Itqon Syauqi masih ingat hari-hari itu, semasa kuliah Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga di Jogjakarta. Kegandrungannya membaca buku mendadak meningkat setelah gempa bumi di Jogjakarta pada 2006. Saat itu Itqon menjadi salah satu relawan yang ikut membantu evakuasi warga korban bencana. Membaca buku adalah bagian dari terapi pasca bencana.
“Sampai gandrungnya kepada buku, saya sampai tidak bisa tidur kalau belum baca 100 halaman buku,” kata pria yang saat ini menjabat Ketua DPRD Jember, Jawa Timur, itu.
Itqon melahap karya-karya Ignas Kleden, Catatan Pinggir Goenawan Mohamad, Almaududi, Fazlurrahman, jurnal Prisma, dan esai-esai Bentara Budaya Harian Kompas. “Saya seperti punya utang. Di sela-sela itu, saya masih membaca kumpul cerpen Kompas dan kadang-kadang kumpulan puisi Joko Pinurbo,” katanya.
“Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer versi penerbitan Hasta Mitra saya baca sampai tiga kali. Sampai bukunya lecek. Saya khatam baca buku terjemahan Religion of Java karya Clifford Geertz sampai tiga kali juga,” kata Itqon.
Itqon mengagumi detail dalam karya Geertz yang bercerita soal klasifikasi ketaatan beragama masyarakat Jawa dalam kategori santri, priyayi, dan abangan. Ia membandingkan klasifikasi itu dengan klasifikasi masyarakat Madura yang ditulis Latief Wiyata, dosen Universitas Jember.
“Saya semakin merasa tertantang untuk membaca Geertz lagi. Saya penasaran, Jember ini kan Pandalungan. Jawa tapi tidak Jawa, Madura tapi tidak Madura. Enaknya dibikin variabel seperti apa? Tapi ya namanya saja masih muda. Lebih besar semangatnya. Metodologi dan referensi masih lemah,” kata Itqon.
Hari ini, setelah terjun ke dunia politik, kebiasaan membaca masih tak ditinggalkan Itqon. “Kalau saya stres, pelampiasan saya adalah membaca novel atau kumpulan cerpen. Saat ada kegaduhan politik tempo hari, saya ke toko buku dan menemukan buku Aroma Karsa karya Dewi Lestari. Saya tahu Aroma Karsa pernah dapat penghargaan. Saya ambil dan bayar buku itu. Dua hari selesai baca. Jadi saya menikmati betul isinya,” katanya.
“Sekarang terus terang untuk baca buku-buku bertopik berat masih ngos-ngosan, karena beban kerja saya. Jadi saya cenderung baca buku yang ringan. Saya sebenarnya kangen baca buku-buku bertema berat, terutama terkait disiplin ilmu yang pernah saya dalami soal imu tafsir, ilmu hadits, hermenutika, dan semantik,” kata Itqon.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dprd-jember”]
Itqon baru menyelesaikan skripsi pada semester 14 alias tujuh tahun kuliah. “Skripsi saya, menurut dosen pembimbing saya, termasuk kategori tema berat. Beliau bilang: sudah cari yang lain, tema ini terlalu berat. Waktu itu saya memilih penelitian hermeneutika pemikiran Abu Fadl (Khaled Abou El Fadl), seorang pemikir liberal posmodernisme,” katanya.
“Memang berat. Buku Abu Fadl yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia baru ada tiga kalau tidak salah. Yang lainnya teks bahasa Inggris semua. Tapi saya tertantang. Saya print seluruh artikel Abu Fadl di internet, saya kumpulkan. Alhamdulillah skripsi saya selesai,” kata Itqon.
Saat ini koleksi buku Itqon sudah mencapai dua ribuan judul yang disimpan di tiga lemari. “Saya tidak pernah hitung pastinya,” katanya. [wir/but]






