Yogyakarta (beritajatim.com)- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah kini memasuki fase perluasan besar-besaran. Badan Gizi Nasional menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, dengan prioritas pada ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–2 tahun.
Ambisi ini dinilai sebagai langkah progresif untuk memutus rantai stunting. Namun, para pakar mengingatkan: tanpa kesiapan layanan kesehatan primer dan sistem pengawasan pangan yang kuat, MBG berpotensi menghadapi risiko serius.
MBG dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Dosen dan peneliti Prodi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (KKLP) FK-KMK UGM, dr. Fitriana Murriya Ekawati, Ph.D., menegaskan bahwa intervensi gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan merupakan kunci utama pencegahan stunting.
Periode ini menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, hingga risiko penyakit di masa depan. Kekurangan gizi pada fase ini, kata dia, bisa memicu dampak jangka panjang seperti gangguan kognitif, stunting kronis, hingga penyakit metabolik di usia dewasa.
Harus Terintegrasi dengan Puskesmas dan Posyandu
Menurut dr. Fitriana, MBG seharusnya tidak berdiri sendiri. Program ini perlu diintegrasikan dengan layanan kesehatan ibu dan anak, seperti: pemeriksaan kehamilan (antenatal), perawatan pasca melahirkan (postnatal), serta pemantauan tumbuh kembang balita di Posyandu dan Puskesmas.
“Jika terintegrasi, MBG bukan hanya memberi makanan, tapi juga memperkuat fungsi layanan primer sebagai koordinator kesehatan keluarga,” ujarnya.
Kasus Keracunan Jadi Alarm Keamanan Pangan
Sejumlah kasus keracunan MBG pada 2025 menjadi sinyal bahwa keamanan pangan masih rapuh. Kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita membutuhkan sistem pengawasan yang ketat, mulai dari produksi, distribusi, hingga penyajian.
Layanan kesehatan primer dinilai memegang peran strategis dalam mitigasi risiko melalui edukasi keluarga, deteksi dini, serta kolaborasi lintas sektor.
Keberhasilan Tak Cukup Diukur dari Stunting
Dr. Fitriana menekankan bahwa keberhasilan MBG tidak bisa hanya diukur dari penurunan stunting. Indikator lain yang sama penting meliputi: status gizi ibu, penurunan anemia, meningkatnya ASI eksklusif dan MPASI yang tepat, serta meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan primer.
Selain hasil, mutu proses juga harus dijaga, termasuk standar keamanan pangan, kepatuhan SPPG, dan literasi gizi keluarga.
Perlu Pendekatan Berbasis Keluarga
Agar MBG tidak sekadar menjadi bantuan pangan, ia merekomendasikan pendekatan berbasis keluarga yang terhubung dengan edukasi gizi, pemantauan keluarga berisiko, dan pemanfaatan data kesehatan dari Puskesmas.
Dengan kolaborasi lintas sektor dan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, MBG dinilai berpotensi menjadi fondasi penguatan ketahanan keluarga dan sistem kesehatan nasional. [aje]






