Sidoarjo (beritajatim.com) – Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Sidoarjo telah menurunkan tim dan membuat fakta kejadian kasus Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Desa Mergosari Kecamatan Tarik.
Laporan kejadian serta Kronologi ditanda tangani oleh M Idham Kholiq Ketua FKUB Sidoarjo setebal 14 halaman.
“Kejadian di Tarik yang viral di Media Sosial telah mengancam kerukunan umat beragama,”kata Gus Idham Ketua FKUB dalam sambutannya di HUT GKJW Sidoarjo ke 36 Sabtu, 13 Juli 2024. .
FKUB Sidoarjo telah menurunkan tim dan telah membuat laporan fakta di lapangan.
Gambaran Kronologi Kejadian:
Peristiwa terjadi pada hari minggu, 30 Juni 2024, pada saat dilaksanakan kebaktian minggu jemaat GPdI Mergosari Tarik dan pelaksanaan pemberkatan pernikahan salah satu jemaat tersebut di Gedung GPdI Dusun Mergojok, Desa Mergosari Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo.
Di tengah pelaksanaan kegiatan pemberkatan pernikahan sekelompok warga berkumpul di jalan desa, yang berada kurang lebih 100 m dari lokasi gedung yang berada di gang kampung lokasi gedung.
Berdasarkan informasi yang ada, kepala desa Mergosari mendatangi lokasi berkumpulnya kelompok warga, dan berusaha mencegah warga untuk masuk lokasi gedung, dengan maksud agar pelaksanaan ibadat berjalan hingga usai.
Kepala Desa, memilih duduk menunggu di satu warung yang berada di pinggir jalan, tepat di antara jalan desa tempat sekelompok warga berkumpul dengan lokasi gedung.
Menurut penjelasan kepala desa, hal itu dilakukan untuk mencegah agar kelompok warga tidak masuk ke lokasi.
Usai kegiatan ibadat, kepala desa mengundang pendeta untuk hadir di warung tersebut.
Adapun pertemuan dilangsungkan di warung tersebut menurut kepala desa dimaksudkan agar tidak ada warga yang masuk ke lokasi gedung.
Dalam pertemuan terjadi dialog (sebagaimana dalam video) berlangsung tegang.
Bagian utama dalam silang dialog tersebut adalah perihal pernyataan kepala desa IMB Gedung gereja.
Bagian ini pula yang selanjutnya menjadi viral, bahwa berkembang persepsi di mana kepala desa melarang kegiatan ibadat umat Kristiani jemaat GPdI tersebut.
Bagian ini kiranya menjadi isu terpenting yang harus ditelaah lebih lanjut.
Perhatian Presiden Jokowi
Sebelumnya Grace Natalie, Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, melakukan kunjungan ke Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (15/7/2024).
Kedatangannya bertujuan untuk mencari solusi terkait isu permasalahan tempat peribadatan di Kecamatan Tarik, Kabupaten Sidoarjo, yang telah menjadi viral.
“Hari ini kami sudah mendengar secara langsung dari pemerintah kabupaten Sidoarjo melalui Plt Bupati Sidoarjo yang sudah bergerak dengan cepat dalam mengatasi permasalahan tersebut dengan baik,” ujar Grace Natalie.
Grace menegaskan bahwa komitmen ini sesuai dengan prinsip Bhinneka Tunggal Ika yang telah dibangun oleh para Bapak Bangsa Indonesia, yaitu bahwa semua warga negara harus diperlakukan sama.
Selain itu, Plt Bupati Sidoarjo bersama jajarannya telah berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini agar tetap terjaga kerukunan antar sesama dan toleransi antar umat beragama, apapun latar belakangnya.
Menurut Grace, Pemkab Sidoarjo telah menyatakan bahwa situasi saat ini sudah kondusif dan menegaskan juga pentingnya penegakan regulasi.
Pemkab Sidoarjo juga akan memberikan asistensi terkait aturan-aturan dan izin-izin yang harus dipenuhi agar dokumen yang dibutuhkan bisa diurus dengan baik.
“Kekeluargaan jalan, toleransi jalan, tetapi regulasi tetap harus ditegakkan,” lanjut Grace Natalie.
Ia menekankan bahwa hal ini merupakan solusi terbaik, karena hal ini masih dalam konteks mencapai Indonesia emas dan Indonesia maju.
Semoga kasus ini menjadi pembelajaran bagi seluruh masyarakat, agar tidak terburu-buru dalam mempersepsikan sebuah video yang belum diketahui detail konteksnya.
“Sebuah peristiwa tidak dapat dipahami hanya dari sebuah video pendek yang ada di media sosial,” tegasnya.
Sementara, Plt Bupati Sidoarjo, Subandi, juga menyatakan bahwa pihaknya akan mengawal permasalahan tersebut hingga selesai.
Ia menegaskan bahwa pihaknya atas nama pemerintah kabupaten Sidoarjo, mohon maaf terkait video viral tersebut. “Semuanya itu tidak benar,” tuturnya.
“Mari kita jaga toleransi umat beragama di Sidoarjo dan keharmonisannya agar menciptakan masyarakat yang damai dan kondusif,” pungkasnya.(ted)






