Sejak masuk dalam kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Prabowo Subianto tiba-tiba seperti tiarap dari perbincangan media massa. Beda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu Prabowo yang kerap melontarkan kritik tajam atas kinerja pemerintah.
Berbeda pula dengan beberapa menteri yang suka pamer keberhasilan menjalankan program atau pamer terobosan, kinerja Prabowo sebagai Menteri Pertahanan tidak terlalu diumbar ke publik. Pria kelahiran 17 Oktober 1951 ini seakan bekerja dalam senyap, silent. Jauh dari publikasi ataupun gosip.
Figur Prabowo, yang sebelumnya, sebagai tokoh oposisi pelan-pelan luruh. Putra ekonom Soemitro Djojohadikoesoemo ini menjadi bagian dari rezim pemerintahan.
Pada kontestasi menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2024, sosok mantan Komandan Jenderal Kopassus
dan mantan Panglima Kostrad ini juga tidak lagi terlalu populer. Dalam perbincangan di media massa, sosok Prabowo kalah populer dengan sosok seperti Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Lihat saja, Ganjar dan Anies hampir tiap hari muncul di media massa.
Apakah peluang Prabowo di Pilpres 2024 menjadi redup? Tunggu dulu. Prabowo sepertinya masih menunggu waktu yang tepat untuk bangkit. Momentum di mana dia mungkin bakal mengeluarkan kartu truf. Kartu yang bisa mematikan kartu-kartu lawan.
Sejenak mari menoleh ke belakang. Ketika menjelang Pilpres tahun 2004. Ketika itu Megawati Soekarno Putri menjabat sebagai Presiden RI dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjabat Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam). Tiba-tiba SBY melepas jabatan menteri dan deklarasi untuk maju Pilpres.
Saat kampanye Pilpres 2004, SBY banyak mengungkap sisi buruk dalam dapur pemerintahan Megawati. SBY bisa mengungkap banyak hal karena dia pernah berada dalam pemerintahan. Sehingga tidak sekadar tahu atau wacana, SBY terlibat dan mengalami sendiri. Ibaratnya sebuah kritik dari dalam. Dan saat itu, yang paling menghujam, SBY merasa diperlakukan tidak adil.
SBY mendapat banyak simpati dan empati dari masyarakat. Dan lalu memenangi Pilpres 2004. Tetapi tentu ada faktor-faktor lain sehingga SBY berhasil menang.
Melalui beberapa variasi, strategi SBY bisa pula diterapkan oleh Prabowo. Menjadi kartu truf.
Pada saatnya nanti Prabowo bisa mengumbar banyak hal tentang dapur pemerintahan Jokowi. Kritik dari dalam, kritik dari pelaku, kritik dari seorang menteri. Prabowo bisa menyajikan data-data kebijakan anggaran, data kebirokrasian, hubungan antar lembaga, hubungan pribadi antar menteri, catatan rapat kabinet, sinyalemen politik dagang sapi, indikasi korupsi, dan banyak data lain. Data-data yang selama ini tidak terungkap di publik.
Prabowo bisa menyatakan bahwa selama menjadi menteri telah banyak memberi masukan terobosan atau rencana program atau gambaran solusi namun tidak dapat terealisasi. Tidak dapat terealisasi karena mungkin terbentur tembok birokrasi atau mungkin kendala lain.
Lebih jauh lagi, Prabowo bisa berteriak bahwa dia telah diperlakukan tidak adil dalam pemerintahan. Perlakukan tidak adil semata-mata latar belakang Prabowo sebagai mantan lawan Jokowi di Pilpres 2014 dan Pilpres 2019.
Mengacu pada situasi politik nasional beberapa tahun terakhir, data-data kritik dari Prabowo bisa menggelinding liar sampai jauh. Bakal ditangkap pemerhati politik lalu ditafsirkan atau dipertajam. Ditangkap netizen media sosial lalu diproduksi ulang menjadi konten-konten kreatif. Situasi informasi yang sulit terkendali tetapi hampir pasti bakal menguntungkan Prabowo.
Tetapi, sekali lagi, tunggu dulu. Prabowo belum tentu memakai kartu truf tersebut. Prabowo bisa jadi menerapkan strategi pemenangan yang lain. Prabowo telah 2 kali menjadi calon presiden dan selalu hampir menang. Prabowo tentu telah banyak belajar dari pengalaman.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ribut-wijoto”]
Yang pasti, Prabowo memiliki modal vital yang tidak dimiliki kandidat lain. Yakni, Prabowo adalah ketua umum partai. Pada Pemilu 2019, Partai Gerindra yang dipimpin Prabowo menempati posisi ketiga dengan perolehan 17.594.839 suara sah atau 13,57 persen. Dengan modal itu, Prabowo tidak terlalu kesulitan mencari partai yang bakal mengusungnya menuju Pilpres 2024. Dia tinggal membangun koalisi untuk melengkapi persyaratan.
Modal vital lainnya, Prabowo telah berpengalaman menjadi calon presiden (2 kali) dan calon wakil presiden (1 kali). Dengan pengalaman itu, Prabowo tahu di mana letak kantong-kantong suara. Prabowo juga paham cara menggerakkan kantong-kantong suara tersebut.
Meski begitu, Prabowo perlu mencari pasangan yang tepat untuk mendongkrak perolehan suara. Berkaca dari Pilpres sebelumnya, Prabowo mengalami kekalahan cukup signifikan di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kekalahan di dua provinsi gemuk tersebut penting untuk menjadi catatan Prabowo dalam menentukan calon wakil presiden. [but]






