Surabaya (beritajatim.com) – RSTKA (Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga) berlayar ke Pulau Kangean, Kabupaten Sumenep Madura untuk menanggulangi penyakit Tuberculosis (TBC) di wilayah setempat.
Staf RSUD dr Soetomo dr Arif Bakhtiar, SpP(K) FAPSR mengatakan bahwa penularan TBC salah satunya dapat melalui batuk. Ini merupakan kondisi pertama yang harus diwaspadai saat terjadinya TBC.
“Bisa jadi cara penularannya adalah dari kondisi anggota keluarga yang memiliki batuk berkepanjangan,” kata dr Arif saat Pembukaan Bhakti RSTKA 2024 ‘Pulau Bebas TBC’, ditulis Minggu (2/6/2024).
TBC sendiri merupakan salah satu penyakit menular yang harus diwaspadai. Pasalnya, penyakit ini dapat berakibat fatal jika tidak mendapat penanganan yang tepat.
Melansir laman Dinkes Jatim, berdasarkan skrining TBC melalui aplikasi E-TIBI periode Maret 2023 – Maret 2024, diketahui ada 3.297 orang bukan terduga TBC, 685 orang terduga TBC, dan 217 orang kontak dengan pasien TBC.
Sementara itu, Direktur RSTKA dr Agus Harianto SpB menyebut, tahun ini pihaknya mengangkat tema ‘Cinta Putih’ dengan harapan dapat melayani masyarakat dengan penuh kasih dan hormat
Ia mengatakan, RSTKA menggunakan strategi pentahelix dalam menjalankan programnya. Strategi ini melibatkan peran pemerintah, tokoh masyarakat, tenaga pengajar, pengusaha, dan jurnalis untuk mengatasi TBC.
“Pentahelix tidak hanya mengandalkan satu tenaga kesehatan saja, sehingga tercipta sebuah tali yang kuat harus melibatkan berbagai pihak,” jelas dr Agus.
Hal yang bisa dilakukan oleh melalui strategi pentahelix, lanjut dia, adalah dengan membangun tracing pasien. Menurut dia, biasanya untuk menangani satu pasien bisa melibatkan banyak pihak.
“Pendampingan juga perlu dilakukan untuk mengawasi pasien yang terjangkit TBC. Selain itu, kita juga perlu melakukan sosialisasi terkait pola hidup untuk mencegah penularan TBC,” imbuhnya.
Sedangkan salah satu upaya untuk mencegah penularan TBC adalah program isolasi mandiri. Program isolasi mandiri yang produktif ini, kata dia, merupakan sebuah program yang sedang dilakukan uji coba.
“Jika program ini berhasil, maka akan membawa hasil yang besar. Saat masyarakat melakukan isolasi mandiri yang produktif, mereka akan dapat menurunkan resiko penularan TBC,” ungkapnya.
Ia menambahkan, dengan melakukan isolasi mandiri, pasien terutama laki-laki akan memiliki aktualisasi diri. Dengan harapan, pasien tidak akan menganggap penyakit sebagai sebuah musibah atau aib.
Selain itu, diharapkan seluruh elemen dapat saling membantu dalam pengembangan usaha yang cocok untuk pasien TBC dengan sedikit kontak fisik. “Kita harus sama-sama memikirkan bagaimana cara yang cocok untuk mengembangkan usaha untuk pasien,” tandasnya. [ipl/suf]






