“Ya, saya perempuan dan Cina, ada masalah?”
Kalimat itu, yang dulu Syani ucapkan dengan nada bercanda kepada teman kuliah, berubah menjadi peluru yang memantul kembali pada dirinya bertahun-tahun kemudian.
Malam ketika pintu rumah diketuk keras oleh dua lelaki berambut cepak, Syani sadar, menjadi “Cina” bukan sekadar identitas, melainkan tuduhan tak kasat mata yang bisa menyeret siapa pun ke ruang gelap tanpa nama.
“Oh, ini perempuan Cina yang katanya menolak P4 di kampusnya?”
“Hei Cina, di punggungmu pasti ada tato palu arit!”
“Kalau kamu bohong, kami pulangkan saja ke negaramu sana!”
Kata-kata itu menghujam. Ucapan yang lahir dari kebencian, bukan dari logika. Malam itu, setiap kata Cina yang keluar dari mulut mereka terasa seperti cambuk—tak hanya pada kulit, tapi juga pada martabat.
Dan apa yang terlontar itu semakin menunjukkan seberapa dalamnya persoalan rasis di negeri ini, miris. Padahal untuk mencintai negara ini, tak perlu harus menjadi WNI tanpa embel-embel keturunan.
Kalau kita belum mampu memberikan sumbangsih ke negara, maka yang utama cukup mengakui semua nilai kebangsaan yang sudah menjadi keputusan negara, bangga mengibarkan bendera Merah Putih dibandingkan bendera lainnya.
Ia tumbuh dari kesediaan untuk percaya, untuk tetap berdiri di bawah Merah Putih—bahkan ketika benderanya sendiri menatap balik dengan curiga.
Aktivitas sebagai mahasiswa pada tahun 1996 tergolong menyerempet bahaya saat Orde Baru sedang kuatnya berkuasa, Syani sering mengikuti rapat SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) di sekretariat Jalan Kedung Sroko Surabaya, menghadiri diskusi politik, dan sesekali turun dalam aksi mahasiswa—baik di dalam kampus maupun di luar.
SMID merupakan cikal bakal berdirinya Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1996 dengan ketua umumnya Budiman Sudjatmiko yang saat ini telah masuk ke pemerintahan kabinet Merah Putih (Persatuan Nasional) Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin)
Kunjungan Terakhir ke Polwiltabes
Sabtu, 17 Agustus 1996. Langit Surabaya tampak cerah, tapi udara terasa berat. Siang itu Syani kembali ke Polwiltabes Surabaya, seperti biasa, menjenguk tiga sahabat: Coen Husein Pontoh, Dita Indah Sari, dan Muhammad Sholeh.
Mereka ditahan setelah aksi buruh di Tandes, awal Juli. Tugas Syani sederhana—membawa kebutuhan sehari-hari, mengantarkan kabar dari luar, dan menguatkan mereka agar tidak kehilangan harapan.
Namun hari itu berbeda. Ada wajah-wajah baru di balik jeruji, beberapa bahkan belum boleh dikunjungi. Ketika berbicara dengan Coen lewat lubang kecil di dinding, nada suaranya tak lagi sama.
“Syan,” bisiknya, “kamu harus sembunyi. Namamu sudah masuk daftar target. Kata Zainal tentara akan menangkapmu.”kata Coen.
Syani tertawa hambar. “Aku? Untuk apa? Aku cuma mahasiswa biasa.”
Tapi Coen tidak tersenyum. Ia menatap Syani lekat-lekat, seolah ingin memastikan kata-katanya menembus kepolosannya. Dalam perjalanan pulang, kata-kata itu terus bergema di kepala Syani—namun Ia tetap menepisnya. Syani menonton film Independence Day malam itu, tertawa di kursi bioskop, berpikir betapa konyolnya ketakutan itu.
Syani tidak tahu bahwa malam itu akan menjadi malam terakhirnya sebagai orang bebas.
Penangkapan: Malam yang Merenggut Segalanya
Sekitar pukul sembilan malam. Aroma nasi tumpeng dan tawa warga masih memenuhi udara kampung dalam tasyakuran 17 Agustus. Syani baru pulang, masih mengenakan pakaian kuliah, ketika dua lelaki bertubuh besar berdiri di depan rumah. Dari celah pintu, Syani mendengar mereka mencari seseorang bernama “Sanik”. Syani sempat lega—Sanik adalah nama anak tetangga di seberang.
Namun, tak lama kemudian, kakak Syani masuk tergesa-gesa dengan wajah pucat.
“Syani, mereka cari kamu. Mereka tahu kamu mahasiswa UWK.”
Dan benar. “Nah, ini yang kami cari,” kata salah satu pria tinggi kekar beambut cepak dari mereka setelah Syani keluar.
Mereka menyebut nama Syani tanpa salah. Nada suara mereka seperti polisi yang sudah menyiapkan vonis sebelum pengadilan dimulai.
“Ibu, kami hanya ingin bertanya sedikit. Anak ibu kami bawa sebentar saja. Malam ini juga akan kami antar pulang,” ujar mereka dengan senyum yang tidak pernah sampai ke mata.
Syani kemudian minta izin berganti pakaian. Mereka menolak.
