Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah lanskap geopolitik global yang meningkat dan perlambatan ekonomi dunia, Indonesia menunjukkan resiliensinya. Meskipun pertumbuhan ekonomi global pada kuartal pertama tahun 2025 terpantau melemah dengan inflasi yang terus menurun, perekonomian domestik Indonesia masih bisa bertahan, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan inflasi yang terkendali.
Analisis data terbaru menunjukkan bahwa kendati ketegangan geopolitik global masih ada, dampaknya berhasil terlokalisir sehingga imbasnya terhadap pasar keuangan global relatif terbatas.
Sementara itu, beberapa bank sentral global telah mengadopsi kebijakan moneter yang lebih akomodatif dengan menurunkan suku bunga, menyuntikkan likuiditas, atau menurunkan reserve requirement sebagai respons terhadap pelemahan permintaan global. Namun, The Fed tetap mempertahankan kebijakan “Fed Fund Rate (FFR) high for longer”, menunda perkiraan penurunan FFR menjadi hanya dua kali di tahun 2025, dengan penurunan pertama diprakirakan mundur ke bulan September. Hal ini, ditambah dengan rencana penerbitan Undang-Undang One Big Beautiful Bill yang berpotensi meningkatkan defisit fiskal AS dan penurunan rating AS oleh Moody’s, telah mendorong pelemahan pasar obligasi dan nilai tukar dolar AS.
Di sisi lain, perekonomian domestik Indonesia menunjukkan kinerja yang positif. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2025 masih positif meskipun sedikit melambat menjadi 4,87 persen. Permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga, menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan 4,89 persen year-on-year. Inflasi dalam negeri tetap terjaga di 1,95 persen (Maret 2025: 1,03 persen), masih dalam rentang target bank sentral.
“Indikator perekonomian terkini lainnya juga menunjukkan resiliensi yang kuat, seperti Neraca Perdagangan yang konsisten mencatat surplus, defisit transaksi berjalan yang menyempit menjadi 0,05 persen PDB (sebelumnya 0,87 persen), serta cadangan devisa yang stabil di level tinggi,” papar Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Menanggapi dinamika ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif Pemerintah dalam menggulirkan paket insentif ekonomi pada bulan Juni 2025.
“OJK bersama kementerian dan lembaga terkait serta industri jasa keuangan berkomitmen untuk terus berkolaborasi mendorong intermediasi yang optimal, pendalaman pasar keuangan, dan pengembangan potensi industri prospektif, termasuk mendukung segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Upaya-upaya ini bertujuan untuk mendorong pembiayaan yang lebih inklusif dan mengoptimalkan potensi ekonomi Indonesia untuk pertumbuhan nasional,” jelas Mahendra.
Pasar Modal dan Derivatif Keuangan Menggeliat, Bursa Karbon Tumbuh Pesat
Di tengah tensi perdagangan dan geopolitik global, pasar saham domestik Indonesia menunjukkan penguatan signifikan. Secara month-to-date (mtd) pada Mei 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 6,04 persen ke level 7.175,82, menjadikannya salah satu yang tertinggi di kawasan regional. Secara year-to-date (ytd), IHSG menguat 1,35 persen. Nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp12.420 triliun, naik 6,11 persen mtd (naik 0,69 persen ytd). Investor non-residen juga mencatatkan net buy sebesar Rp5,53 triliun mtd setelah sebelumnya net sell sejak Desember 2024.
Kinerja indeks sektoral secara umum menguat, dengan penguatan tertinggi dialami oleh sektor basic material dan energy, sementara hanya sektor teknologi yang terpantau melemah. Rata-rata nilai transaksi harian pasar saham secara ytd tercatat Rp12,90 triliun, naik dibandingkan rata-rata April 2025 sebesar Rp12,47 triliun.
Di pasar obligasi, indeks pasar obligasi ICBI menguat 0,78 persen mtd ke level 409,16, dengan yield SBN rata-rata turun 4,76 bps mtd. Investor non-residen mencatatkan net buy sebesar Rp24,09 triliun mtd di SBN. Industri pengelolaan investasi juga menunjukkan tren positif, dengan nilai Asset Under Management (AUM) mencapai Rp848,88 triliun dan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat Rp517,99 triliun. Penghimpunan dana di pasar modal tetap positif, dengan nilai Penawaran Umum mencapai Rp65,56 triliun, termasuk fundraising dari 6 emiten baru.
Securities Crowdfunding (SCF) terus berkembang, dengan 18 penyelenggara dan 825 penerbitan Efek dari 594 penerbit, serta total dana yang dihimpun dan teradministrasi di KSEI sebesar Rp1,57 triliun.
Pada pasar derivatif keuangan, nilai transaksi di bulan Mei 2025 tercatat sebesar Rp160,39 triliun dengan volume 52.605,07 lot. Sementara itu, Bursa Karbon yang diluncurkan pada 26 September 2023, telah mencatat 112 pengguna jasa dengan total volume 1.599.314 tCO2e dan akumulasi nilai Rp77,95 miliar, menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam upaya transisi energi.[rea]






