Lalu paguyuban-paguyuban macapat itu berkumpul. Mereka disatukan oleh semangat yang sama, kebiasaan yang sama, hobi, ruang, waktu, oleh impian yang sama. Kegelisahan yang sama pula. Macapat Sidoarjo dan masa depannya.
Bagi orang Jawa, macapat bukanlah sekadar tembang. Nyanyian pelipur lara. Bukan. Ketika pupuh-pupuh Serat Wedhatama dilantunkan, mereka serentak menyimak. Lantunan yang membawa jiwa mengembara. Sublim. Keindahan, moralitas, ajaran, kesunyian.
Bahkan jiwa dibawa menelisik ke alam yang lebih lapang. Alam mistis. Antara ada dan tiada, antara hidup dan mati, baik buruk, sorga neraka, di mana batas-batasnya kadang terlalu tipis untuk dipahami akal sehat. Ia harus diselami dengan akal budi.
Itulah sebabnya, selama ini, mereka lebih sering berkumpul, nembang macapat, di malam hari. Ketika hiruk pikuk dunia sudah lebih reda. Ketika harmoni jiwa sudah lebih tertata sehingga mampu menangkap suara-suara lirih, mampu menerima cahaya dari tempat paling jauh, tempat tersembunyi.
Sekar Kawedhar, Jenggala Manik, Kinanthi, Samiaji, Sekar Palupi, Sela Kambang, Rika Rahayu Rasmi (R3), dan beberapa paguyuban lagi. Sidoarjo memiliki banyak paguyuban macapat dan perkumpulan seni budaya jawa yang giat macapatan.
Tetapi malam tanggal 13 Desember 2022, di Pondok Pesantren Ahlus-Shafa Wal-Wafa, Wonoayu, Sidoarjo, tempat bernaung Paguyuban Macapat Samiaji; kegelisahan itu menyeruak. Saat itu tidak hanya pegiat macapat yang hadir. Ada pula Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya SMA Sidoarjo dan pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo. Mengungkapkan kegelisahan yang sama.
Ternyata disadari pegiat-pegiat macapat telah pada tua. Ternyata remaja dan anak-anak kian tidak mengenal macapat. Bagaimana bisa suka jika mengenal saja tidak. Regenerasi putus. Jika terus begini, bagaimana nasib macapat di Sidoarjo dalam 40 atau 70 tahun ke depan?
Kegelisahan yang lain lagi. Ternyata, meski banyak paguyuban, Sidoarjo belum memiliki gagrak tersendiri. Gresik, Tuban, Malang, Banyuwangi, Madura telah punya; Sidoarjo belum punya.
Kalian tentu menyadari. Gagrak bukan sebatas cengkok, cara melagukan, ciri khas, atau gaya. Gagrak adalah perwujudan kreativitas kolektif, identitas bersama, jati diri. Ketika riwayat masa silam, kehidupan masyarakat, kebiasaan-kebiasaan keseharian, cara ibadah, hamparan alam, nama-nama dusun, mitologi, dan segala hal ihwal tentang Sidoarjo mengejawantah ke dalam karakter macapat: di situlah urgensi posisi macapat gagrak Sidoarjo.
Maka lalu disepakati. Pertama. Bakal digelar kegiatan ‘Seribu Warga Sidoarjo Nembang Macapat, 24 Jam Nonstop’. Tempat di Ponpes Ashofa, 4 – 5 Agustus 2023. Kedua. Bakal diciptakan macapat gagrak Sidoarjo. Ketiga. Kegiatan bakal dibiayai secara goyong royong dan kerja sama pihak lain. Dr Autar Abdillah didapuk sebagai ketua panitia, Suwarmin MSn sebagai koordinator penciptaan gagrak macapatan Sidoarjo.
Tidak mudah, tentu saja, bagi Suwarmin untuk menciptakan macapatan gagrak Sidoarjo. Tetapi semangat para pegiat macapatan dari paguyuban-paguban memberi dia energi besar. Ia pun memulai dari kajian. Profesi dia sebagai dosen seni tradisi di STKW Surabaya memudahkan jalan.
Pilihan Suwarmin jatuh pada wayang gagrak Porong, Sidoarjo, sebagai sumber penciptaan macapat. Wayang ini ternyata dulu sangat populer di Sidoarjo. Sampai sekitar tahun 1950-an, banyak desa yang memiliki kelompok wayang gagrak Porong. Ibu-ibu rumah tangga pun hapal lakon-lakon yang dimainkan.
Wayang pun sudah ada di Sidoarjo sejak ratusan tahun lalu. Bahkan di Indonesia, literatur tulis pertama tentang wayang berasal dari Sidoarjo. Yakni, termaktub dalam prasasti Kuti (840 Masehi).
Wayang gagrak Porong termasuk kiblat wayang khas Jawatimuran. Wujudnya jauh berbeda dengan wayang gagrak Jawa Tengah (Mataraman). Cara ekspresi sinden berbeda, irama musiknya beda, susunan acaranya berbeda. Wayang gagrak Porong bernuansa lebih dinamis dibanding gagrak Mataraman. Didominasi oleh permainan kendang. Jika wayang gagrak Mataraman menyukai warna hitam, wayang gagrak Porong dominan Merah. Aspek mistisnya kuat.
https://beritajatim.com/gaya-hidup/gerakan-membeli-lukisan-untuk-disumbangkan-ke-masjid/
Setelah memilih wayang gagrak Porong sebagai sumber penciptaan macapat, Suwarmin menukik lebih tajam, spesifik, ke dalang Ki Suwoto Ghozali (almarhum). Suwarmin memutar kembali rekaman pentas wayang Ki Suwoto Ghozali. Disimak, diserap, dipelajari. Dirasa masih belum cukup, Suwarmin berziarah ke makam Ki Suwoto Ghozali.
Lalu diciptakanlah macapatan gagrak Porong atawa macapat gagrak Sidoarjo. Tiga pupuh dulu, yakni Pucung, Kinanti, Asmaradana. Beberapa paguyupan macapat kembali kumpul. Rembukan. Bersama-sama menyempurkan macapat gagrak Sidoarjo yang disusun Suwarmin.
Mereka sepakat akan merekamnya. Rekaman bakal disebar ke sekolah-sekolah melalui guru seni budaya dan guru bahasa Jawa. Akan diadakan lomba pula. Puncaknya tanggal 4 – 5 Agustus nanti, macapat ini ditembangkan bersama-sama dalam tajuk ‘Seribu Warga Sidoarjo Nembang Macapat, 24 Jam Nonstop’. [but]






