Jember (beritajatim.com) – Prevalensi tengkes atau stunting di Kabupaten Jember, Jawa Timur, berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2024 adalah 30,4 persen.
“Kabupaten Jember ternyata peringkat satu dari 38 kabupaten kota di Provinsi Jawa Timur.” kata Farida Hary Anggraini, analis gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, saat memberikan pelatihan kader penggerak di kantor Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan, Sabtu (20/9/2025).
Menurut Farida, petugas survei mengunjungi 836 balita di Jember. “Kebetulan yang dikunjungi, yang kena sampling, adalah balita yang bermasalah gizi. Akhirnya muncullah angka 30,4 persen. Stunting yang belum ke tingkat sangat parah 26,5 persen,” katanya.
Sebenarnya, lanjut Farida, berdasarkan hasil penimbangan balita pada Mei 2024, angka stunting di Jember tidak sampai sepuluh persen. “Beberapa kecamatan yang memang ranking-nya tertinggi, salah satunya Kecamatan Kaliwates, Rambipuji, Pakusari, Jelbuk, data stuntingnya di atas angka rata-rata Kabupaten Jember,” katanya.
Namun, Farida mengatakan, pihaknya tidak boleh berdebat tentang data. “Sebenarnya mungkin kita boleh untuk menolak hasil itu. Tapi karena memang ini survei bersifat skala nasional, ya kita terima dengan lapang dada. Ikhlas saja bahwa memang datanya seperti itu,” katanya.
Farida mengatakan, stunting termasuk dalam kekurangan energi kronis yang membutuhkan waktu lama, sejak ibu hamil. “Ada faktor penyebab stunting, mungkin faktor kemiskinan. Ini masih mungkin, karena ternyata Kecamatan Kaliwates yang tidak termasuk daerah miskin, data stuntingnya tinggi.” katanuya.
Rendahnya tingkat pendidikan juga bisa jadi faktor penyebab. “Mungkin materi-materi pendidikan tentang kesehatan tidak banyak yang didapatkan dari sekolah. Ini tugas teman-teman puskesmas untuk datang ke sekolah-sekolah, memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi dan penyuluhan tentang pencegahan stunting,” kata Farida.
Penyebab terbanyak adalah ibu hamil yang kurang gizi. “Hamil di trimester pertama, di tiga bulan pertama, sudah umum kalau ibu hamil mengalami mual-mual, muntah-muntah, enggak mau makan dan seterusnya,” kata Farida.
“Pada trimester pertama ini, potensi untuk menjadi ibu hamil kurang gizi lebih banyak. Jadi, kita memberikan makanan tambahan pemulihan itu biasanya di trimester kedua dan seterusnya,” kata Farida.
Menurut Farida, diagnosis tingkat keparahan tengkes hanya bisa dilakukan dokter spesialis anak. Dinkes Jember telah bekerja sama dengan tiga rumah sakit umum daerah. Saat ini RS dr. Soebandi telah membuka poli tumbuh kembang.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Jember telah bekerja sama dengan 17 dokter spesialis anak yang berada di bawah Ikatan Dokter Anak. Mereka akan mendampingi 50 puskemas yang tersebar di 31 kecamatan. “Jadi, satu dokter spesialis mendampingi tiga sampai empat puskesmas,” kata Farida.
Tak hanya tiga rumah sakit daerah dan puskesmas. Ada 14 klinik swasta yang melayani rujukan tengkes, karena beberapa dokter spesialis anak berpraktik di sana.
Saat ini tengkes termasuk dalam kode 114 penyakit yang ditangani puskesmas dan rumah sakit. “Jadi, kalau sudah terindikasi stunting, artinya balita ini harus dipulihkan kesehatannya karena ini sudah masuk kode penyakit,” kata Farida.
Tak mudah mengatasi tengkes di Jember. Kabupaten Jember memiliki 38 ribu ibu hamil dalam satu tahun dan jumlah bayi di bawah usia tiga tahun mencapai 155 ribu jiwa. “Jadi, memang tantangan kita, kita punya jumlah penduduk yang besar, jumlah balita yang banyak, jumlah bayi yang tinggi. Ibu hamil dari tahun ke tahun itu tidak kemudian menurun jumlahnya,” kata Farida.
“Jadi, sekitar 38 ribu sampai 40 ribu ibu hamil di Kabupaten Jember menjadi sasaran atau prioritas kita bersama. Sebenarnya mudah sih mencegah supaya enggak ada stunting: jangan ada yang hamil. Tapi kan enggak mungkin,” kata Farida berseloroh.
Pencegahan bisa dilakukan sejak awal dengan menyiapkan para perempuan muda untuk memahami status gizi saat hamil. “Selain dari IMT atau Indeks Massa Tubuh, kita bisa melihat status gizi ibu hamil dari lingkar lengan atas untuk mengukur ketebalan lemak,” kata Farida.
“Kalau ibu biasa menggunakan tangan kiri, kita mengukurnya di tangan kanan. Itu cara mudah untuk menentukan status gizi dari ibu hamil yang nanti berisiko melahirkan bayi dengan berat badan yang rendah atau tidak. Lingkar lengan yang bagus untuk ibu hamil di segala usia adalah lebih dari 23,5 centimeter,” kata Farida. [wir]






