Banyuwangi (beritajatim.com) – Kenaikan harga plastik membawa dampak positif bagi masyarakat yang memproduksi besek bambu ramah lingkungan di Lingkungan Papring, Desa/Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.
Tokoh Lingkungan Papring, Widie Nurmahmudy, mengatakan kenaikan harga plastik berdampak positif pada melonjaknya pesanan besek bambu dalam beberapa waktu terakhir.
Diakui, lonjakan permintaan besek bambu dipicu oleh pergeseran kebutuhan pasar, terutama untuk kemasan makanan, hampers, hingga kebutuhan jual kembali.
Selain itu, kenaikan harga plastik turut mendorong masyarakat beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, seiring meningkatnya kesadaran untuk mengurangi sampah.
Di sisi lain, besek bambu dinilai memiliki berbagai keunggulan. Selain ramah lingkungan, besek dapat digunakan berulang kali, tahan air, dan justru semakin kuat saat sering terkena panas.
Dengan tren tersebut, besek bambu kini tak lagi sekadar produk tradisional, melainkan mulai dilirik sebagai solusi kemasan yang relevan di tengah meningkatnya isu lingkungan.
Permintaan tidak hanya meningkat secara bertahap, tetapi melonjak dalam hitungan minggu. Bahkan, banyak pembeli harus rela menunggu atau inden karena tingginya antrean pesanan.
“Dalam satu minggu ini pesanan jauh lebih banyak, sampai harus inden. Pengrajin juga sampai harus saling mencari tahu siapa yang sudah punya stok, untuk memenuhi permintaan pesanan,” ujar Widie.
Permintaan besek bambu datang dari berbagai wilayah di Banyuwangi, didominasi pembeli yang mengambil dalam jumlah besar untuk dijual kembali.
Saat ini, diakui besek juga mengalami kenaikan harga. Dari sekitar Rp1.500 per pcs kini menjadi Rp2.500 di tingkat pengrajin. Meski demikian, kondisi tersebut tidak menyurutkan minat pembeli.
Tingginya pesanan pun membuat para pelaku usaha harus memutar strategi agar produksi tetap berjalan, salah satunya dengan melibatkan warga sekitar.
Bahkan, sang ibu yang juga pengrajin kini aktif mengerahkan emak-emak di lingkungan rumahnya untuk ikut membantu proses pembuatan besek.
“Dulu dikerjakan sendiri. Kini, karena pesanan meningkat dan sering dihubungi, ibu saya mengajak emak-emak tetangga untuk membantu, mulai dari pemotongan hingga pembentukan,” kata Widie.
Langkah ini dilakukan agar pesanan tetap bisa terpenuhi di tengah lonjakan permintaan. Proses produksi pun dikerjakan secara gotong royong, dari tahap awal hingga finishing. [kun]






