rp 3.700 per kilogram. Sementara, harga pembelian pemerintah (HPP) untuk gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 4.200 per kilogram. Sedangkan untuk harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan sebesar Rp 5.250 per kilogram.
Menurut Helmy, ada beberapa faktor yang mengakibatkan turunnya harga gabah di tingkat petani, salah satunya karena memasuki panen raya, sehingga produksinya melimpah. Selain itu, kualitas gabah yang kurang bagus karena serangan hama, dan faktor lainnya seperti belum adanya penyerapan dari Badan Urusan Logistik (Bulog).
“Yang pasti karena panen raya kemudian yang kedua juga kualitas, karena banyak diserang hama wereg jadi hasilnya tidak bagus. Secara kuantitas dan kualitaspun turun. Yang ketiga Bulog juga belum bergerak untuk penyerap gabah dari petani, biasanya kalau Bulog itu sudah turun menyerap, harga agak terkerek atau naik,” kata Helmy Elisabeth, Sabtu (27/2/2021).
[berita-terkait number=”4″ tag=”bojonegoro”]
Helmy menyampaikan bahwa pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Bulog. Dari informasi yang ia dapat, ternyata Bulog sendiri tahun ini tidak ada rencana pembelian untuk gabah kering panen (GKP), dan hanya membeli gabah kering giling (GKG).
“Sebetulnya kalau pemerintah pusat punya upaya supaya Bulog serap gabah dari petani, pasti harga terkerek atau naik. Saya sudah koordinasi dengan bulog, jadi mereka tahun ini tidak diploting untuk pembelian GKP, hanya GKG saja,” kata Hely
Sehingga dengan tidak adanya penyerapan GKP dari Bulog tersebut, kata Helmy, petani kemudian menjual kepada tengkulak atau perorangan. “Apalagi yang 3 kali tanam, hampir semuanya jual GKP. ini sebetulnya masalah klise cuma kenapa tidak bisa tertangani.” tuturnya.
Helmy menjelaskan bahwa pihaknya akan segera mengundang para pihak untuk membahas turunnya harga gabah tersebut. DKPP, kata dia, sudah berupaya pada peningkatan produksi dan menyetabilan produksi, namun pasca panen juga menjadi tantangan bersama, salah satunya adalah masalah harga jual gabah.
“Minggu depan kami mau mengundang para pihak untuk mencermati situasi ini,” pungkasnya. [lus/ted]






