Ponorogo (beritajatim.com) – Ramadhan bukan hanya tentang puasa dan salat Tarawih. Di banyak masjid dan musala wilayah Mataraman, ada satu tradisi sederhana yang selalu dinanti jamaah, yakni puluran. Puluran adalah makanan ringan yang dibagikan setelah salat Tarawih.
Dahulu, sajian ini diperuntukkan khusus bagi jamaah yang melanjutkan tadarus Al-Qur’an di masjid maupun musala. Namun seiring waktu, tradisi itu berkembang. Kini puluran dinikmati seluruh jamaah Tarawih tanpa kecuali.
Di sejumlah desa di Ponorogo dan sekitarnya, puluran menjadi bagian tak terpisahkan dari suasana Ramadhan. Usai doa penutup Tarawih dibacakan, anak-anak hingga orang tua duduk di serambi masjid atau musala untuk menikmati puluran. Biasanya, puluran juga ditemani dengan minuman kopi maupun teh.
Secara historis di tingkat kampung, puluran identik dengan jamaah tadarus. Setelah rangkaian Tarawih selesai, hanya mereka yang bertahan membaca Al-Qur’an yang mendapatkan sajian sederhana itu.
“Dulu yang dapat puluran ya yang ikut tadarus sampai selesai. Sekarang semua jamaah Tarawih biasanya kebagian,” ungkap Mariadi, salah satu takmir musala Miftahul Huda di Desa Ringinputih Kecamatan Sampung, Ponorogo, Minggu (22/2/2026).
Perubahan itu terjadi seiring meningkatnya partisipasi warga dan semangat berbagi selama Ramadhan. Sistemnya pun beragam, ada yang melalui iuran jamaah, ada pula yang dijadwalkan bergiliran antar keluarga di suatu lingkungan tingkat Rukun Tetangga (RT). Tradisi ini berbeda dengan buka puasa bersama. Puluran bukan hidangan utama, melainkan pelengkap malam usai ibadah salat Tarawih. Bisa dibilang hanya sekadar pengganjal perut sebelum pulang ke rumah masing-masing.
Karena itu, isi puluran umumnya tidak mewah. Aneka makanan ringan, kue basah seperti cucur, atau bolu potong menjadi pilihan klasik. Seiring berjalannya waktu, karena banyaknya anak-anak yang ke masjid atau musala, menu puluran pun jananan. Seperti pentol goreng, molen, tahu dan tempe goreng. Buah pun biasanya juga ada, antara lain semangka, salak dan pernah pula ada jemaah yang membawa buah manggis.
“Kalau dulu, jauh sebelum sekarang, puluran isinya polo pendem, ya singkong, ubi jalar, talas, uwi, maupun gembili. Dulu polo pemdem itu direbus,” kata Mariadi.
Nilai puluran bukan terletak pada besar kecilnya sajian. Yang lebih penting adalah makna di baliknya, yakni sedekah, gotong royong, dan kebersamaan. Anak-anak menjadi kelompok paling antusias. Bagi mereka, puluran adalah bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman Ramadha di masjid maupun musala.
Di tengah arus modernisasi, tradisi seperti puluran menunjukkan bahwa Ramadhan di kampung-kampung masih menyimpan kekuatan sosial yang hangat. Tradisi ini mungkin sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya.
“Biasanya kurang lebih satu jam menikmati puluran. Jemaah bisa sambil ngobrol dengan jemaah lainnya. Ya bisa menambah kebersamaan dan keakraban,” tambah Sunardi, salah satu jamaah Musala Miftahul Huda Desa Ringinputih. [end/aje]






