Ringkasan Berita:
- IHSG terkoreksi tajam 8,35 persen pada periode 18–22 Mei 2026.
- IPOT menilai tekanan dipicu sentimen global dan domestik.
- Aksi jual asing masih berlanjut dengan net sell Rp309,52 miliar.
- IPOT merekomendasikan saham MDKA, BTPN, ULTJ dan ETF XIHD.
Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat sepanjang periode perdagangan 18–22 Mei 2026 dengan koreksi tajam sebesar 8,35 persen ke level 6.162,045.
Bahkan, IHSG sempat menyentuh posisi terendah tahun ini di level 5.966.
Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas atau IPOT, Brigita Kinari, kejatuhan pasar dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang meningkatkan sikap risk-off investor.
Dari sisi eksternal, pasar dibayangi sikap hawkish Federal Reserve yang diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.
Kondisi tersebut memicu penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar Rupiah.
Sementara dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin demi menjaga stabilitas Rupiah justru memunculkan kekhawatiran perlambatan likuiditas ekonomi.
“Kekhawatiran investor sempat diperparah oleh rencana implementasi kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara. Namun, munculnya rumor penundaan kebijakan tersebut hingga 1 Januari 2027 berhasil memicu rebound signifikan pada akhir pekan, khususnya didorong oleh lonjakan sektor basic materials 6,85 persen dan energi 4,84 persen,” jelas Brigita.
Di tengah sikap wait and see pelaku pasar menanti hasil review FTSE Russell, aksi jual investor asing masih berlanjut dengan catatan net sell Rp309,52 miliar pada akhir pekan.
Tekanan tersebut membuat kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut terpangkas 10,06 persen menjadi Rp10.635 triliun dibanding pekan sebelumnya.
Meski IHSG melemah tajam, aktivitas perdagangan justru mencatat peningkatan likuiditas.
Rata-rata nilai transaksi harian naik 15,68 persen menjadi Rp21,77 triliun.
Kondisi itu dinilai mengindikasikan tingginya aktivitas distribusi dan reposisi portofolio investor di tengah pasar yang masih bergerak volatil dalam jangka pendek.
Menurut Brigita, pergerakan indeks utama Wall Street pada periode 25–29 Mei 2026 diperkirakan masih volatil dengan kecenderungan mixed.
Pasar global sebelumnya dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik Timur Tengah, pergerakan yield obligasi AS, hingga rotasi sektor teknologi.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah muncul kekhawatiran eskalasi konflik antara AS dan Iran yang berpotensi mengganggu distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz.
Kondisi itu sempat mendorong kenaikan yield US Treasury dan memperkuat ekspektasi kebijakan higher for longer The Fed.
“Kondisi pasar mulai membaik di akhir pekan setelah muncul laporan tercapainya draft final perjanjian damai AS-Iran melalui mediasi Pakistan yang diperkuat oleh pernyataan optimistis dari Donald Trump,” ujarnya.
Sentimen tersebut memicu penurunan harga minyak dunia dan yield US Treasury tenor panjang sehingga mendorong rebound Wall Street.
Meski demikian, pasar global tetap berhati-hati setelah risalah Federal Reserve menunjukkan peluang kenaikan suku bunga masih terbuka apabila inflasi kembali meningkat.
Di sisi lain, sektor teknologi global mulai mengalami rotasi terbatas akibat kekhawatiran valuasi sektor kecerdasan buatan atau AI yang dinilai sudah premium meski kinerja Nvidia masih solid.
Untuk pasar domestik, IHSG pada periode 25–29 Mei 2026 diperkirakan bergerak volatil namun berpeluang mengalami technical rebound terbatas.
Pasar hanya beroperasi selama tiga hari karena adanya libur nasional dan cuti bersama Iduladha pada 27–28 Mei 2026.
Perhatian investor masih tertuju pada implementasi kebijakan ekspor satu pintu komoditas strategis melalui Danantara yang mulai efektif 1 Juni 2026.
Namun, sentimen domestik sedikit terbantu hasil review FTSE Russell yang dinilai relatif konstruktif dan mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi outflow besar.
Secara teknikal, IHSG masih bergerak jauh di bawah SMA-50 di area 7.166 yang menunjukkan tren pelemahan jangka menengah masih dominan.
“Momentum indeks juga masih relatif lemah tercermin dari indikator MACD yang bertahan di area negatif dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat,” tutur Brigita.
Meski IHSG sempat menguat 1,10 persen pada perdagangan Jumat, IPOT menilai pasar masih dibayangi volatilitas tinggi menjelang effective date rebalancing MSCI pada 29 Mei 2026.
Dalam jangka pendek, IHSG diperkirakan bergerak sideways dengan volatilitas tinggi pada rentang support 5.996–5.899 dan resistance 6.318–6.459.
Merespons kondisi pasar tersebut, IPOT merekomendasikan beberapa saham pilihan.
Pertama, saham MDKA dengan entry 2.720, target price 3.000, dan stop loss 2.610.
Kedua, saham BTPN dengan entry 2.380, target price 2.530, dan stop loss 2.310.
Ketiga, saham ULTJ dengan entry 1.635, target price 1.725, dan stop loss 1.590.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan reksa dana saham Premier ETF IDX High Dividend 20 atau Premier ETF IDX High Dividend 20 berkode XIHD.
ETF tersebut dinilai cocok di tengah pasar volatil karena menawarkan kombinasi potensi pendapatan dividen dan peluang capital gain tanpa harus melakukan stock picking secara langsung. [beq]






