Bondowoso (beritajatim.com) – Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, mengungkapkan refleksi kritis terhadap perjalanan ekonomi Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Dalam sambutannya di acara Musyawarah Nasional (Munas) Majelis Alumni IPNU di Pendopo RBA Ki Ronggo Bondowoso, Sabtu (2/8/2025), pria yang akrab disapa Zulhas itu menyoroti bagaimana Indonesia pernah lebih unggul dari negara-negara Asia Timur, namun kini justru tertinggal.
Zulhas mengawali ceritanya dengan pengalaman pribadi dalam dunia perdagangan internasional sejak pertengahan 1980-an. Ia mengaku sudah melakukan bisnis dengan negara-negara seperti Tiongkok, Korea Selatan, Hongkong, dan Singapura sejak tahun 1984 hingga 1986.
“Waktu itu saya datang ke sana gagah, bangga. Tidak ada rasa minder sama Tiongkok. Bahkan kalau saya datang, mereka senang karena dikira bawa angpao,” ujarnya disambut tawa peserta.
Menurutnya, pada masa itu Indonesia justru berada selangkah lebih maju dibanding banyak negara Asia lainnya. Ia menyebutkan berbagai capaian industri strategis Indonesia yang telah dimiliki sejak era Orde Baru.
“Kita sudah punya pabrik baja, namanya Krakatau Steel. Kita punya PTDI (Industri pesawat terbang), satelit Palapa, PT PAL untuk kapal perang, industri senjata, dan pabrik kimia untuk pupuk. Itu semua sudah berdiri sebelum Korea Selatan punya,” jelas Zulhas.
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu juga menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu berlangsung stabil dan konsisten selama bertahun-tahun, bukan hanya dalam periode pendek.
Namun, setelah memasuki era reformasi selama 28 tahun terakhir, Zulhas mengajak hadirin untuk merenungkan satu fakta penting: Indonesia memang mengalami kemajuan, tapi negara-negara lain bergerak jauh lebih cepat.
“Memang kita maju tapi orang lain jauh lebih cepat majunya. Lihat sekarang Tiongkok, Korea, Singapura. Bahkan Vietnam, itu sudah mulai menyalip kita,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Zulhas menilai bahwa ketertinggalan Indonesia saat ini bukan karena kurangnya potensi, tetapi lebih pada lemahnya konsistensi dalam membangun fondasi industri dan ekonomi jangka panjang.
Pernyataan Zulhas itu menjadi catatan reflektif yang mengundang tepuk tangan dan keprihatinan di antara peserta Munas. Ia berharap generasi muda, termasuk para alumni IPNU, dapat mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah ekonomi bangsa.
Acara Munas Majelis Alumni IPNU ini turut dihadiri berbagai tokoh nasional, pejabat daerah, dan ratusan alumni IPNU dari berbagai penjuru Indonesia. Momentum ini menjadi ajang strategis untuk menggugah kesadaran kolektif akan pentingnya peran generasi muda dalam memperkuat kemandirian bangsa. (awi/kun)






