Yogyakarta (beritajatim.com)- Kesuksesan tidak lahir secara instan. Fondasinya harus dibangun sejak usia dini melalui pembentukan pola pikir, pengelolaan emosi, dan kemampuan berempati. Pesan inilah yang disampaikan Guru Besar Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Puji Lestari, S.IP., M.Si., melalui konsep Teori Komunikasi Hati yang dikembangkannya.
Teori tersebut pertama kali diperkenalkan dalam pidato pengukuhan guru besar di Sidang Terbuka Senat UPN Veteran Yogyakarta pada 2 Maret 2023 dengan judul Komunikasi Hati: Oase Pengurangan Risiko Bencana Sosial dan Mental. Meski demikian penerapan teori ini masih sangat relevan digunakan hingga era sekarang.
Menurut Puji, komunikasi hati merupakan proses komunikasi yang terjadi dalam diri seseorang dengan menyelaraskan pikiran dan perasaan ke arah yang positif. Proses tersebut diyakini mampu melahirkan empati, ketenangan batin, sekaligus membentuk karakter yang kuat dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
“Komunikasi hati adalah proses menyelaraskan pikiran dan perasaan agar menghasilkan energi positif yang berdampak pada sikap dan perilaku seseorang,” ujarnya.
Empat Pilar Komunikasi Hati
Puji menjelaskan, teori yang dikembangkannya memiliki empat indikator utama yang saling berkaitan, yakni olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati.
Olah pikir menjadi langkah pertama. Setiap orang, kata dia, akan selalu dihadapkan pada pilihan antara pikiran positif dan negatif. Ketika seseorang mampu mengarahkan pikirannya pada hal-hal yang membangun, maka akan lahir perasaan positif yang kemudian membentuk sikap dan perilaku yang baik.
Perilaku positif yang dilakukan secara konsisten akhirnya berkembang menjadi kebiasaan. Kebiasaan tersebut akan membawa seseorang berada dalam lingkungan sosial yang sehat sehingga membuka lebih banyak peluang untuk berkembang.
Sebaliknya, pikiran dan perasaan negatif akan membentuk sikap negatif yang pada akhirnya memengaruhi perilaku sehari-hari.
“Orang yang selalu berpikir negatif cenderung melihat keburukan orang lain. Akibatnya mereka sulit membangun hubungan sosial yang sehat,” jelas dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta tersebut.
Dimulai dari Lingkungan Keluarga
Puji menilai keluarga merupakan tempat terbaik untuk menerapkan komunikasi hati.
Perbedaan karakter antara anggota keluarga tidak seharusnya menjadi sumber konflik, melainkan kesempatan untuk saling belajar. Misalnya, pasangan dengan kebiasaan yang berbeda dapat menjadikan perbedaan tersebut sebagai motivasi untuk berkembang.
Ia mencontohkan pasangan yang memiliki tingkat kedisiplinan berbeda. Alih-alih saling menyalahkan, perbedaan itu dapat dimaknai sebagai dorongan untuk memperbaiki diri.
Pendekatan serupa juga penting diterapkan kepada anak-anak, terutama di tengah derasnya arus media sosial.
Menurutnya, anak perlu dibimbing agar mampu memilih konten yang memberikan inspirasi, menambah pengetahuan, serta membangun motivasi, bukan justru menghabiskan waktu pada konten yang berdampak negatif bagi perkembangan diri.
Melatih Anak Mengelola Emosi
Selain membangun pola pikir positif, Puji menekankan pentingnya melatih anak mengelola emosi melalui olah rasa.
Anak perlu belajar bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi secara instan. Orang tua dapat menjelaskan alasan di balik setiap keputusan sehingga anak memahami pentingnya mempertimbangkan kebutuhan bersama.
Melalui proses tersebut, rasa kecewa maupun iri dapat diubah menjadi motivasi untuk berkembang dan belajar lebih mandiri.
Menurutnya, kemampuan mengelola emosi sejak dini akan membentuk pribadi yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Empati Membentuk Lingkungan yang Harmonis
Indikator berikutnya adalah empati.
Puji menilai empati bukan sekadar memahami perasaan orang lain, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Ia mengaku banyak pengalaman hidup yang memperkuat keyakinannya terhadap pentingnya empati, mulai dari membantu teman yang sakit saat kuliah hingga merawat anggota keluarga yang membutuhkan pendampingan.
Pengalaman tersebut memberikan pelajaran bahwa kepedulian kepada sesama mampu menciptakan hubungan sosial yang lebih harmonis sekaligus menghadirkan kebahagiaan batin.
“Empati akan melahirkan kedamaian hati, baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” katanya.
Kedamaian Hati Jadi Penyeimbang Kehidupan
Aspek terakhir dalam teori komunikasi hati adalah kedamaian hati.
Puji menjelaskan bahwa kedamaian lahir ketika seseorang mampu menerima kenyataan, mensyukuri apa yang dimiliki, dan tidak terus-menerus mengejar harapan yang berada di luar jangkauan.
Kondisi tersebut membuat seseorang lebih tenang menghadapi tekanan hidup serta mampu berkomunikasi secara lebih bijaksana dengan lingkungan sekitar.
Menurutnya, komunikasi yang lahir dari hati akan lebih mudah diterima sehingga mampu menciptakan hubungan yang harmonis di keluarga, lingkungan kerja, maupun masyarakat.
Lahir dari Pengalaman Hidup
Teori komunikasi hati tidak hanya dibangun melalui penelitian akademik, tetapi juga berangkat dari pengalaman hidup Puji sendiri.
Ia tumbuh di keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai buruh bangunan sekaligus petani, sementara ibunya hanya menamatkan pendidikan dasar. Meski demikian, seluruh anak dalam keluarga tersebut berhasil menempuh pendidikan tinggi.
Baginya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa pola pikir positif, kerja keras, serta komunikasi yang dibangun dengan hati mampu mengubah masa depan seseorang.
Kini, Prof. Puji Lestari dikenal sebagai profesor pertama di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UPN Veteran Yogyakarta sekaligus profesor perempuan pertama di fakultas tersebut. Selain aktif meneliti bidang komunikasi kebencanaan, lingkungan, organisasi, dan lintas budaya, ia juga telah menulis sejumlah buku, di antaranya Teori Komunikasi Hati, Komunikasi Hati Oase Kebencanaan dan Kesuksesan, serta beberapa buku mengenai literasi digital dan pencegahan cyberbullying.
Menutup pesannya, Puji mengajak masyarakat, khususnya perempuan dan para ibu, untuk terus menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya.
“Ketangguhan dan perjuangan adalah milik setiap pribadi. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Teruslah menjadi inspirasi bagi anak-anak dan generasi penerus dengan tetap menjaga keseimbangan antara keteguhan dalam berkarya dan kelembutan hati dalam keluarga,” pungkasnya. [aje]