“Tak perlu. Ini hanya sebentar saja,” katanya, datar, seperti sedang membaca perintah.
Syani dibawa tanpa surat, tanpa penjelasan. Di sepanjang gang, suara tawa warga menguap menjadi keheningan yang ganjil.
Mobil Kijang hitam menunggu di ujung. Lampunya menyala seperti mata yang tak berkedip. Syani duduk di tengah, diapit dua lelaki yang tak pernah berhenti mengawasi. Kakaknya ikut di belakang, menatap keluar jendela dengan pasrah.
Tak ada yang tahu ke mana Syani akan dibawa. Jalan Ahmad Yani Surabaya malam itu sepi. Lampu-lampu kota Surabaya menari di kaca mobil, tapi Syani merasa sedang menuju ke tempat yang tak memiliki arah pulang.
Gedung Tanpa Nama
Bangunan itu berdiri di tengah lahan kosong, sunyi, dengan tiang bendera yang menjulang. Tak ada papan nama, tak ada tanda kehidupan. Hanya udara dingin dan aroma besi tua yang menempel di dinding.
Syani dibawa naik ke lantai dua. Kakaknya ditahan di bawah.
“Bapak tunggu di sini saja,” kata salah satu dari mereka kepada Kokonya Syani.
Ruang di lantai dua hanya berisi satu meja dan dua kursi.
“Duduk,” perintah mereka.
Seorang pria paruh baya masuk, ditemani seorang yang lebih muda. “Jadi kamu Syani, mahasiswa FISIP UWK?”
Syani mengangguk.
“Bagus. Sekarang kita makan dulu.”
Mereka mengeluarkan dua bungkus nasi bebek. “Di sini semua sama,” katanya dengan senyum yang dingin. “Kalau saya makan nasi bebek, kamu pun makan nasi bebek. Sama, kan?”
Syani tahu, kalimat itu bukan tentang makanan—melainkan tentang kekuasaan.
Setelah makan, mereka memberiku selembar kertas biodata. “Isi dengan benar,” katanya. Syani menulis seperti biasa, menulis “WNI” di kolom kewarganegaraan. Tapi pria itu mendadak membentak.
“Kenapa kamu tidak tulis keturunan di belakangnya? Kamu Cina, kan?”
Syani terdiam. “Saya lahir di Indonesia, Pak. Orang tua saya juga. Saya tidak punya siapa pun di Cina.”bantah Syani.
“Jangan berbohong! Kamu perempuan Cina penolak P4, punya tato palu arit di punggung!”
“Tuduhan itu tidak benar!” suara Syani pecah.
“Kalau begitu, buka bajumu! Biar kita lihat!”
Saya menahan kaos saya dengan gemetar. “Jangan, Pak… tolong…”
Keringat dingin menetes. Udara di ruangan itu seperti berhenti bergerak. Lalu ia menatapku lama, lalu berkata datar, “Keras kepala. Malam ini kamu menginap di sini.”
Subuh Pertama di Ruang Tanpa Nama
Pagi belum sepenuhnya datang ketika tendangan sepatu lars membangunkan Syani.
“Bangun! Ini bukan rumah nenekmu!”
Syani dibawa ke lapangan tengah bersama beberapa orang lain. Ada wajah-wajah yang Syani kenal—Rouf, Agung, Arindra—semuanya babak belur.
Di tengah ketakutan, Brewok, seniman Surabaya yang dulu sering memimpin aksi teatrikal, diminta memimpin senam. Gerakannya lembut, penuh ironi, seperti menertawakan kekuasaan.
Ketika senam selesai, mereka memanggil saya.
“Hei Cina! Tunjukkan kalau kamu cinta tanah air. Hormat pada bendera!”
Syani berdiri di bawah tiang bendera, menatap Merah Putih yang berkibar malas. Leher Syani kaku, mata perih. Lalu perintah berikut datang, lebih kejam dari sebelumnya.
“Lari keliling lapangan lima belas kali! Sambil teriak: aku perempuan Cina penolak P4 di kampus!”
Syani berlari. Nafas memburu, kaki gemetar, tapi Syani terus berteriak, “Aku perempuan Cina penolak P4 di kampus!” sampai suaranya serak, sampai tubuh tak lagi kuat.
Setelah itu, Syani difoto seperti kriminal: tampak depan, kanan, kiri. Di bawah lampu putih yang menyilaukan, Syani merasa kehilangan segalanya—nama, harga diri, bahkan hak untuk dianggap manusia.
Luka yang Tak Hilang
Bertahun-tahun kemudian, setiap kali mendengar lagu Indonesia Raya, dada Syani masih bergetar. Bukan karena kebencian, tapi karena ingatan—tentang bagaimana cinta tanah air pernah dijadikan alat untuk menghukum mereka yang dianggap “berbeda”.
Syani bukan pahlawan, bukan juga korban tunggal. Syani hanyalah seorang perempuan yang belajar mencintai negeri ini meski pernah dijadikan musuhnya sendiri.
Dan setiap kali Syani menatap cermin, Syani berkata pada diri sendiri:
“Ya, saya perempuan. Ya, saya Cina. Dan saya tetap Indonesia.” (ted)






