Ponorogo (beritajatim.com) – Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Ponorogo Nurhadi Hanuri angkat bicara terkait dengan atap SDN Nongkodono di Kecamatan Kauman yang roboh dan ditutupi terpal.
Sebenarnya pihak sekolah sudah mengajukan untuk dilakukan rehabilitasi pada tahun 2020 lalu. Dindik Ponorogo menindaklanjutinya dengan mengajukan anggaran perbaikan di SD tersebut lewat Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Pemerintah Pusat. Namun, untuk mengakses dana DAK itu, kata Nurhadi ada proses dan yang menentukan adalah Pemerintah Pusat.
“Analisis kami, untuk rehab di SDN Nongkodono ini, sampai sekarang atau tahun ini pengajuan rehab belum terealisasi,” kata Nurhadi, Selasa (23/8/2022).
Jadi sebelum terjadi atap roboh dan ditutupi terpal, Dindik Ponorogo sudah melakukan usaha untuk mendapatkan bantuan. Namun, dana yang diharapkan dari DAK, belum dikabulkan oleh Pemerintah Pusat.
Sementara, jika diusulkan lewat dana Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) pada Perubahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (P-APBD) 2022 juga tidak memungkinkan. Sebab, PAK sudah berjalan dan sudah ada penataannya. Sehingga belum bisa mencover rehabilitasi untuk SDN Nongkodono, sebab kejadian roboh atau rusaknya juga baru-baru ini.
“Karena kejadiannya juga baru-baru ini. Dana PAK belum mencover untuk rehab di SDN Nongkodono. Sebab, PAK sudah berjalan dan sudah ada penataannya,” ungkap Nurhadi.
Dindik Ponorogo, kata Nurhadi mempunyai solusi jangka pendek untuk melakukan rehabilitasi di SDN Nongkodono ini. Yakni dengan menggunakan limpahan kayu-kayu dari SDN 4 Krebet Kecamatan Jambon.
Kebetulan di SD tersebut, tahun ini mendapatkan dana rehabilitasi, dan kayu atau bahan lainnya masih cukup bagus. Sehingga bisa digunakan untuk atap SDN Nongkodono yang saat ink ditutupi terpal.
“Jadi barang-barang yang di SDN 4 Krebet yang masih bisa dipakai, akan kita mintakan ke bidang aset, agar dihibahkan atau dipakai di SDN Nongkodono,” pungkasnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ponorogo”]
Untuk diketahui, Atap dua ruangan untuk kelas 4 dan 5 di SDN Nongkodono roboh. Sehingga pihak sekolah menutupi dua ruangan itu dengan terpal. Kepala SDN Nongkodono Sutrisno mengungkapkan bahwa memang rangka atap di dua ruangan itu, atapnya ada yang sudah lapuk.
Setelah robohan atap itu dibersihkan, pihak sekolah menutupnya dengan terpal. Meski tidak dibuat kegiatan belajar mengajar, sesekali ruangan yang dipasangi terpal itu juga masih dipakai kegiatan lainnya.
“Setelah robohan atap itu dibersihkan, kita inisiatif untuk ditutupi dengan terpal. Soalnya ada beberapa kegiatan yang dilakukan di ruang tersebut. Misalnya untuk salat dhuha atau kegiatan lainnya,” katanya. (end/ted)






