Pamekasan (beritajatim.com) – Islamic Boarding School Padepokan Kiai Mudrikah Kembang Kuning (IBS PKMKK) Pamekasan, bekerja sama dengan paguyuban Wali Santri, meluncurkan program inovatif melalui budidaya ikan air tawar.
Budidaya tersebut dilakukan sebagai upaya memperkenalkan sekaligus mendidik para santri guna mewujudkan misi Santripreneur yang tidak hanya terfokus pada program pembelajaran akademik, tetapi juga pada aspek pengembangan keterampilan santri melalui program santripreneur.
“Program inovasi ini kita asli dengan cara menabur benih ikan air tawar dari beragam jenis, seperti lele, nila hingga gurami yang disebar di 10 kolam berbeda yang dikelola pesantren. Program tegar bibit ikan air tawar ini resmi dilaksanakan pada 1 Januari 2025,” kata Direktur Utama IBS PKMKK Pamekasan, Achmad Muhlis, Sabtu (4/1/2024).
Dalam program tersebut, pihaknya juga melibatkan wali santri yang tergabung dalam Paguyuban IBS PKMKK Pamekasan. “Program ini meliputi penaburan 3.5 ribu ekor lele, 3 ribu nila, dan seribu ekor gurami. Nantinya kita akan melakukan pemantauan intens selama empat hingga enam bulan ke depan, sehingga ikan yang sudah siap konsumsi dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi para santri,” ungkapnya.
“Tahapan selanjutnya pasca memperkenalkan pengelolaan ikan, nantinya kita masuk pada pengolahan ikan menjadi produk bernilai jual, sekaligus pemasaran hasil budidaya melalui kerja sama kelembagaan. Langkah ini kita ambil sebagai upaya mendukung terciptanya Santripreneur yang tidak hanya terfokus pada pembelajaran akademik semata,” imbuhnya.
Dalam konteks tersebut, pihaknya juga sangat berharap para santri dapat belajar mengelola bisnis budidaya ikan secara profesional, mengelola produk hasil perikanan, serta memasarkan hasil produk. “Program ini juga didukung Balai Latihan Kerja Pengolahan Hasil Laut PKMKK yang memiliki pengalaman pengolahan dan pemasaran produk perikanan,” sabung Muhlis.
“BLK ini juga berperan penting dalam memberikan pelatihan dan bimbingan untuk meningkatkan keterampilan santri, sekaligus menjalin kerja sama dengan lembaga atau perusahaan guna mengembangkan produk lebih lanjut,” sambung salah satu dosen IAIN Madura.
Tidak hanya itu, program tersebut juga menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat, khususnya para wali santri dalam mendukung pengembangan pesantren melalui kegiatan bernilai edukatif dan berkelanjutan. “Langkah ini menunjukkan bahwa IBS PKMKK telah melakukan langkah strategis dalam membangun kemandirian pesantren, serta memperkuat kolaborasi antara santri, wali santri, dan pihak pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan produktif dan berkelanjutan,” tegasnya.
“Sementara bagi para santri, kolam pesantren menjadi laboratorium hidup yang memungkinkan mereka belajar langsung tentang budidaya ikan, mulai dari teknik pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, hingga memahami siklus pertumbuhan ikan secara praktis. Mereka dipantau langsung oleh para guru, sehingga para santri tidak hanya memperoleh keterampilan teknis dalam budidaya ikan, tetapi juga belajar tanggung jawab, disiplin dan kerja sama dalam menjaga kelangsungan program ini,” jelasnya.
Tidak hanya itu, pihaknya berharap para santri nantinya dapat meningkatkan keberlanjutan sumber daya alam. “Kita harap kolam pesantren ini dapat menjadi sumber gizi yang mendukung kebutuhan para santri, serta menjadi contoh sukses kolaborasi antara pesantren dan masyarakat,” harapnya.
“Dengan mengintegrasikan proses budidaya, pengolahan, dan pemasaran, program ini membuka peluang bagi santri untuk menjadi santripreneur yang inovatif, berwawasan lingkungan, dan siap bersaing di pasar global,” pungkasnya. [pin/ian]






