Surabaya (beritajatim.com) – Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga(RSTKA) kembali berlayar selama dua bulan untuk membantu ibu dan anak di daerah kepulauan terpencil.
Total ada 20 pulau terpencil yang akan dikunjungi yaitu Gili Iyang, Sapudi, Raas, Kangean, Saobi, Sabunten, Saur, Saebus, Saseel, Sepanjang, Sapeken, Paliat, Sadulang Besar, Sadulang Kecil, Pagerungan Kecil, Pagerungan Besar, Sakala, Sapeken Bajo, Gili Genting, Gili Raja.
Pengabdian pada masyarakat tersebut yang mengusung tema Berlayar Mengarungi Samudra untuk Menyelamatkan Anak Bangsa itu akan berlangsung selama dua bulan yaitu dari 3 September hingga 12 November 2022.
Direktur Rumah Sakit Terapung, Universitas Airlangga, Dr Agus Harianto SpB menuturkan jika misinya kali ini akan berfokus pada pelayanan, dan pendampingan, kesehatan ibu dan anak di daerah kepulauan.
“Ketika berlayar di daerah kepulauan Sapeken dan sekitarnya, kita melakukan operasi kepada 15 ibu hamil. Itu membuat kami galau, akhirnya dengan segala jenis hal itu kami tergerak untuk kembali lagi ke daerah itu dengan RSTKA ini.” Terangnya saat acara pelepasan yang berlangsung di Dermaga Ujung pada, Sabtu (03/09/2022).

Dia berterima kasih pada semua yang telah terlibat dalam misi pelayaran ke pulau terpencil itu. “Akhirnya kita dimampukan, kita menyikapi kenyataan seperti itu, saya rasa tidak cukup dengan bisa
mengatakan kasian. kita punya partner, dan punya sahabat yang mendukung. Terimakasih kepada semua yang telah mendukung, PT Protelindo, YBM PLN, Investree, akademisi, relawan, Gubernur, dan
Menteri Kesehatan yang turut hadir pada acara pelepasan ini,” imbuh Dr Agus lebih lanjut.
Turut hadir pada pelepasan tersebut, Wakil Direktur Utama PT Protelindo, perwakilan dari YBM PLN, perwakilan dari Investree, Rektor Universita Airlangga (Unair), dan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI). Prof. Dr. Mohammad Nasih, S.E., M.T., Ak, Rektor Unair dalam sambutannya memandang misi tersebut sangat mulia.
“Misi pengabdian kepada masyarakat yang kali ini mengambil pada pelayanan ibu dan anak di kepulauan ini sangat mulia, misi yang menjadi bagian penting dari perguruan tinggi. Termasuk misi penting dari orang profesional untuk memberikan pengabdian dan pelayanan bagi masyarakat.” Terangnya saat memberi sambutan.
Dia berharap, kedepan akan lebih banyak pihak yang terlibat dan berkontribusi pada misi lain RSTKA. “Misi yang sekarang ini akan menentukan masa depan kita, masa depan Jawa Timur, dan Indonesia. Ke depan kami berharap kerjasama dan kontribusi dari berbagai pihak. Tentu, kita sesuaikan dengan keahlian kita masing-masing. Penghargaan setinggi-tingginya kepada kawan-kawan yang sudah terlibat,” imbuh Rektor Unair.
[berita-terkait number=”4″ tag=”rstka-unair”]
Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, memberikan apresiasi atas inisiatif pengabdian ke pulau terpencil dari RSTKA. Dia memandang hal yang dilakukan para akademisi itu merupakan langkah yang tepat membantu kesehatan masyarakat di daerah yang belum terjamah pemerintah.
“Terimakasih telah membantu kami, tugas tugas pemerintah. Kita rakyat Indonesia banyak sekali masyarakatnya, sehingga tidak semua hal bisa di cover pemerintah.”terang Ir Budi Sadikin dalam
pemaparannya.
Inisiatif tersebut, kata dia, sebagai pemberdayaan masyarakat yang efisien. “Dengan mekanisme relawan yang sangat luar biasa, sekitar 2000 orang terlibat, dengan 60 pulau sudah di datangi ini sangat luar biasa.” Tukasnya lebih lanjut.
Pada akhir penyampaian dia berharap agar terjalin kerjasama yang baik dari semua pihak. “Nenek moyang kita pelaut, kita masuk pandemi. Pelaut itu biasa nya sudah paham menghadapi badai yang besar, syaratnya mereka harus bekerja sama Tidak ada dokter yang hebat, kalau dia tidak pernah terlibat menangani suatu pulau yang terpencil. Selamat menempuh badai, selamat melayani masyarakat,” tutup Menkes RI.(dan/ted)






