Ringkasan Berita:
- SAE Paswangi Lapas Kelas IIA Banyuwangi ditunjuk sebagai pusat penyuluhan pertanian oleh Dispertan Banyuwangi.
- Kelompok tani dari berbagai wilayah mengikuti penyuluhan yang dipandu petugas Dispertan.
- Warga binaan yang menjalani program asimilasi turut memperoleh ilmu pertanian modern.
- Program ini diharapkan menjadi bekal keterampilan bagi warga binaan setelah bebas.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi milik Lapas Kelas IIA Banyuwangi tidak hanya menjadi wadah pembinaan bagi warga binaan. Lahan yang terletak di Kelurahan Pakis itu kini juga dipilih oleh Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi sebagai pusat penyuluhan bagi kelompok tani dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyuwangi.
Kegiatan penyuluhan dipandu oleh para petugas penyuluh dari Dispertan Banyuwangi. Lokasi tersebut dipilih karena dinilai representatif dan ideal untuk memberikan gambaran nyata atau pilot project mengenai tata kelola pertanian yang produktif dan terintegrasi kepada para petani.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIA Banyuwangi, Solichin, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas kepercayaan dari Dispertan Banyuwangi yang telah menunjuk SAE Paswangi sebagai lokasi edukasi lintas sektor.
“Kami sangat berterima kasih atas penunjukan SAE Paswangi ini. Kerja sama ini memberikan dampak ganda yang sangat positif. Tidak hanya bagi kelompok tani luar, tetapi ilmu yang disampaikan oleh para penyuluh Dispertan otomatis juga terserap oleh para warga binaan yang sedang menjalani program asimilasi di sini,” ujarnya.
Solichin mengaku, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan penyuluhan tersebut sejalan dengan visi utama pendirian SAE Paswangi. Dengan memperoleh ilmu pertanian modern secara langsung dari para penyuluh, warga binaan diharapkan memiliki bekal keterampilan yang lebih matang dan siap diterapkan setelah kembali ke masyarakat.
“Ini sangat sesuai dengan tujuan awal SAE Paswangi, yaitu sebagai wadah pembinaan untuk mendongkrak skill atau keterampilan kemandirian warga binaan, baik di sektor pertanian maupun perikanan. Kami ingin saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tidak hanya membawa kesadaran baru, tetapi juga keahlian nyata yang produktif,” jelasnya. [alr/beq]






