Magetan (beritajatim.com) – Manusia silver, badut, dan pengamen jalanan yang beroperasi di sejumlah traffic light di Magetan ternyata bukan warga asli Magetan. Hal itu diungkapkan oleh RJ warga Desa Bulu, Sukomoro, Magetan. Dia menceritakan jika dia sempat ngobrol dengan salah satu manusia silver yang pernah beroperasi di perempatan Bulu.
Manusia silver dan badut kerap beroperasi di jam-jam tertentu. Seperti saat sore di hari kerja, dan mulai pagi hingga menjelang malam saat akhir pekan. Mereka beroperasi di jam-jam saat Satpol PP dan Damkar Magetan sudah tidak dalam jam kerja. Pun, saat akhir pekan Satpol PP pasti libur.
“Kalau di harinkerja gitu biasanya beroperasi jam 15.00 WIB sampai agak malam. Ketika, akhir pekan, beroperasi sejak pagi hari mulai sekitar pukul 08.00 WIB sampai 17.00 WIB. Itu jam-jam atau waktu ketika Satpol PP pasti sudah di luar jam kerja. Jadi mereka akan merasa bebas,” kata RJ tanpa mau disebut namanya secara lengkap.
Pria 35 tahun itu juga menjelaskan jika pendapatan mereka bisa mencapai Rp 500 ribu ketika akhir pekan. Sementara, saat hari biasa sekitar Rp 80 ribu. Perempatan Bulu jadi lokasi favorit karena waktu lampu merah lebih lama ketimbang traffic light lain.
[berita-terkait number=”4″ tag=”manusia-silver”]
“Kalau agak lama kan mereka bisa ngamen agak lama. Banyak yang ngasih juga. Ya ini sekadar pengetahuan aja, pendapatan mereka dalam seminggu bisa mencapai Rp 1 juta rupiah,” katanya.
Dia ingin pengguna jalan yang lewat agar mengetahui sebesar itulah pendapatan manusia silver, badut, ataupun pengamen. Soal pengguna jalan mau memberi atau tidak, dia mengembalikan keputusan itu pada pengguna jalan.
“Ya, sebagai warga Bulu sini, saya agak resah dengan mereka. Kami mengharap Satpol PP dan Damkar lebih sering patroli saat akhir pekan ya. Meski sempat digaruk sama Satpol PP mereka ini tetap kembali ngamen di sana,” kata RJ.
Sementara itu, Kasatpol PP dan Damkar Rudy Harsono mengungkapkan jika pihaknya akan terus memantau. “Kami masih akan pantau terus,” katanya. [fiq/but]






