Magetan (beritajatim.com) – Mantan Wakil Ketua DPRD Magetan Sofandi mengkritisi Pemkab Magetan. Kali ini, Pasar Sayur Magetan dianggap sudah usang. Lantaran, sejak 15 tahun tak ada pembangunan atau rehab menyeluruh di pasar yang terletak di Kelurahan Sukowinangun, Kecamatan/Kabupaten Magetan itu.
Pasar dengan total pedagang sekitar 1.000 lebih itu sudah rusak di beberapa titik. Bahkan, saat musim penghujan lalu, pedagang sempat mengeluhkan atap bocor. Selain itu, akses jalan masuk sudah rusak parah. Aspal sudah mengelupas.
“Sudah tiga kali pergantian bupati Pasar Sayur tetap begini begini saja. Semestinya dalam kurun waktu 15 tahun ada pembangunan pada pusat ekonomi ini. Sehingga para pelaku usaha merasa nyaman dan semakin ramai, jadi jujugan pembeli,” kata Sofandi, Sabtu (15/07/2023).
Menurutnya, Magetan tak lepas dari hasil pertanian berupa sayur mayur. Bahkan menjadi salah satu pusat penyangga suplai sayuran di Jawa Timur. Namun, sarana dan prasarananya minim dan usang. Punya pasar saja juga malah tak diperhatikan maksimal.
“Catatan kami, pembangunan di Kabupaten Magetan selama 15 tahun ini tidak terfokus. Jika pemerintah fokus tentunya dengan APBD yang terbatas akan cukup. Semisal tahun pertama fokuskan dulu pada infrastruktur dulu baru tahun kedua fokus pada wisata, tahun ketiga pada pembangunan pasar-pasar dan tahun ke empat seterusnya,” lanjut mantan legislator Partai Golongan Karya itu.
Sejauh ini, Pemkab Magetan hanya melakukan pembangunan kecil-kecil dan banyak. Sehingga anggaran tidak terfokus. Model pembangunan seperti itu membuat APBD sebesar apa pun tidak akan cukup.
“Fokuskan jalan dulu misal, jalan beres baru fokuskan infrastruktur pariwisata dan seterusnya. Maka akan kelihatan pembanguan itu. Bukankah APBD itu dari rakyat untuk rakyat, pegunaanya ya untuk kepentingan rakyat untuk kesejahteraan rakyat. Pembangunan pasar sayur semestinya jadi prioritas,” katanya.
Terpisah, Rudi Setiawan, aktivis Swastika turut menambahkan, jika pemerintah serius ingin meningkatkan taraf ekonomi, maka pasarnya bisa menjadi tolok ukur.
“Jika memang fisik pasar sulit dibangun minimal bangun kesehatan perekonomian para pedagangnya. Bagaimana bicara kebangkitan ekonomi bila para pelakunya tidak sehat, dalam hal ini permodalan. Banyak pelaku usaha pasar terjerat rentenir dalam permodalan. Pemerintah hadirlah dalam permodalannya,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Ojek Ibu Hamil di Magetan Miliki 485 Driver, Bidan Ini Inisiatornya
Jika pemerintah serius ingin memperbaiki pasar sayur secara fisik dan pengelolaanya tidaklah terlalu sulit. Pemerintah punya duit punya fasilitas diberikan undang undang untuk melaksanaanya. Kemudian, lobby politik di pusat yang juga harus gencar. Jika selama ini tak ada proyek yang lebih dari Rp50 miliar, khususnya untuk membangun pasar.
“Kemudian sudah study sana sini bilang membangun pasar sulit karena membutuhkan biaya besar percuma memberikan gaji pada mereka. Coba lihat daerah lain bisa bangun pasar megah bisa kenapa kita tidak. Kenapa kok malah membuat hutan bambu sampai Rp50 miliar. Oke ngak papa, untuk masa depan, tetapi jangan lupa kita butuh makan saat ini. Jadi jangan begitulah pak, kita harus adil kepada rakyat,” pungkasnya. [fiq/but]






