Malang (beritajatim.com) – Keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengadakan halal bi halal untuk rangka mempererat silaturahmi antar civitas akademika. Acara ini diisi dengan tausiah dari Penasihat PW Muhammadiyah Jawa Timur, KH. Nur Cholis Huda, M.Si.
KH Nur Cholis mengatakan bahwa inti halal bihalal idul fitri ini untuk memperbanyak kawat atau tali silaturahmi. Tujuannya untuk menghapuskan setiap dosa yang diperbuat, utamanya hubungan dengan sesama manusia.
“Karena menyembuhkan luka itu sulit. Ibarat menancapkan paku di kayu dan mencabutnya. Lubang tersebut tidak mudah tertutup kembali,” katanya dikutip dari laman humas UMM pada Rabu (17/4/2024).
Cholis menyampaikan dua tujuan utama dari halal bi halal. Pertama menyambung silaturahmi dan kedua untuk menyembuhkan luka di hati. Menyambung silaturahmi dalam hal ini adalah berteman dengan siapa saja dan tidak memandang status atau kasta.
“Untuk menyembuhkan luka hati dengan saling memaafkan atas kesalahan yang diperbuat sebelumnya. Karena, jika luka tidak dimaafkan akan mengendap dalam hati dan membentuk kebencian dengan sesamanya,” tuturnya.
Berbagai pihak turut memberi komentar terkait halal bihalal di UMM. Dua diantaranya Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur (Jatim) dan Menteri Koordinasi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK).
Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Dr. dr. Sukadiono, MM mengatakan tiga level dalam memaafkan sesama manusia. Pertama, ta’fu atau menghapus kesalahan yang diperbuat orang walau tidak bisa melupakan. Level kedua tashfahu atau memaafkan dengan lapang dada tapi tidak bisa berbuat baik pada orang tersebut.
“Level ketiga atau tertinggi yaitu taghfiru atau mengampuni kesalahan orang yang menyakiti kita dan berbuat baik padanya. Kalau bisa idul fitri ini kita menjadi manusia dengan level tertinggi atau At-taghfiru. Ada dua cara yang bisa dilakukan untuk mencapai tingkatan maaf tertinggi, yaitu dengan mengingat dan melupakan,” ungkapnya dihadapa civitas akademika UMM.
Di sisi lain, Menko PMK yang juag Badan pembina Harian (BPH) UMM, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P., menyampaikan bahwa halal bi halal UMM dapat menjadi ajang membersihkan diri untuk evaluasi terhadap hal yang dilakukan. Idul fitri sebagai tanda dari proses penyucian jiwa dan membuka lembaran baru untuk kehidupan.
Terakhir, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, SE., M.Si, berpendapat bahwa halal bi halal memberikan cermin adat kemanusiaan yang dijunjung tinggi di atas segala perbedaan dan kepentingan. Silaturahmi dengan istilah halal memberi inspirasi mengatasi persoalan dan membuat suasana hangat.
“Hal itu juga menjadi kunci membuka pintu rezeki halal dan thayyib. Sementara idul fitri atau fitrah sendiri memiliki makna penting yaitu atau al khair (baik dan benar dalam keilmuan) yang digunakan untuk menjalankan tugas maupun kehidupan kemanusiaan kita dihadapan Allah,” ungkap Rektor UMM tersebut. (dan/kun)






