Di bawah guyuran hujan, Persebaya memperpanjang masa paceklik kemenangan menjadi sepuluh pertandingan. Terakhir mereka menang 3-1 saat melawan Arema di Gelora Bung Tomo, Sabtu (23/9/2023). Hari itu, optimisme tumbuh terhadap pelatih baru Josep Gombau Balague.
Namun optimisme berakhir dengan fatamorgana. Sejak saat itu, Persebaya seperti terkena kutukan tak pernah menang. Bahkan Gombau pun harus mengakhiri petualangannya di Surabaya jauh lebih cepat daripada yang diharapkan manajemen. Setelah Uston Nawawi kembali mengambil alih, datanglah Paul Munster, seorang pelatih muda asal Irlandia Utara.
Pendukung Persebaya kembali berharap. Namun tentu saja, Munster bukan Monster. Banyak jalan menuju Roma tentu saja. Banyak taktik meraih tiga angka. Masalahnya, Roma tidak dibangun dalam sehari. Apalagi Persebaya. Membangun sebuah klub sepak bola dengan manajemen keras kepala dan suporter yang kerap lantang bersuara kadang lebih susah daripada membangun sebuah kota tua.
Persebaya kembali tertahan di kandang sendiri, Gelora Bung Tomo, Surabaya, Selasa (30/1/2024). Kali ini oleh PSIS Semarang 1-1 dalam pertandingan tunda pekan 20. Persebaya berada di peringkat 13 dengan mengemas 27 angka, terpaut hanya enam angka lebih banyak dari Arema yang berada di zona degradasi peringkat 16.
Dari aspek permainan, Persebaya belum terlalu banyak peningkatan. Lini tengah yang diisi tiga gelandang yang kuat dalam bertahan, Muhammad Hidayat, Andre Oktaviansyah, dan Ripal Wahyudi, belum bisa menandingi Boubakary Diarra dan Dewangga yang menjadi double pivot di lini tengah PSIS.
Gol PSIS tercipta dari kegagalan lini tengah Persebaya mengantisipasi pergerakan operan bola di antara pemain lawan. Vitinho mendapat ruang tembak dari luar kotak penalti yang sebenarnya bisa ditepis kiper Andika Ramadhani. Bola muntah berhasil dimanfaatkan Taisei Marukawa pada menit 20 yang melesat meninggalkan pemain-pemain bertahan Persebaya.
Sementara itu gol Persebaya yang dicetak pada menit 28 bukan berasal dari sebuah skema serangan yang terpahat rapi, melainkan berkat kegigihan seorang Andre Oktaviansyah yang merebut bola Boubakary Diarra di daerah pertahanan PSIS. Dia juga jeli melihat posisi kiper Ady Satryo yang berdiri terlalu jauh dari gawang dan melepaskan bola dari jarak jauh.
Setelah itu beberapa kali Persebaya membombardir pertahanan PSIS. Bagusnya penampilan kiper Ady Satryo ditambah belum tenangnya lini gedor Persebaya menjadi kombinasi kegagalan membongkar gawang PSIS. Paulo Henrique berusaha keras untuk membuktikan kepada publik, bahwa pencarian Persebaya terhadap sosok striker haus gol telah berakhir. Namun beberapa kali ia gagal memanfaatkan peluang dan kurang jeli membaca opsi antara menembak dan mengoperkan bola.
Persebaya belum memuaskan. Namun di bawah Munster, kita melihat semangat juang tim telah kembali. Di bawah Munster, ada aura spartan yang muncul. Ini positif, karena menunjukkan bagaimana Munster mendapat kepercayaan dari pemain. Sesuatu yang selama ini hilang dari Persebaya.
Masih ada sebelas pertandingan lagi untuk menutup Liga 1 Musim 2023-2024. Enam pertandingan di antaranya berlangsung di Gelora Bung Tomo. Dibutuhkan setidaknya minimal 13 angka lagi untuk mencapai zona aman dari degradasi. Di sisa musim kompetisi ini, Persebaya tak lagi membutuhkan drama kecuali kemenangan demi kemenangan. Setidaknya musim harus diakhiri dengan sebuah kehormatan, dan musim berikutnya baruilah manajemen memikirkan kembali cara untuk membangun Persebaya seperti membangun Roma. [wir/kun]






