Malang (beritajatim.com) – Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Malang Raya merayakan hari jadinya yang ke-10 dengan kemeriahan yang unik dan penuh makna. Mengusung tema “Malang Kota Bunga, Berwastra Nusantara”, perayaan dasawarsa ini digelar di AA Cafe & Resto, Tlogomas, Sabtu (31/1/2026).
Acara ini bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan sebuah pernyataan budaya bahwa kain tradisional seperti batik, tenun, hingga tapis, sangat relevan untuk gaya hidup modern sehari-hari.
Ketua Panitia HUT ke-10 KCBI Malang Raya, Indry Wahyuni K, SE, MSi, menjelaskan bahwa pemilihan tema bunga memiliki filosofi mendalam. Selaras dengan julukan Malang sebagai Kota Bunga, ia berharap semangat melestarikan budaya dapat mekar di semua kalangan.

“Makanya semua terlihat berbunga-bunga, mulai dari baju hingga dekorasi. Harapannya, dengan semangat ini, semua pihak mulai dari anak muda hingga senior bisa bersama-sama melestarikan budaya kita melalui wastra,” ujar Indry.
Senada dengan itu, Ketua KCBI Malang Raya, Dra. Siska Sayekti, SE, menekankan bahwa fokus komunitas ini adalah mengangkat derajat kain dalam negeri. Menurutnya, penggunaan kain nusantara berdampak langsung pada penguatan ekonomi kerakyatan.
“Kami fokus pada kain, baik itu batik, tenun, maupun tapis. Ini adalah produk dalam negeri yang harus kita dukung agar UMKM kita di Indonesia terus terangkat,” ungkap Siska.
Meski telah berusia 10 tahun, KCBI Malang Raya tidak menutup mata terhadap tantangan zaman. Dari total sekitar 170 anggota aktif, keterlibatan anak muda (Gen Z dan Milenial) baru mencapai angka 10 persen.
Siska Sayekti mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah memberikan edukasi bahwa berkain itu praktis dan nyaman, bukan sesuatu yang ribet atau hanya untuk acara formal.
“Kita harus bekerja keras menularkan semangat ini ke anak muda. Berkain itu nyaman untuk keseharian, bukan hanya untuk kondangan atau acara tertentu. Atasannya bisa bebas, pakai kaos atau blus pun jadi, yang penting bawahannya tetap kain nusantara,” jelasnya.
KCBI secara rutin memberikan tutorial berkain praktis untuk membuktikan bahwa wastra bisa menyesuaikan dengan mobilitas tinggi anak muda.
Perayaan HUT ke-10 ini berlangsung meriah dengan kehadiran sekitar 200 peserta. Menariknya, antusiasme tidak hanya datang dari Malang Raya, tetapi juga anggota dari Surabaya, Jember, Bali, hingga perwakilan dari Singapura.
Acara diawali dengan sambutan dari Kepala Bidang Kebudayaan yang mewakili Pj Wali Kota Malang, disusul dengan berbagai penampilan seni internal. Mulai dari tari tradisional dari Laras Batik dan Feby Antik, hingga Paduan Suara Dendang Nusantara dan Medley Suara KCBI.
Sri Endah Noviani, SH, MSc, Sekretaris KCBI Malang Raya, menambahkan bahwa seluruh pengisi acara berasal dari anggota komunitas sendiri.
“Ini semua dari kita untuk kita. Kami ingin menunjukkan bahwa anggota KCBI memiliki talenta luar biasa dalam menjaga napas budaya nusantara,” pungkasnya. (dan/but)






