Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa prodi studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan penanaman satu juta pohon di Glagah Wangi Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Penanaman ini mengsung tema ‘Sarasehan dan Ngopi Alam (Ngobrol pintar seputar alam)’ dengan keterlibatan sejumlah pihak.
Prodi HI UMM berkolaborasi dengan Maharesiga dan vokasi UMM. Mereka juga membentuk sinergi bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Jawa Timur dengan protokol laboratorium Hubungan Internasional UMM. Tak hanya itu, warga lokal di bawah naungan komunitas Jaguar 119 juha terlibat dalam prosesi program penanaman sejuta pohon.
Penanaman pada 22 Juni 2024 lalu ini juga sebagai praktikum mata kuliah Politik Lingkungan yang diampu Ruli Inayah Ramadhoan M.Si. Ruli secara aktif berjibaku dalam pemberdayaan konservasi lingkungan yang terinspirasi oleh aktivis lingkungan Vandana Shiva dengan penerapan ekofeminisme dalam praktiknya.
“Upaya penanaman ini dimotivasi oleh kesadaran akan kelestarian lingkungan hijau pada area bukit yang memiliki air resapan yang dapat mengalirkan air hingga ke Kota Malang,” ungkap Ruli melalui keterangan tertulis, Senin (24/6/2024).
Urgensi kegiatan ini sebagai komitmen prodi HI UMM dalam merespon ancaman kerusakan dalam ekosistem lingkungan seperti pemanasan global, kekeringan, longsor, dan banjir bandang. Diharapkan peran komunitas epistemik untuk turut turun merespon adanya ancaman terhadap lingkungan dengan pengindahan atas asas ekologi.
“Kegiatan penghijauan dengan menanam 1 juta pohon tersebut akan dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah Malang Raya, baik melalui program praktikum maupun non praktikum lainnya. UMM akan terus berkomitmen melakukan berbagai kegiatan konservasi dengan berkolaborasi dengan MDMC dan Maharesigana UMM serta melibatkan komunitas masyarakat lokal,” lanjut Ruli.

Pemberdayaan masyarakat lokal dalam pemulihan lingkungan sebagai usaha restorasi lingkungan. Hal itu, lanjut dosen HI UMM ini, menjadi pokok soal kareena masyarakat lokal menjadikan lingkungan sebagai sumber daya penghidupan.
“Kami melibatkan mereka dalam sosialisasi dan edukasi terkait lingkungan guna meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya konservasi lingkungan” tutur Ruli.
Pernyataan senada disampaikan laboratorium HI UMM, Hafid Adhim Pradana, MA. Edukasi akan politik lingkungan tidaklah sekedar menanami pohon. Menurutnya, perlu juga sebagai titik tolak mengerahkan maksimalisasi SDGs dan perdamaian global.
Hal serupa disampaikan salah satu dosen HI UMM yang terlibat pada kegiatan, Haryo Prasodjo, MA. Bentuk adanya politik lingkungan juga dapat dipahami sebagai usaha dialektika ekologi dalam relasi konfliktual paradigmatik antara ekonomis dan ekologis. (dan/but)






