Surabaya (beritajatim.com) – Persiapan matang menghadapi sengitnya persaingan kompetisi kasta tertinggi tidak hanya diukur dari sejauh mana tim mampu memenangi laga pramusim. Filosofi bermain dan mentalitas pantang menyerah justru menjadi pondasi paling mendasar yang terus digembleng sang juru taktik.
Karakter bertarung di atas lapangan hijau tersebut kini diuji secara terbuka dalam turnamen pramusim bergengsi.
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, menilai pertandingan di ajang Piala Presiden memberikan gambaran taktik yang jauh lebih komplet dibanding sekadar sesi latihan biasa, terutama dalam menguji komunikasi dan adaptasi pemain.
Mantan pelatih PSM Makassar ini menyoroti secara detail bagaimana para pemain membangun komunikasi, memahami peran taktik, hingga beradaptasi dengan ritme dan tekanan tinggi di lapangan.
“Kami ingin melihat kemampuan seluruh pemain. Ada beberapa pemain yang baru pertama kali tampil di Indonesia sehingga mereka membutuhkan waktu untuk membangun chemistry dengan rekan-rekannya. Itu menjadi bagian penting dari proses yang sedang kami jalani,” tutur Tavares pada Jumat (24/7/2026) di Surabaya.
Selain menggembleng fisik, Tavares memberi perhatian besar pada kedisiplinan transisi bertahannya. Ia menegaskan tidak ada tempat bagi pemain yang malas membantu pertahanan saat penguasaan bola terlepas.
“Target utama saya di Piala Presiden adalah melihat komitmen para pemain, terutama ketika tim kehilangan bola. Mereka harus aktif bergerak, memberikan dukungan kepada rekan setim, dan menjalankan transisi bertahan maupun menyerang dengan baik. Sepak bola bukan hanya soal apa yang dilakukan saat menguasai bola,” tegasnya.
Tavares menyadari kondisi fisik pemain yang mulai diterpa kelelahan akibat cuaca panas serta atmosfer megah di hadapan puluhan ribu Bonek dan Bonita. Namun, hal itu justru menjadi tolok ukur utama baginya untuk menyaring pemain mana yang paling siap secara mental.
Ia juga menegaskan tidak ragu memberikan kesempatan tampil kepada pemain muda berbakat seperti Dava Yunna (16), mengesampingkan senioritas demi performa di lapangan.
“Usia bukan faktor utama bagi saya. Saya bisa memainkan pemain berusia 35 tahun jika memang layak, begitu juga pemain berusia 16 atau 17 tahun. Dava mendapat kesempatan berlatih bersama tim utama karena menunjukkan performa yang baik selama latihan. Itulah alasan dia diberi kesempatan bermain,” kata juru taktik berusia 46 tahun tersebut.
Tavares meyakini seluruh legiun asing baru seperti Diogo Ramalho masih memiliki ruang besar untuk berkembang melalui ritme kompetisi ini.
Menutup keterangannya, Tavares turut mengomentari mitos lama sepak bola nasional yang menyebut juara turnamen pramusim kerap gagal menjuarai kompetisi resmi liga.
“Sejarah memang menunjukkan bahwa juara Piala Presiden belum tentu menjadi juara liga. Namun, saya juga tidak percaya ada tim yang sengaja menolak untuk menang. Target kami tetap sama, yaitu terus berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Itulah fokus utama kami selama turnamen ini,” pungkas Tavares. [way/ian]






