Persebaya Surabaya mempertahankan tren positifnya dengan mengalahkan Madura United 1-0, di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, Sabtu (9/1/2025). Tidak pernah kalah dalam delapan pertandingan berturut-turut: dua kali menang, enam kali imbang.
Bruno Moreira mencetak gol ketujuhnya musim ini pada menit 73 setelah memperoleh bola dari Malik Risaldi dalam sebuah skema serangan cepat.
Kemenangan pekan ke-16 ini menempatkan Persebaya di peringkat ketujuh klasemen sementara dengan 25 angka. Terpaut 12 angka dari pemuncak klasemen Borneo FC, dan 15 angka dari Semen Padang yang berada di zona degradasi.
Seharusnya kemenangan itu dirayakan tidak dalam sunyi. Dalam sejumlah pertandingan derbi Suramadu sebelumnya, stadion selalu dipenuhi Bonek dan pendukung Madura United.
Namun kali ini panitia pelaksana memutuskan menggelar pertandingan tanpa penonton. Ketegangan di Surabaya antara masyarakat dengan organisasi masyarakat beridentitas etnis Madura menjadi alasan untuk melarang penonton masuk stadion.
Pertandingan tanpa penonton atau dalam kosakata sepak bola Liga Inggris adalah ‘behind the close door‘ bukanlah hal asing dalam sepak bola Indonesia. Selain pandemi Covid-19 yang menyebabkan pertandingan Liga Indonesia dalam satu musim tidak dihadiri penonton, faktor potensi gangguan keamanan selalu menjadi dalih pertandingan tertutup.
Potensi gangguan keamanan bisa berasal dari rivalitas antarpendukung seperti Persib dengan Persija atau Persebaya dengan Arema. Bisa berasal dari perhelatan politik (sesuatu yang janggall, karena demokrasi dianggap sebagai potensi gangguan keamanan). Bisa juga karena potensi kerusuhan di masyarakat.
Dalam iklim sepak bola profesional, pertandingan tanpa penonton jelas merugikan klub secara finansial. Selain mengandalkan pemasukan dari hak siar televisi, tiket pertandingan masih menjadi andalan klub di Indonesia. Sebuah pertandingan tanpa penonton bukan saja membuat klub kehilangan pemasukan, tapi juga menanggung kerugian, karena masih harus mengeluarkan biaya sewa stadion dan pengamanan.
Di luar urusan finansial, pertandingan tertutup Madura United melawan Persebaya justru memunculkan kesan bahwa ketegangan antara ormas dengan warga bersifat massif dan meluas menjadi urusan antaretnis.
Hari ini kita membutuhkan semua cara dan daya upaya untuk menunjukkan bahwa ketegangan di Surabaya tak terkait dengan konflik etnis. Pertandingan Persebaya melawan Madura United seharusnya bisa menjadi medium kampanye untuk meredakan ketegangan, sekaligus menegaskan bahwa konflik antara ormas dan masyarakat tak ada urusan sama sekali dengan problem etnis.
Selama bertahun-tahun Persebaya telah mempersatukan masyarakat Jawa Timur, termasuk Madura. Jumlah pendukung tradisional Persebaya di Pulau Madura juga cukup besar. Achasanul Qosasih, ‘godfather’ Madura United, adalah bagian dari Bonek yang mendukung Persebaya pada era Perseikatan. Hubungan antara pendukung Persebaya dan Madura United selama ini juga baik-baik saja.
Kita bisa membayangkan pendukung dua klub duduk berdampingan dan kemudian menunjukkan tindakan-tindakan simbolik penuh aura persaudaraan. Tentu dampaknya cukup besar.
Sayang kesempatan itu hilang. [wir]






