Malang (beritajatim.com) – Perayaan Idulfitri yang seharusnya menjadi momen suci dan penuh kebahagiaan justru menyisakan masalah serius bagi lingkungan: lonjakan volume sampah. Dari sisa makanan hingga kemasan plastik, tumpukan limbah pasca-lebaran kini menjadi perhatian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan bumi.
Dr. Sukarsono, M.Si., Kepala Pusat Studi Lingkungan dan Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyoroti fenomena ini sebagai refleksi perilaku konsumtif masyarakat yang belum selaras dengan kesadaran lingkungan.
“Idul Fitri seharusnya menjadi momen kembali suci, termasuk dalam hal menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Masyarakat perlu mulai sadar untuk mengurangi limbah dan mengolah sampah dengan teknik sederhana yang bisa dilakukan dari rumah,” ujarnya, Rabu (9/4/2025).
Menurut Dr. Sukarsono, pasca-lebaran volume sampah organik meningkat lebih dari 20 persen dibanding hari biasa. “Sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan bahan makanan yang tak terpakai mendominasi hingga 60 persen dari total sampah rumah tangga,” jelasnya.
Tak hanya itu, limbah anorganik seperti kantong plastik dan kemasan makanan turut mengalami peningkatan. Bahkan, minyak goreng bekas atau jelantah juga menjadi sumber pencemaran baru yang meresahkan.
“Jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari air tanah dan sungai, menyebabkan kekurangan oksigen terlarut dan memicu kematian ikan serta mikroorganisme air,” tambahnya.
Menariknya, Dr. Sukarsono membagikan solusi praktis dan ramah lingkungan untuk mengelola limbah jelantah. Ia menyebutkan, minyak goreng bekas dapat dengan mudah diubah menjadi lilin aromaterapi atau bahkan bahan bakar alternatif seperti bio-solar.
Untuk membuat lilin, cukup saring minyak bekas, panaskan bersama parafin dan pewangi, lalu tuang ke cetakan dengan sumbu. Sedangkan untuk bio-solar, minyak disaring, dicampur dengan metanol dan KOH/NaOH, lalu didiamkan hingga terpisah menjadi bio-solar dan gliserol.
“Gliserolnya bisa digunakan untuk bahan kosmetik atau farmasi, sementara bio-solarnya bisa langsung digunakan untuk bahan bakar kendaraan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti minimnya fasilitas pengolahan sampah di banyak daerah, yang masih bergantung pada tempat pembuangan akhir (TPA) tanpa pemilahan awal. “Ini membuat volume sampah menumpuk dan mempercepat kerusakan lingkungan,” katanya.
Solusinya, menurutnya, adalah mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas. Sampah dapur bisa diolah menjadi kompos atau diberikan kepada peternak sebagai pakan. Sampah plastik sebaiknya dikumpulkan dan dijual ke bank sampah atau pemulung.
Jelantah pun bisa dikumpulkan secara kolektif untuk didaur ulang menjadi biodiesel. Dr. Sukarsono menekankan bahwa pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pemerintah.
“Pemerintah harus aktif menyediakan fasilitas pengolahan, termasuk edukasi, bank sampah, insinerator ramah lingkungan, dan kebijakan pembatasan plastik sekali pakai,” ujarnya.
Ia juga mendorong masyarakat agar mulai memilah sampah dari rumah. “Cukup buat lubang kecil di tanah untuk mempercepat proses penguraian sampah organik menjadi pupuk. Jika semua orang melakukan ini, kita bisa mengurangi beban TPA secara signifikan.”
Di akhir pernyataannya, ia menegaskan pentingnya pendidikan lingkungan sejak dini. “Edukasi pengelolaan sampah harus masuk ke sekolah dan digaungkan di media sosial. Semakin banyak yang tahu, semakin besar dampaknya,” tegasnya.
Ia berharap, ke depan, momen pasca-lebaran tidak lagi identik dengan gunungan sampah, melainkan dengan kesadaran kolektif untuk menjaga bumi. “Langkah kecil dari tiap individu bisa menciptakan perubahan besar untuk masa depan lingkungan yang lebih baik,” pungkasnya. [dan/beq]






