Jember (beritajatim.com) – Tri Rismaharini, calon gubernur nomor urut 3, menjadi sasaran curhat warga saat berkunjung ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (25/10/2024). Warga mengadukan sekian persoalan, mulai dari urusan laut hingga Generasi Z.
Tak hanya berada di kampung nelayan di Kecamatan Puger, calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan itu juga berkunjung ke salah satu kafe di Kecamatan Sumbersari.
“Tadi kami datang ke nelayan. Ada beberapa permasalaham yang mereka hadapi, termasuk jalur kapal untuk berlabuh, manajemen pengelolaan angkutan yang karena (jarak berlayar) terlalu jauh sehingga banyak ikan rusak dan harganya jatuh, operasional kehidupan mereka,” kata Risma.
Saat bertemu sejumlah perempuan pengusaha mikro kecil menengah, Risma menawarkan pemanfaatan tanaman pandan, melalui pelatihan pembuatan sendal hotel. “Di sepanjang pantai banyak pandan. Kebetulan saat saya kemarin jadi Menteri Sosial, kami melatih dan ternyata kebutuhannya lebih besar daripada apa yang bisa kami hasilkan,” katanya.
Tawaran seperti ini sudah dilakukan Risma sejak menjadi wali kota Surabaya hingga menteri sosial. “Kalau mengandalkan bantuan, tidak akan pernah cukup dan tidak akan keluar dari kemiskinan. Untuk itu harus ada program pemberdayaan untuk mengangkat mereka agar tidak menjadi miskin lagi,” katanya.
Bertemu Generasi Z, Risma mendapatkan curhatan tentang keraguan soal masa tunggu pekerjaan. Generasi Z adalah sebutan untuk generasi yang lahir pada 1997-2012. “Ini yang ingin saya ubah, bahwa sebetulnya kita bisa menciptakan pekerjaan sendiri. Saya sudah bisa buktikan, bahkan rata-rata dalam satu dua bulan sudah bisa keluar dari (daftar penerima) bansos, tidak mau lagi menerima bansos. Pendapatan mereka cukup tinggi,” katanya.
Dalam sektor transportasi, Risma memperbincangkan tarif jalan tol yang mahal bagi angkutan barang. “Memang itu investasi. Jadi mesti rate of return-nya harus ada, karena harus bayar bunga bank dan sebagainya. Memang kemudian mismatch-nya dengan angkutan barang, supir truk tidak mampu. Jadi mereka tetap berada di bawah (tidak melewati jalan tol),” katanya.
“Tapi masalahnya itu sangat berbahaya, karena di situ (di jalan di luar jalan tol) ada sepeda motor, becak, orang berjalan kaki, dan angkutan pribadi atau mobil. Oleh karena itu saya coba memikirkan bagaimana kita bisa membuat jalan yang bisa memisahkan antara angkutan barang dan angkutan manusia,” kata Risma.
Risma sempat meninjau jalur lintas selatan (JLS). “Kok ini (jalurnya) lebih panjang. Sopir truk dan sopir bus jadi menghitung, BBM-nya berapa. Mungkin kalau kendaraan pribadi tidak terlalu, tapi mereka (sopir angkutan umum dan barang) akan menghitung itu,” katanya.
Jika terpilih menjadi gubernur, Risma akan mengupayakan kendaraan umum akan menempuh jalur yang lebih pendek. Salah satunya dengan membuat terowongan yang menembus gunung atau bukit. “Itu sudah banyak dilakukan di luar negeri,” katanya.
Risma menyadari pembuatan terowongan yang memangkas jarak transportasi bakal membutuhkan biaya besar. “Tapi itu kan untuk masyarakat. Artinya kalau masyarakat lebih cepat, pasti lebih hemat. Seingatku ada kajian JICA soal JLS. Tapi kita kan boleh memberikan review, masukan, supaya lebih efektif dan efisien supaya masyarakat lebih hemat waktu dan hemat biaya,” katanya. [wir]






