Malang (beritajatim.com) – Salah satu rangkaian acara Festival Sastra kota Malang (FSKM) bertajuk Santap Gagasan yang mengusung tema Sajian Gastronomi dalam Puisi-Puisi Indonesia. Acara ini berlangsung di Lahan Sastra Critasena Coffee, Malang pada Jumat (27/9/2024).
Acara ini menghadirkan Michael Djayadi sebagai moderator, serta dua narasumber, Hasta Indriyana dan Rozi Kembara. Dengan tema tersebut narasumber mengeksplorasi hubungan antara gastronomi dan puisi Indonesia. Dua bidang yang pada pandangan pertama mungkin tampak terpisah, tetapi ternyata memiliki keterkaitan yang kuat dalam memori, simbolisme, dan identitas budaya.
Michael Djayadi mengarahkan perhatian peserta pada esensi utama diskusi: bagaimana makanan dan kuliner terintegrasi dalam karya-karya puisi Indonesia. Michael menyebutkan bahwa tema Santap Gagasan kali ini merupakan sebuah upaya untuk memperluas pemahaman kita tentang gastronomi dalam konteks yang lebih dari sekadar makanan.
“Kuliner bukan hanya soal rasa dan gizi, tetapi juga identitas budaya dan kenangan masa lalu,” ujar Michael. Ia melanjutkan dengan menyebutkan bahwa puisi sering kali menjadi medium yang kaya untuk menyampaikan lapisan-lapisan makna di balik sebuah sajian kuliner.
Hasta Indriyana: Kuliner dalam Puisi dan Kenangan
Hasta Indriyana, membuka diskusi dengan pandangan reflektif tentang peran makanan dalam puisi, terutama dalam kaitannya dengan memori dan pengalaman pribadi. Menurut Hasta, puisi yang mengangkat tema kuliner sering kali bukan semata-mata tentang makanan, tetapi lebih pada ikatan emosional dan kenangan yang melekat di baliknya.
“Di banyak rumah, perempuan sering kali menjadi sosok yang memasak, sementara di restoran, kita sering menemukan banyak koki laki-laki. Hal ini menimbulkan pertanyaan—mengapa peran gender dalam memasak begitu berbeda di ruang domestik dan profesional?” katanya.
Hasta menjelaskan bahwa makanan di meja makan rumah bukan sekadar soal perut kenyang, tetapi juga tentang kebersamaan, ikatan keluarga, dan bahkan beban masa lalu yang dihidangkan kembali dalam setiap sajian.
“Kuliner membawa kita kembali ke momen-momen penting dalam hidup, seperti kebersamaan di meja makan, kenangan bersama orang-orang tercinta, atau bahkan rasa kehilangan dan nostalgia. Itulah mengapa puisi sering kali menyentuh aspek kuliner, karena di dalamnya terkandung cerita hidup manusia,” jelasnya.
Menurut Hasta, tema kuliner dalam puisi bisa mencakup berbagai aspek, mulai dari alat-alat masak, jenis-jenis makanan, hingga kenangan yang menyertainya. Ia menambahkan bahwa puisi yang menyentuh tema makanan sebenarnya menggali lebih dalam tentang simbolisme kehidupan, di mana makanan menjadi media untuk menyalurkan pengalaman, ideologi, dan cita-cita.
Rozi Kembara: Makanan, Sejarah, dan Budaya dalam Puisi
Rozi Kembara memiliki perspektif yang berbeda tetapi saling melengkapi. Ia menyoroti peran sejarah dan budaya dalam kuliner yang diangkat dalam puisi. Rozi mengisahkan pengalamannya mencoba berbagai makanan unik dari berbagai daerah, dan bagaimana makanan tersebut memiliki hubungan erat dengan identitas serta sejarah masa lalu masing-masing daerah.
Salah satu contoh yang diangkat Rozi adalah kopi luwak, yang memiliki sejarah kelam dari masa tanam paksa kolonial Belanda. “Kopi luwak, yang kini menjadi salah satu kopi paling mahal di dunia, dulunya adalah hasil dari eksploitasi tenaga kerja di masa kolonial.
Para petani dipaksa untuk memungut biji kopi dari kotoran luwak, sebuah praktik yang sekarang justru dianggap eksotis dan bernilai tinggi. Namun, di balik itu semua, ada sejarah penindasan dan perjuangan,” jelas Rozi.
Rozi juga menyoroti makanan serangga yang umum dikonsumsi di Vietnam. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut berakar dari sejarah survivalisme masyarakat Vietnam selama masa komunisme, ketika sumber daya makanan sangat terbatas.
