Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) berhasil mengantongi delapan paten inovasi teknologi dan kesehatan. Capaian ini menjadi penanda kemajuan riset kampus pada usia ke-13 tahun.
Paten terbaru resmi turun dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI pada akhir Juni 2026. Produk ini berupa sistem insinerator pembakar sampah tanpa asap.
Rektor Unusa, Prof Tri Yogi Yuwono menilai pencapaian delapan paten ini menjadi bukti nyata. Ia melihat budaya riset di lingkungan kampusnya terus berkembang pesat.
“Usia 13 tahun merupakan fase bertumbuh. Pertumbuhan Unusa tidak hanya ditunjukkan oleh peningkatan jumlah mahasiswa, tetapi juga oleh lahirnya inovasi berwujud paten,” kata Tri Yogi, Selasa (30/6/2026).
Tri Yogi menegaskan perolehan paten bukanlah tahap akhir dari sebuah penelitian kampus. Produk inovasi ini harus berlanjut pada proses hilirisasi agar terserap dunia industri.
“Ini adalah bukti bahwa riset di Unusa memang diarahkan untuk menjawab langsung kebutuhan masyarakat luas maupun pihak industri,” ujarnya.
Kepala Subdirektorat Riset, Inovasi, dan Kekayaan Intelektual Unusa, Dr Fifi Khoirul Fitriyah menyiapkan langkah lanjutan. Pihaknya akan mengelola seluruh paten melalui Transfer Technology Office (TTO).
“Saat ini kami telah memiliki delapan paten granted yang sedang dipersiapkan memasuki tahap hilirisasi. Produk ini diproses melalui TTO agar siap dipasarkan,” ungkap Fifi.
Pihak kampus memberikan dukungan penuh untuk mempercepat proses komersialisasi inovasi ini. Dukungan itu berwujud suntikan pendanaan pengembangan produk hingga insentif khusus bagi para penemu.
“Kami berharap langkah ini dapat memperkuat ekosistem riset. Hasil akhirnya berupa produk unggulan yang berdaya saing dan berdampak nyata bagi dunia industri,” tuturnya.
Selain insinerator tanpa asap, tujuh paten lainnya banyak berfokus pada alat dan formula medis. Seluruh karya ini dirancang untuk menyelesaikan masalah kesehatan secara praktis.
Beberapa karya medis tersebut meliputi selimut elektrik pendeteksi suhu ruang operasi, sendok khusus lansia penderita tremor, hingga kotak pemantau kondisi jantung berbasis nirkabel.
Unusa juga mematenkan formulasi pembalut luka kombinasi kolagen dan kitosan. Terdapat pula racikan herbal nanopartikel, komposisi ekstrak herbal diabetes, serta minyak atsiri pereda gangguan pernapasan.
Deretan karya tersebut akan segera diperkenalkan ke publik dalam waktu dekat. Langkah ini mempertegas peran kampus dalam mengintegrasikan penelitian terapan dan pengabdian masyarakat. [ipl/kun]






