Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan membuka kembali pasar hewan, setelah kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) terkendali. Sebelumnya, seluruh pasar hewan sempat ditutup selama kurang lebih satu bulan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Diskeswan) Lamongan, Shofiah Nurhayati, mengatakan keputusan untuk membuka kembali pasar hewan tersebut tak lepas hasil kajian lembaga ynag menunjukkan melandainya kasus PMK pada sepekan terakhir.
“Sejak 10 hari terakhir tidak ada pertambahan dan dari kajian epidemiologi dinyatakan kasusnya melandai, karena tingkat kesembuhan sudah 65 persen. Tinggal sisa-sisanya masih dalam proses pengobatan,” kata Shofiah, Senin (17/2/2025).
Meski kasus PMK mulai terkendali, tapi Shofiah menegaskan pihaknya akan terus berupaya melaksanakan vaksinasi, guna mencegah penyakit tersebut kembali menyebar.
“Salah satu upaya kita harus vaksin. Vaksin ini sudah kami gelontorkan mulai Januari hingga Maret,” ujarnya.
Menurut Shofiah, pihkanya berencana melaksanakan vaksinasi serentak pada bulan Februari, bertempat di Puskeswan masing-masing Kecamatan.
“Ini kita laksanakan tanggal 19, 20 dan 21, di masing-masing Puskeswan. Ini kita laksanakan vaksin serentak biar tingkat kekebalan sapinya ini semakin terjaga,” tuturnya.
Secara keseluruhan, terhitung sejak Januari sampai Februari ini, vaksinasi PMK yang dilakukan Disnakeswan Lamongan telah mencapai 9.926 dosis.
“Rinciannya dari vaksin yang mandiri 1.792 dosis, kemudian dari vaksin bantuan dari pemerintah pusat maupun provinsi ini kurang lebih 7.900 dosis, kemudian yang dari CSR PT. Sreya 97 dosis,” kata Shofiah.
Selain itu, pembukaan pasar hewan juga dibarengi dengan upaya pencegahan penyebaran PMK. Seperti penyemprotan disinfektan terhadap setiap kendaraan yang masuk.
Salah satu pasar hewan yang kembali beroperasi adalah pasar hewan di Kecamatan Tikung. Karena baru pertama kali buka, suasana pasar masih sepi. Hanya terhitung bdlasan pedagang.
Kepala UPT Pasar Hewan Lamongan, Isrofil, menjelaskan lengangnya pasar hewan merupakan dampak dari penyakit mulut dan kuku dalam sebulan terakhir.
“Kemungkinan dampak dari PMK kemarin. Jadi para pedagang sapi masih kekurangan stok untuk dijual di Pasar Hewan,” ujar Isrofil.
Isrofil terus berupaya untuk sosialisasi langsung maupun secara daring terkait dengan pembukaan pasar hewan kepada para pedagang.
“Sudah kita sosialisasikan keseluruh pedagang melalui telepon, WA, grup dan sebagainya serta door to door untuk para pedagang besar untuk kembali meramaikan pasar hewan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu pedagang yang datang ke Pasar Hewan Kecamatan Tikung, Simpen, mengaku lega atas kembali dibukanya pasar hewan, yang menjadi tempat mata pencahariannya.
“Satu bulan lebih tutup. Senang telah dibuka kalau ditutup ya susah. Sekarang bawa satu sapi dan sudah laku,” ujar Simpen. [fak/beq]






