Malang (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mengadakan program Ramadan Ceria bersama komunitas difabel di Malang. Tim UMM bersama Hotel Kapal Garden Hotel mengajak kaum difabel yang tergabung dalam Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin).
Koordinator UMM Silvia Ramadhani mengatakan bahwa Ramadan Ceria melalui sahur bersama sudah dilangsungkan sejak awal Ramadhan di sejumlah titik di Malang. Kegiatan ini akan terus dilaksanakan hingga bulan suci berakhir.
“Kemarin kami telah berkunjung dan sahur dengan warga Kampung Warna Warni Jodipan. Kami berkolaborasi bersama seniman jalanan dan berbuka di daerah Blimbing dan yang lain. Semoga ini bisa bermanfaat dan menjadi syiar pada masyarakat luas,” ucapnya.

Terdapat berbagai menu yang juga disajikan Hotel Kapal Garden UMM saat kegiatan tersebut. Ada menu kari ayam, sayuran, lauk-pauk, dan lainnya. Begitu juga dengan games dan sesi cerita menarik dengan bahasa isyarat.
Kegiatan ini sejalan dengan penjelasan Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si yang menekankan kesalehan sosial dan kesalehan lingkungan. Dia berpesan agar seseorang bisa memaksimalkan potensi untuk berbagi dan menebar manfaat ke sesama. Hal itu juga dilaksanakan Kampus Putih UMM dengan berbagai program dan dilakukan di banyak lokasi.
Acara pada 21 Maret lalu itu berlangsung di Soekarno Hatta dengan diwarnai games asyik, materi kebencanaan dari mahasiswa relawan siaga bencana (Maharesigana) UMM, dan membuat konten bersama. Ketua Komunitas Tuli Mendongeng & Gerkatin Kota Malang Muhammad Hasanuddin, S.Par., merasa senang karena dikunjungi dan diperhatikan oleh UMM.
Hasanuddin mengapresiasi materi tentang bencana yang diberikan. Hal itu tak lepas dari kebingungungan kaum difabel saat terjadi bencana misalnya gempa bumi.
“Kami juga kesulitan untuk memberi tahu teman-teman difabel untuk segera mencari tempat aman jika gempa terjadi. Maka, kehadiran UMM memberikan wawasan baru yang bermanfaat,” ucapnya.
Melalui acara dari kampus putih, pihaknya pun tahu bahwa sangat penting untuk menyepakati titik kumpul ketika bencana terjadi. Dia menilai dengan acara ini, kaum difabel juga bisa langsung bergerak tanpa kebingungan.
Lebih lanjut, ia juga senang melihat teman-teman difabel antusias mengikuti berbagai permainan asyik dari UMM. “Kami Ia harap silaturahmi yang dibangun bisa terus terjalin. Tidak hanya berhenti di sahur bersama saja, tetapi juga dengan berbagai kegiatan lain,” katanya menutup. (dan/ian)






