Seporsi tumpeng nasi kuning tersaji di meja ruang Komisi A DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (11/8/2025). “Ra Holil ulang tahun,” kata Wahyu, pendamping Komisi A.
Ra Holil yang dimaksud adalah M. Holil Asyari, Wakil Ketua Komisi A dari Partai Golongan Karya. Hari ini usianya memasuli 54 tahun, dan baru pertama kali ini ia merayakannya secara sederhana di gedung parlemen setelah 16 tahun menjadi legislator daerah.
Sejumlah anggota Komisi A datang memberikan ucapan selamat. Begitu juga sejumlah pegawai kesekretariatan. Dalam waktu singkat tumpeng pun dilahap lengkap dengan lauk ayam goreng, telur rebus, mi goreng, daging, dan sayur.
Holil adalah anggota Dewan paling senior, selain politisi Partai Kebangkitan Bangsa Hafidi yang juga rekannya satu komisi. Mereka sama-sama pertama kali terpilih menjadi anggota DPRD Jember dalam Pemilu 2009.
Lahir di Jember pada 11 Agustus 1971, Holil sama sekali tak pernah membayangkan akan menjadi politisi di parlemen. Namun dia juga tak pernah bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil, setelah lulus dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel di Jember pada 1994. “Saya bahkan baru mengambil ijazah saya 12 tahun setelah lulus,” katanya tertawa.
Holil memilih mengabdikan diri menjadi seorang guru sekolah madrasah pertama dan madrasah tsanawiyah swasta di Kecamatan Puger. Namun pertemuannya dengan politisi gaek Golkar Jember Machmud Sardjujono pada 2003 mengubah segalanya.
Saat itu Holil adalah satu dari sekian ulama dan tokoh agama yang diundang Machmud untuk hadir dalam perayaan Hari Ulang Tahun Golkar di Jember. Di sana Holil bertemu dengan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tanjung. “Pak Akbar Tanjung meminta saya untuk berkunjung ke Jakarta kalau ada waktu,” katanya.
Oktober 2003, Holil ke Jakarta dan bertemu lagi dengan Akbar. “Pak Akbar mengatakan, ‘Tolong saya titip Golkar. Kalau bisa Ustaz Holil harus masuk jadi pengurus Golkar’,” katanya mengingat pertemuan itu.
Holil yang memang sudah terpesona dengan sosok Machmud Sardjujono yang disebutnya kebapakan dan mengayomi menyetujui permintaan Akbar itu. Keputusan itu sempat membuat keluarga besarnya bergolak.
“Keluarga saya bukan Golkar. Bahkan orang tua saya termasuk salah satu orang yang pernah ditahan di Koramil gara-gara tidak mau ikut Golkar pada masa Orde Baru,” kata Holil.
Tak mau menyerah, Holil mendekati semua anggota keluarganya dan tetangga. “Alhamdulillah Golkar diterima sampai hari ini,” katanya.
Tahun 2009, Holil didorong masuk parlemen dan akhirnya terpilih. Di sana dia membangun reputasi sehingga bisa terpilih berkali-kali dalam Pemilu 2014, 2019, dan 2024.
Rupanya parlemen memberikan ruang yang dicita-citakan Holil sejak lama untuk berbuat bagi masyarakat. Tidak selalu hal-hal besar. Hal-hal kecil saja sudah membuatnya bahagia.
Salah satunya saat seorang warga meminta bantuannya untuk mengurus paspor agar bisa berangkat umrah. Ada juga saat Holil membantu keluarga korban kecelakaan untuk berkomunikasi dengan kepolisian. “Jadi ketika saya bisa membantu orang lain, itulah sebenarnya itu yang paling menyenangkan saya sebagai anggota parlemen,” katanya.
Tentu saja ada hal pahit. “Di politik kadang-kadang ada gesekan, ada fitnah. Itu sudah biasa, sehingga walaupun apa yang kita lakukan itu sudah benar, belum tentu untuk orang lain. Kadang-kadang orang yang sudah antipati kepada saya, apapun yang saya lakukan walaupun itu benar sudah dianggap salah,” kata Holil.
Holil tidak bisa memastikan masa pensiun dari gedung parlemen. “Saya sebenarnya pada 2019 sudah mau off. Tahun 2024 juga seperti itu. Tapi partai masih menghendaki saya untuk mencalonkan diri lagi. Tim kami di Daerah Pemilihan 6 masih bersemangat mendukung, sehingga saya tidak bisa mengelak,” katanya.
Holil akan mencalonkan diri lagi pada 2029 jika Golkar menghendaki. “Itu pun harus sejalan dengan keinginan dari tim kami juga. Kalau tim kami masih menghendaki saya harus berangkat lagi, saya insyaallah berangkat lagi,” katanya. [wir]






