Malang (beritajatim.com) – Perdebatan sengit soal royalti musik yang tengah memanas di kalangan musisi tanah air mendapat tanggapan adem dari dua legenda rock Indonesia, Heydi Ibrahim dari Power Slaves dan Mel Shandy. Keduanya memberikan pandangan unik mereka di sela-sela konser “Kita Indonesia Rock in Karlos 2025” yang digelar RRI di Karangploso, Malang, Kamis (14/8/2025) malam.
Di saat banyak musisi menuntut hak ekonomi atas karya mereka, Heydi Ibrahim justru memilih pendekatan yang lebih santai dan filosofis. Baginya, semakin banyak orang yang menyanyikan lagu-lagu Power Slaves, itu adalah bentuk promosi gratis yang membuat bandnya semakin dikenal.
“Saya tidak pernah mempermasalahkan royalti. Saya percaya kalau rezeki ini sudah ada yang atur. Semakin banyak orang membawakan lagu-lagu Power Slaves, berarti Power Slaves semakin terkenal. Itu saja kalau saya,” ujar Heydi dengan tenang.
Vokalis bersuara khas ini juga menyoroti kondisi ekonomi di Indonesia yang menurutnya membuat penerapan sistem royalti secara ketat menjadi kurang praktis.
“Royalti itu benar, saya tidak bilang salah. Cuman, mungkin untuk diterapkan di Indonesia dengan sistem pendapatan per kapita yang masih rendah, berapa yang harus dibayar? Harusnya lagu-lagu barat yang kita nyanyikan juga harus bayar. Makanya, dibawa santai saja,” tambahnya.
Pandangan berbeda namun tetap sejuk datang dari lady rocker legendaris, Mel Shandy. Ia secara terbuka memberikan izin gratis kepada siapa pun yang ingin menyanyikan atau meng-cover lagu-lagu ciptaan suaminya, Danny Sabian Hamda.
“Kalau yang bawain lagu ciptaan suami saya, silakan. Gratis, tidak akan ada tuntutan apa-apa. Malah saya senang karya itu diapresiasi. Mau di-cover, mau dibikin untuk konten apa pun, saya bebaskan buat masyarakat Indonesia,” tegas Mel Shandy.
Namun, Mel Shandy menunjukkan pemahamannya terhadap aturan main industri musik. Untuk lagu-lagu di albumnya yang diciptakan oleh orang lain, ia menyarankan agar meminta izin langsung kepada pencipta lagu tersebut.

“Banyak yang minta izin ke aku (untuk lagu ciptaan orang lain), aku bingung ya, kan bukan ciptaan aku. Kalau bisa, izinnya langsung ke pencipta lagunya,” jelasnya, membedakan antara karya keluarga dan karya pihak lain.
Kehadiran Heydi Ibrahim dan Mel Shandy menjadi magnet utama dalam acara “Kita Indonesia Rock in Karlos 2025 #2”. Acara yang digagas oleh RRI Malang dan komunitas Karlos Rock City ini bertujuan membangkitkan kembali gairah musik rock di Malang, yang pernah dikenal sebagai salah satu barometer rock Indonesia.
Ketua Pelaksana RRI Malang, Mario, menyatakan bahwa semangat ini didukung penuh oleh komunitas lokal. “Malang dikenal sebagai tempat lahirnya musisi-musisi rock ternama. Semangat ini yang ingin kita kembalikan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Karlos Rock City, Mahdi Maulana, berharap acara semacam ini dapat menularkan semangat musik rock kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan genre lain.
“Kita berharap dengan adanya event seperti ini, semangat musik rock bisa bangkit kembali dan membawa dampak ke tempat-tempat lain,” kata Mahdi di tengah konser yang digelar gratis untuk umum ini. [dan/aje]






