Bondowoso (beritajatim.com) – Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, menanggapi kasus penusukan seorang siswa SMP negeri di Bondowoso yang dilakukan teman sekelasnya pada Kamis (21/8/2025). Usai menjenguk korban di RSUD dr. Koesnadi, Jumat (22/8/2025), ia menegaskan pentingnya peran guru bimbingan konseling (BK) dalam mencegah terulangnya kejadian serupa.
“Ini kejadian murni unpredictable, di luar prediksi. Maka kemudian kita sudah perintahkan ke Dinas Pendidikan untuk melakukan mitigasi agar tidak terulang. Guru BK harus lebih aktif melakukan pendekatan-pendekatan internal,” ujarnya kepada BeritaJatim.com.
Fathur Rozi menjelaskan, salah satu faktor pemicu tindak kekerasan adalah kurangnya perhatian orang tua. Anak-anak yang tidak mendapat perhatian penuh, menurutnya, berpotensi melakukan perbuatan negatif.
“Mitigasi ini dari awal harus dilakukan. Jangan sampai ada benda tajam di sekolah. Komunikasi juga harus dibangun dengan baik, bimbingan konseling ke siswa perlu dimasifkan lagi. Insya Allah ini langkah antisipasi ke depan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti perundungan atau bullying yang disebut memiliki banyak bentuk. Menurutnya, perundungan verbal justru berdampak lebih panjang dibandingkan fisik. “Kita sudah melakukan langkah-langkah pencegahan walaupun tidak bisa 100 persen meniadakan. Tapi kita harus bisa memilah antara bercanda dengan bullying, jangan sampai salah kaprah,” imbuhnya.
Diketahui sebelumnya, seorang siswa kelas VII SMP negeri di Bondowoso menikam teman sekelasnya menggunakan cutter pada Kamis (21/8/2025) pagi. Dugaan sementara, pelaku yang merupakan anak yatim dengan kondisi hidup memprihatinkan, melakukan aksi itu setelah kerap menerima bullying dari korban.
Insiden bermula dari cekcok yang terjadi beberapa waktu sebelumnya, hingga berujung penusukan di bagian perut korban. [awi/beq]






