Ngawi (beritajatim.com) – Ribuan liter air bakal diguyur ke titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Lawu. Air tersebut akan diangkut dengan helikopter dan dijatuhkan dengan metode water bombing.
Helikopter dijadwalkan tiba di Ngawi hari ini, Senin (2/10/2023). Namun, sampai dengan pukul 13.08 WIB, helikopter yang rencananya bakal mengebom air di lokasi karhutla itu belum datang.
Komandan Kodim 0805 Ngawi Letkol Arm Didik Kurniawan mengatakan, pihaknya terus berkoordinasi dengan BNPB dan BPBD Jawa Timur.
“Kami belum tahu pasti butuh airnya sampai seberapa. Namun, sekali terbang itu bisa 800 liter sampai 2.000 liter. Sekali shot, itu bisa 14 kali penerbangan. Namun, belum tau butuh sampai berapa,” kata Didik, Senin (2/10/2023).
Saat ini, pihaknya fokus pada ilaran agar api di kawasan hutan lindung tidak menjalar ke hutan produksi, apalagi ke rumah penduduk.
BACA JUGA:
Bupati Ngawi Ony Datangkan Helikopter untuk Water Bombing
Diketahui, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono mengatakan jika helikopter untuk melakukan water bombing kemungkinan datang pada Senin (2/10/2023). Upaya itu demi bisa mengurangi penyebaran api ke kawasan hutan lainnya.
“Upaya kami selain membuat ilaran atau sekat bakar, besok dari BNPB, untuk mendatangkan water bombing. Sementara, untuk hari ini, kami menaikkan mobil tangki dan alat semprot pertanian untuk pemadaman manual. Khususnya api yang mendekat ke arah hutan produksi,” kata Ony, Minggu (1/10/2023)
Saat memantau ke kawasan Petak 19 masuk RPH Banjaran Desa Jamus Kecamatan Sine Kabupate Ngawi, pihaknya mengatakan pergerakan api menuju ke kawasan Plawanhan ke arah Dusun Kembang, Desa Girimulyo.
“Untuk pembuatan ilaran sudah bertemu mulai Ngudal ke arah barat ke Petak 19, sampai Petak Wukir Bayi ke Timur Dusun Kembang, Kasian Karanggupiyo, sampai ke kawasan Magetan,” lanjut mantan Wakil Bupati Ngawi itu.
BACA JUGA:
Tanggap Darurat Bencana Karhutla Gunung Lawu di Ngawi Sampai 13 Oktober 2023
Menurutnya, kawasan petak 19 medannya sulit. Karena, kemiringan lebih dari 45 derajat. Secara mitigasi bencana, tidak memungkinkan untuk ditangani. Lantaran, sudah membahayakan.
“Kebakaran memang belum ada yang sampai hutan produksi. Tapi sudah mepet. Api masih besar di atas Manyul ke arah timu dan yang barat sudah mau ke arah Wukir Bayi,” pungkasnya. [fiq/beq]






