Tulungagung (beritajatim.com) – Kepolisian memusnahkan puluhan kilogram bahan peledak dan ratusan petasan di Tulungagung, Jawa Timur, hasil sitaan selama operasi Ramadan 2026.
Pemusnahan dilakukan oleh Unit Gegana Brimob Polda Jatim bersama jajaran Polres Tulungagung di kawasan Gunung Cemenung, Kecamatan Rejotangan, Selasa (24/3/2026), dengan pengamanan ketat dari tim penjinak bom.
Kabagops Polres Tulungagung, Kompol Maga Fidri Isdiawan mengatakan, barang bukti tersebut merupakan hasil operasi selama kurang lebih 30 hari di seluruh wilayah hukum Polres Tulungagung.
“Kami mengundang dari Gegana Brimob Polda Jatim dalam rangka untuk pemusnahan bahan peledak berupa petasan hasil dari tindakan kepolisian kita saat di bulan suci Ramadan. Selama kurang lebih 30 hari dari berbagai Polsek jajaran,” ujarnya.
Barang bukti yang dimusnahkan terdiri dari 346 buah petasan berbagai ukuran serta bubuk mesiu seberat 22,15 kilogram. Seluruhnya merupakan hasil sitaan dari sejumlah Polsek, di antaranya Campurdarat, Tulungagung Kota, Besuki, Ngunut, Bandung, Gondang, Sumbergempol, dan Boyolangu.
“Temuan paling banyak yaitu petasan yang berdiameter sekitar 10 cm dengan tinggi 25 cm. Itu ada sekitar hampir 50 yang diamankan oleh Polsek Sumbergempol,” jelasnya.
Dalam proses pemusnahan, petugas terlebih dahulu mengeluarkan bubuk mesiu dari dalam petasan, kemudian mengurainya dan mencampur dengan bahan peledak lain sebelum dimusnahkan secara terkendali.
Tim penjinak bom selanjutnya membakar material tersebut dengan metode khusus sehingga tidak menimbulkan ledakan besar maupun dampak berbahaya. Selama proses berlangsung, warga dilarang mendekat ke lokasi demi alasan keamanan.
Maga menambahkan, mayoritas pelaku produksi petasan dan bahan peledak tersebut masih berusia anak-anak. Terhadap pelaku anak dilakukan pembinaan dan dikembalikan kepada orang tua.
“Sementara itu untuk pelaku dewasa ada yang kami proses lebih lanjut dan kami naikkan ke tahap penyidikan,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan, para pelaku diketahui meracik sendiri bahan peledak dengan membeli bahan baku secara terpisah melalui platform daring. Mereka mempelajari cara pembuatan petasan dari media sosial.
“Pelaku beli bahan baku secara terpisah di marketplace,” pungkasnya. [nm/beq]






