Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah) 2024 menjadi angin segar bagi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) Jombang. PKB mampu mendudukkan jagonya menjadi Bupati-Wakil Bupati Jombang periode 2025-2030. Sebuah capaian yang istimewa. Karena sebelumnya, perjuangan PKB dalam Pilkada jauh api dari panggang. Belum pernah membuahkan hasil.
Di Jombang, PKB perkasa di ranah Pemilu (pemilihan umum), namun tak berdaya di gelanggang Pilkada. Mirip perjuangan Sisyphus dalam mitologi Yunani. Yakni, sebuah perjuangan panjang dan melelahkan. Bahkan berakhir sia-sia.
Sisyphus dihukum oleh Zeus untuk terus-menerus mendorong bongkahan batu besar ke atas puncak bukit. Setelah sempat merasakan kelegaan sedikit saat di puncak, batu besar itu tiba-tiba menggelinding kembali ke kaki bukit.
Ia lakukan pekerjaan tersebut terus-menerus, berkali-kali, tanpa boleh berhenti. Ya, setiap kali Sisyphus hampir menyelesaikan tugasnya, batu besar itu secara ajaib menggelinding dengan sendirinya ke bawah. Tentu saja, Sisyphus harus memulai dari awal lagi.
Setali tiga uang dengan PKB Jombang. Dalam perhelatan Pemilu, PKB menunjukkan hasil gemilang. Partai ini berhasil berada di puncak dengan memanggul suara terbanyak. Berkali-kali PKB menguasai kursi di DPRD Jombang.
Namun sayang, suara terbanyak yang diusung oleh PKB ini akan menggelinding ke bawah ketika perhelatan Pilkada. PKB kalah dalam pertarungan. Itu bisa dilihat pada Pilkada 2003, kemudian 2008, 2013, serta Pilkada 2018.
Adalah Pilkada 2003, pemilihan bupati-wakil bupati pertama setelah reformasi 1998. Saat itu, Bupati-Wakil Bupati Jombang dipilih oleh DPRD. Belum ada bupati-wakil bupati yang dipilih secara langsung oleh rakyat.
PDIP membangun blok koalisi dengan partai lain. Mereka mengusung pasangan calon (paslon) Suyanto-Ali Fikri. Suyanto merupakan Ketua DPC PDIP Jombang yang juga wakil bupati. Sedangkan Ali Fikri adalah Ketua PAN Jombang.
Ali Fikri juga adik kandung dari pendiri UPC (Urban Poor Consortium) Wardah Hafidz, sebuah organisasi non-pemerintah yang bergerak membela kaum miskin kota. Ali Fikri salah satu tokoh Muhammadiyah di Kota Santri Jombang.
Sama halnya dengan PKB yang juga membangun koalisi. Mereka mengusung duet Soeharto-KH Tamim Romly. Soeharto merupakan mantan Sekdakab Jombang. Sementara KH Tamim Romly adalah Ketua PCNU Jombang waktu itu.
Sementara anggota DPRD yang memiliki hak pilih jumlahnya 45 orang. Pemilihan digelar. Detik-detik yang menegangkan. Hasilnya, paslon Suyanto-Ali Fikri mendulang 27 suara, paslon yang diusung PKB hanya meraup 17 suara. Sedangkan 1 suara lagi dinyatakan tidak sah/abstain.
Ya, jago diusung PKB, yang hampir mencapai puncak menggelinding lagi ke bawah bukit. Tak ubahnya seperti kisah Sisyphus.
Zaman terus bergerak. Lipatan tahun terus berganti. Pilkada Jombang 2008 memasuki babak baru. Bupati-Wakil Bupati tidak lagi dipilih oleh DPRD. Tapi dipilih langsung oleh rakyat. Inilah Pilkada langsung pertama kali digelar.
Suyanto yang saat itu Ketua DPC PDIP Jombang maju lagi. Calon petahana ini berpasangan dengan Widjono Soeparno. Widjono adalah adik kandung mantan Gubernur Jatim Imam Utomo. Pasangan Suyanto-Wijono diusung partai berlambang banteng bulat.
Sedangkan PKB membangun koalisi dengan Partai Golkar dan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Mereka mengusung paslon Nyono Suharli Wihandoko-Abdul Halim Iskandar. Saat itu Abdul Halim menjabat sebagai Ketua DPC PKB Jombang dan Ketua DPRD.
Satu paslon lagi adalah Soeharto-KH Mudjib Mustain yang diusung Partai Demokrat dan partai non parlemen. Hari pencoblosan tiba. TPS (Tempat Pemungutan Suara) dijejali antrean. Hasilnya, Suyanto-Widjono menjadi juaranya dengan 353.255 suara.
Disusul kemudian Nyono-Halim yang mendulang 241.678 suara. Posisi juru kunci ditempati Soeharto-Mujib dengan hasil 36.781 suara. Lalu, suara yang tidak sah sebanyak 48.937. Saat Pilkada 2008, Daftar Pemilih Tetap (DPT) Jombang 961.945 orang.
