Ada banyak jalan menuju Roma. Ada banyak jalan menuju kemenangan. Budi Wicaksono, calon legislator petahana Partai Nasional Demokrat, kembali terpilih untuk ketiga kalinya menjadi anggota DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, karena ‘mengakrabi’ kematian.
Budi adalah calon legislator di Daerah Pemilihan Jember 2 yang meliputi Kecamatan Panti, Sukorambi, Rambipuji, Patrang, dan Arjasa. Ia sudah menjadi anggota DPRD Jember sejak 2014.
Dengan mengantongi dukungan 9.640 suara dalam pemilu kali ini, keberhasilan Budi untuk kembali melenggang ke Jalan Kalimantan 86 tidak lepas dari kesabarannya merawat konstituen yang tak banyak diperhatikan caleg lain.
“Pemilu kali ini lebih kanibal daripada pemilu lima tahun sebelumnya. Tapi kalau punya ‘tanaman’, tidak usah pakai begitu (politik uang, red), insyaallah bisa terpilih,” kata Budi.
‘Tanaman’ yang dimaksud Budi adalah investasi sosial kemasyarakatan. Namun tidak semua ‘tanaman’ ampuh untuk merawat konstituen. “Investasi sosial seperti membangun infrastruktur dan menyediakan perangkat untuk fasilitas kepentingan umum lebih mengena daripada memberikan sumbangan uang untuk acara Agustusan,” katanya.
Di tengah pertarungan politik yang ketat, Budi menciptakan ceruknya sendiri. Sejak awal 2019, ia mendekati organisasi rukun kematian dan ibu-ibu pengajian muslimah yang banyak mengurus jenazah setiap ada kabar lelayu di masyarakat. “Kalau 2014, saya berfokus membantu warga untuk membangun infrastruktur jalan,” katanya.
Budi melakukan hal sederhana yang sering tak terpikirkan oleh para caleg. Ia menyediakan barang-barang kebutuhan pemakaman secara cuma-cuma, seperti pacul dan kayu papan yang dipasang sebagai dinding dalam lubang kuburan. “Tinggal ambil di rumah,” katanya.
“Kalau uang bantuan Rp 1 juta diberikan, yang menikmati tidak semua orang. Tidak akan merata. Tapi kalau kita beli keranda dengan harga Rp 4 juta, tidak akan ada masyarakat yang ingin memakai lebih dulu,” kata Budi. Dengan kata lain, bantuan seperti keranda itu akan lebih awet untuk dimanfaatkan masyarakat.
Budi memutuskan merawat konstituen dari rukun kematian karena pemerintah tak banyak memperhatikan mereka. “Tidak ada dinas urusan kematian. Yang ada Dinas Sosial dan Bagian Kesejahteraan Rakyat. Investasi Pemerintah Kabupaten Jember untuk urusan kematian warga ini relatif kecil. Paling banter mengantarkan jenazah. Karena tidak ada yang menaungi, saya naungi sendiiri,” katanya.
Cara ini efektif karena pada akhirnya Budi diingat sebagai sosok yang ringan tangan membantu warga dalam suasana duka dan loyalitas pun tercipta. “Kalau acara kawinan, semua sudah terjadwal dan semua yang dibutuhkan tersedia. Tapi kalau urusan kematian, kemudian kita menyiapkan terop, piring untuk makan saat tahlil, dan hal-hal terkait lainnya, orang akan terharu. Mau diganti uang berapapun untuk nyoblos yang lain, mereka tidak akan mau,” katanya.
“Orang merasa berdosa atau takut kalau tidak memilih saya dalam pemilu, karena kuburan almarhum anggota keluarganya memakai kayu yang saya berikan. Hatinya melekat kepada saya selamanya,” tambah Budi.
Apalagi setiap kali ada proses pemakaman, Budi senantiasa mengupayakan diri untuk hadir. “Kalau di radius tiga sampai empat kilometer dari rumah, saya hadir. Kalau jauh, saya datang sehari sesudah pemakaman. Pokoknya ada kebutuhan, saya bantu. Tidak semua minta kayu. Ada yang minta terop, genset, sound system. Setiap kelompok berbeda permintaannya,” katanya.
Budi saat ini membina kurang lebih 40 rukun kematian dan 30 kelompok pengajian muslimah di tujuh desa Kecamatan Panti dan Rambipuji, seperti Pakis, Kemuning, Panti, Gugut, Glagahwero, Suci, dan Badean. “Ibu-ibu muslimah ini membantu pemandian jenazah sebelum dimakamkan,” katanya. Diperkirakan dari ceruk ini saja, ia bisa memperoleh kurang lebih tujuh ribu suara di Dapil Jember 2.
Setelah terpilih, Budi berjanji akan membantu pengadaan barang-barang untuk proses pemakaman yang bersumber dari APBD Jember, seperti terop dan keranda. “Setiap rukun kematian harus full set,” katanya. [wir]






