Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sedang melakukan upaya antisipasi untuk menekan kenaikan harga kebutuhan pokok di pasar akibat lonjakan harga plastik yang mencapai 40 persen.
Melalui Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah serta Perdagangan (Dinkopumdag), pemerintah mulai mengedukasi pedagang dan pelaku UMKM untuk berinovasi dengan mencari kemasan pengganti plastik.
Kepala Dinkopumdag Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik ini mulai membebani biaya produksi sehingga berpotensi memicu kenaikan harga jual di masyarakat.
“Memang (kenaikan biaya produksi ini) terasa dengan perubahan atau kenaikan harga plastik ini, tapi kita melakukan pendampingan UKM. Antara lain dengan inovasi terhadap kemasan untuk menekan harga biaya produksi,” ujar Mia, Selasa (7/4/2026).
Ia menjelaskan, Pemkot Surabaya saat ini tengah mendorong para pelaku usaha untuk beralih ke alternatif kemasan nonplastik yang lebih efisien serta ramah lingkungan sebagai solusi jangka panjang.
Selain inovasi pada bahan kemasan, Dinkopumdag juga menyarankan agar ada perubahan pada pola distribusi, seperti menjual produk dalam kuantitas lebih besar guna mengurangi ketergantungan pada kemasan plastik kecil.
“Mungkin (terletak pada) kuantitas jual itu tidak lagi dikemas kecil-kecil, tapi yang memang paling signifikan itu harus segera ada perubahan kemasan,” jelas Mia.
Berdasarkan hasil monitoring rutin di lapangan, tim Dinkopumdag menemukan adanya tren kenaikan harga plastik yang konsisten di sejumlah toko dan pasar.
Untuk menekan harga lebih jauh, Pemkot Surabaya aktif berkomunikasi dengan distributor guna memotong rantai pasok agar para pelaku UMKM mendapatkan harga yang lebih kompetitif.
“Kita komunikasi dengan distributor, kemudian kita hubungkan dengan para pedagang atau UMKM kita. Jadi lebih memutus rantai pasoknya supaya tidak terlalu panjang,” katanya.
Dari situ, Mia memastikan pendampingan ini akan terus berlanjut agar UMKM tetap berproduksi tanpa harus menaikkan harga jual, sehingga daya beli masyarakat dan pendapatan pelaku usaha tetap terjaga stabil. “Kita berusaha terus mendampingi, terutama di UMKM, supaya tetap bisa jalan dan produksi bisa terus,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, pedagang plastik di Surabaya mulai menjerit akibat lonjakan harga plastik yang semakin hari semakin konsisten melambung tinggi hingga mencapai 40 persen.
Lonjakan signifikan harga plastik di toko-toko Surabaya, seperti kantong plastik (kresek), mika makanan, dan kemasan cup minuman ini dipicu akibat dampak eskalasi konflik Timur Tengah. Impor bahan baku biji plastik yang berasal dari turunan minyak bumi dan gas alam tersendat, mengikuti fluktuasi harga energi global.
Mimin (65), salah seorang pemasok produk plastik beragam jenis di Toko Plastik Laksono di Pasar Pucang Anom Surabaya, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik hingga 40 persen itu sudah terjadi sejak Lebaran Idulfitri 2026, Maret lalu.
“Sudah pokoknya berbicara harga plastik itu, kita (pedagang) tidak bisa polah-polah. Dari harga Rp9 ribu itu tiba-tiba naik menjadi Rp15 ribu, semua jenis plastik naiknya hampir 40 persen,” ujar Mimin saat ditemui di tokonya, Kamis (2/4/2026).
Mimin menjelaskan bahwa sesuai dengan penjelasan pabrik tempat dia berkulak, kenaikan harga plastik ini akibat tersendatnya pasokan energi minyak yang masuk ke Indonesia (impor) karena konflik yang tidak kunjung selesai di Timur Tengah. “Iya (gara-gara) perang. Katanya kan biji plastik ini dibuatnya dari minyak bumi,” kata dia. (rma/kun)






