Ngawi (beritajatim.com) – Hari pertama kegiatan belajar mengajar (KBM) tahun ajaran baru di SMP Negeri 1 Bringin, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, diwarnai kondisi yang memprihatinkan. Puluhan siswa terpaksa mengikuti pembelajaran di bawah ancaman atap ruang kelas yang nyaris roboh akibat kerusakan bangunan yang hingga kini belum mendapat perbaikan.
Kerusakan terjadi di enam ruang kelas yang digunakan siswa kelas VII, VIII, dan IX. Salah satu ruang kelas yang mengalami kerusakan cukup parah ditempati sekitar 30 siswa kelas IX. Demi menghindari risiko yang membahayakan keselamatan, pihak sekolah memindahkan sementara para siswa ke aula dan laboratorium sekolah. Sementara ruang lain akan dialihkan ke musala agar proses belajar tetap berlangsung.
Selain atap yang rusak, kondisi meja dan bangku belajar di enam ruang kelas tersebut juga dinilai sudah tidak layak digunakan. Padahal, SMP Negeri 1 Bringin saat ini memiliki 478 siswa yang membutuhkan ruang belajar yang aman dan nyaman.
Pihak sekolah mengungkapkan bahwa usulan rehabilitasi gedung sebenarnya telah diajukan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi sejak 2024. Namun hingga dimulainya tahun ajaran baru pada Senin (20/7/2026), belum ada realisasi perbaikan.
Kondisi tersebut membuat para siswa merasa khawatir selama mengikuti kegiatan belajar mengajar, terutama ketika memasuki musim penghujan yang berpotensi memperparah kerusakan bangunan.
Salah seorang siswi kelas IX, Valen Putri Maharini, mengaku tidak nyaman belajar di ruang kelas yang kondisinya rusak dan berharap pemerintah segera melakukan perbaikan. “Ya tidak nyamanlah untuk belajar, takutnya roboh, belum lagi kalau memasuki musim penghujan. Tolong pemerintah diperbaiki,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan guru kelas, Aniek Tri Handayani. Menurutnya, kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian atap, tetapi juga pada fasilitas belajar seperti meja dan bangku yang sudah banyak mengalami kerusakan sehingga mengganggu kenyamanan proses pembelajaran.
“Tak hanya atap yang mau roboh, bangku dan meja sekolah banyak yang rusak. Saya mau duduk saja takut, tidak nyaman buat KBM,” katanya.
Kepala SMP Negeri 1 Bringin, Sutiyo, mengatakan pihak sekolah harus melakukan pengaturan ulang ruang belajar agar seluruh siswa tetap dapat mengikuti pembelajaran dengan aman. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri pada hari pertama masuk sekolah.
“Kita hari ini pusing ngatur ruang kelas karena banyak yang rusak. Sebagian kita tempatkan di lab juga aula. Sudah mengajukan perbaikan, tapi belum ada realisasi,” ungkap Sutiyo.
Menurutnya, sekolah sebenarnya telah berulang kali melakukan perbaikan sementara pada bagian atap yang mengalami kerusakan. Namun, upaya tersebut tidak mampu bertahan lama karena kondisi bangunan yang sudah termakan usia. Seiring waktu, kerusakan juga mulai muncul di ruang kelas lainnya.
Kerusakan infrastruktur sekolah berpotensi mengganggu kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan risiko keselamatan bagi siswa maupun tenaga pendidik. Kondisi ruang kelas yang tidak layak juga dapat memengaruhi konsentrasi belajar siswa karena mereka harus berpindah-pindah ruangan dan menggunakan fasilitas darurat.
Di sisi lain, keberadaan sarana pendidikan yang aman menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung proses belajar mengajar. Karena itu, percepatan rehabilitasi bangunan sekolah dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar kegiatan pendidikan dapat berlangsung secara optimal tanpa mengorbankan keselamatan warga sekolah.
Untuk sementara, pihak SMP Negeri 1 Bringin akan terus mengatur penggunaan aula, laboratorium, dan musala sebagai ruang belajar alternatif sambil menunggu adanya tindak lanjut dari pemerintah daerah. Guru, siswa, dan pihak sekolah berharap usulan rehabilitasi yang telah diajukan sejak 2024 segera direalisasikan sehingga seluruh kegiatan belajar mengajar dapat kembali dilaksanakan di ruang kelas yang aman, nyaman, dan layak digunakan. [fiq/kun]






