Malang (beritajatim.com) – Minim jumlah siswa di alami SDN 3 Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Akibatnya, sekolah dasar yang berada di Malang Selatan itu terlihat lengang dan selalu sepi.
Meski lembaga sekolah tersebut memiliki 6 ruang belajar (Rumbel) atau ruang kelas, suasa sepi nampak terlihat. Kondisi ruang kelas juga kosong melompong dengan jumlah siswanya yang sangat terbatas.
Minimnya jumlah siswa ditempat itu, membuat satu ruang belajar atau ruang kelasnya, hanya di isi satu orang murid kelas 5 seorang.
Menanggapi kenyataan itu, Kepala SDN 3 Sumberagung Shofwan S.Pd, Selasa (4/4/2023) menjelaskan, meski sepi murid, pihak komite sekolah dan Pemerintah Desa (Pemdes) Sumberagung tetap mempertahankan keberadaan lembaga sekolah yang berdiri sejak puluhan tahun silam ini.
“Ketika kami mendampingi komite dan Perwakilan Kades Sumberagung menghadap Dispendik Kabupaten Malang, mereka menolak sekolah itu untuk di marger,” tegas Shofwan.
Kata Shofwan, alasan ditolaknya tawaran marger tersebut, pertama karena letak sekolah tempat mereka bergabung lumayan jauh dengan jarak tempuh sekitar 4,5 Km.
Lalu alasan selanjutnya, sambung Shofwan, jika lembaga itu dibubarkan, murid-murid yang berdomisli di seputaran sekolah akan pindah ke lembaga swasta.
“Kita tetap optimis untuk menaikan grafik Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Selain itu juga akan mendatangi RA atau TK terdekat untuk bekerja dalam hal kemajuan lembaga,” tuturnya.
https://beritajatim.com/pendidikan-kesehatan/35-sekolah-di-kota-malang-jadi-pilot-project-ekskul-e-sport/
Shofwan juga berjanji, akan meningkatkan kwalitas pendidikan dengan mengedepankan kegiatan ekstra kurikuler seperti Pramuka, dan giat-giat keagamaan yang terpantau oleh masyarakat.
Saat ini, lanjut Shofwan, SDN 3 Sumberagung terdiri dari 6 Ruang Belajar (Rumbel) atau ruang kelas. “Ada dua kelas yang kondisinya rusak. Satu ruang kelas akibat gempa bumi dan satu lagi karena plafon penyangga asbes sudah lapuk. Sambil menunggu perbaikan, untuk sementara siswa kelas 2 harus belajar disebelah ruang kantin. Tetapi jika dilihat dari statistik, ternyata dari tahun ke tahun sudah mulai ada perubahan kearah yang lebih baik,” ujar Shofwan.
Shofwan menambahkan, untuk jumlah siswa kelas 1 saat ini ada 8 anak. Sama halnya dengan siswa kelas 2. Sementara untuk siswa kelas 3, terdapat 2 orang anak. Kelas 4 ada 8 anak. Sedang kelas 5 hanya 1 anak dan kelas 6 ada 10 anak.
Di tempat yang sama, Fery seorang Guru kelas 5 yang hanya mengajar satu orang anak menjelaskan, meski dia hanya mengajar satu orang anak, dirinya mengaku tetap semangat seperti halnya guru lain di sekolah yang dominan jumlah muridnya.
“Nama siswa kelas 5 ini Nabila. Anaknya juga pandai. Dia juga semangat, meskipun belajar seorang diri diruang kelas ini, tak masalah yang penting kita terus semangat,” tegas Ferry mengakhiri. (yog/ted)