Selain itu, ia membahas tentang kecap manis yang merupakan hasil persilangan budaya antara Indonesia dan Cina, dengan kecap asin sebagai produk asli budaya Cina.
“Makanan sering kali membawa kita pada narasi budaya yang lebih besar. Ini bukan hanya soal apa yang kita makan, tetapi juga tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan sejarah panjang yang membentuk kita,” kata Rozi.
Rozi merujuk pada contoh puisi internasional yang mengangkat tema kuliner, seperti karya Pablo Neruda, Ode to Tomatoes. Puisi tersebut, menurut Rozi, menunjukkan bagaimana makanan bisa menjadi simbol kehidupan dan kematian, musim dan siklus alam.
“Bawang, mampu membuat menangis tanpa menyakiti. Hanya Neruda sebagai penyair yang mampu memersonifikasi bawang dengan begitu puitis,” kata Rozi mengutip puisi Pablo Neruda sekaligus memberi makna.
Ia menambahkan bahwa meski tema kuliner jarang diangkat dalam puisi Indonesia, para sastrawan Indonesia tetap berhasil mengeksplorasi berbagai makna simbolik dari makanan, meski tidak selalu secara eksplisit. “Sastrawan Indonesia sangat luar biasa dalam menyampaikan makna-makna simbolik melalui makanan, meskipun tema kuliner tidak selalu menjadi fokus utama,” ujarnya.
Ia juga menekankan kaitan antara makanan dan kekuasaan dalam sejarah Indonesia. Salah satu contoh yang ia berikan adalah cerita tentang raja pertama Kerajaan Mataram, yang konon terpilih karena peran makanan, tepatnya air kelapa.
“Hubungan antara makanan dan kekuasaan bukan hal yang baru. Sejarah mencatat banyak momen penting di mana makanan memiliki pengaruh besar terhadap jalannya kekuasaan,” tambahnya.
Michael Djayadi kembali mengambil alih setelah pernyataan Rozi dan menyimpulkan bahwa makanan, selain sebagai kebutuhan fisik, juga memiliki peran penting dalam mencerminkan identitas budaya suatu masyarakat. Ia menyoroti bagaimana gastronomi masuk ke ranah urban dan menjadi simbol dari perkembangan budaya kota-kota besar.
Michael juga menambahkan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki cita rasa yang berbeda, baik itu manis, asin, maupun asam, yang tidak hanya dipengaruhi oleh bahan makanan lokal, tetapi juga oleh sejarah dan budaya setiap daerah.
“Misalnya, cita rasa makanan Madura yang cenderung asin mungkin dipengaruhi oleh letak geografisnya yang berada di wilayah pesisir. Makanan adalah refleksi dari lingkungan, tradisi, dan sejarah lokal,” ujar Michael.

Ia menyinggung tentang bagaimana makanan sering kali dikaitkan dengan liturgi dan ritual keagamaan, serta bagaimana kenangan pribadi terhadap makanan tertentu bisa membangkitkan ingatan kolektif suatu komunitas atau masyarakat.
“Dalam banyak tradisi, makanan selalu memiliki peran penting dalam upacara keagamaan, mulai dari persembahan hingga makanan ritual. Ini menunjukkan bagaimana makanan, ingatan, dan identitas saling terkait,” katanya.
Di akhir acara, Michael meminta kedua narasumber untuk memberikan pernyataan penutup mereka. Hasta Indriyana menyampaikan bahwa dalam gastronomi, tidak hanya terdapat puisi, tetapi juga banyak ideologi dan cita-cita yang belum banyak dikaji lebih mendalam.
“Makanan bukan hanya sesuatu yang kita konsumsi untuk bertahan hidup, tetapi juga membawa banyak makna ideologis. Ada banyak ruang yang bisa dieksplorasi, baik dalam puisi maupun dalam kajian gastronomi itu sendiri,” ujar Hasta.
Rozi Kembara, dalam pernyataan penutupnya, mengungkapkan harapannya agar tema kuliner lebih sering diangkat dalam puisi Indonesia. Ia berharap para sastrawan Indonesia lebih berani mengeksplorasi tema makanan, karena makanan memiliki kaitan erat dengan kehidupan, sejarah, dan budaya.
“Saya berharap makanan tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang kita makan untuk hidup, tetapi juga sebagai sesuatu yang bisa kita eksplorasi lebih jauh, terutama dalam puisi. Ada begitu banyak cerita, kenangan, dan makna di balik setiap hidangan,” tutup Rozi. (dan/ian)