Lagi-lagi, PKB yang pada Pemilu sebelumnya menjadi juara dan mampu mendudukkan Halim Iskandar sebagai Ketua DPRD setempat, harus menggelinding ke bawah saat Pilkada. PKB Gagal lagi. Kisah Sisyphus terulang lagi.
Bagaimana dengan Pilkada Jombang 2013?
Pilkada Jombang 2013 diikuti oleh tiga paslon. Pertama, Munir Alfanani-Wiwik Nuriati (Mukti). Pasangan ini diusung oleh PKB dan PKPI. Kemudian kedua, Widjono Soeparno dan Sumrambah (Wira) yang diusung PDIP.
Paslon nomor tiga, Nyono Suharli-Mundjidah Wahab. Paslon terakhir ini diusung Partai Golkar, PPP, PKS, dan Partai Demokrat. Pada Pilkada Jombang tahun 2013 ini, total Daftar Pemilih Tetap (DPT) adalah 998.463 orang.
Hasil rekapitulasi yang dilakukan KPU Jombang menunjukkan, pasangan Munir Alfanani-Wiwik Nuriati memperoleh 38.039 suara. Pasangan Widjono Soeparno-Sumrambah memperoleh 234.819 suara. Sedangkan pasangan Nyono Suharli-Mundjidah Wahab memperoleh 401.576 suara.
Untuk suara tidak sah mencapai 27.307 dari total pemilih hadir 701.741 suara. Nyono-Mundjidah menjadi pemenangnya. Sedangkan PKB, harus menggelinding ke bawah bukit lagi. Pasangan calon yang mereka usung tumbang. Bayang-bayang Sisyphus belum lepas dari partai berlambang peta Indonesia ini.
Setali tiga uang dengan Pilkada Jombang 2018. Ada tiga paslon yang mengikuti kontestasi Pilkada. Pertama, pasangan Mundjidah Wahab-Sumrambah yang diusung oleh Partai Demokrat, PPP dan Partai Gerindra serta Perindo.
Kedua, petahana Nyono Suharli Wihandoko-Subaidi Muchtar yang diusung Partai Golkar, PKB, PAN, PKS dan Partai Nasdem. Ketiga, Syafi’in-Choirul Anam yang diusung PDIP, Partai Hanura, PKPI dan PBB.
Jumlah DPT saat itu sebanyak 977.676 orang. Hari pencoblosan tiba. Rakyat mendatangi TPS untuk menyalurkan hak suaranya. Hasilnya, Mundjidah-Sumrambah berhasil memenangkan kontestasi ini. Mereka meraup 308.536 suara.
Seperti kaset yang diputar ulang, pasangan yang diusung PKB tumbang. Nyono-Subaidi hanya mendapatkan 219.388 suara. Sedangkan posisi terakhir ditempati Syafi’in-Choirul dengan meraih 110.893 suara. Dalam Pilkada 2018, diketahui ada 50.294 suara tidak sah.
Kegagalan yang berkali-kali ini seakan menjadi mitos bagi PKB Jombang. Perkasa di Pemilu, loyo di Pilkada. Namun seperti Sisyphus, PKB tak Lelah. Mereka terus mencoba mengusung beban Pilkada, lalu menyorongkannya ke puncak.
Mematahkan Mitos
Lima tahun berlalu, kalender menunjukkan 2024. Orang menyebutnya tahun politik. Karena pada tahun tersebut digelar Pilpres, Pemilu dan Pilkada serentak. PKB gagal di Pilpres, namun mentereng di Pemilu. Bahkan mereka menjadi juara di Kabupaten Jombang.
Dominasi PKB di Kabupaten Jombang masih sulit untuk diruntuhkan. Pemilu 2024 ini, PKB Jombang meraih 12 kursi dari 50 kursi yang diperebutkan. Dengan kata lain PKB Jombang mengulang kesuksesan yang sama seperti Pemilu 2019.
Karena pada Pemilu 2019 PKB juga menjadi pemenang di Jombang dengan memperoleh 10 kursi atau setara 145.484 suara. Pada Pemilu 2024 kursi tersebut naik dua, sehingga PKB di Jombang mendapatkan 12 kursi di DPRD setempat. Tentu saja, kerja keras para caleg PKB ini berbuah manis. Dari 10 meningkat menjadi 12.
Hal itu semakin klop dengan pelaksanaan Pilkada sembilan bulan kemudian. PKB membuat keputusan cukup berani. Tiga bulan setelah Pemilu atau Mei 2024, PKB menjadi partai pertama yang menjatuhkan rekomendasi untuk Kades Mojokarapak Kecamatan Tembelang, Warsubi, maju di Pilkada Jombang.
Baru menyusul kemudian partai yang lain. Seperti Partai Gerindra, PKS, Partai Golkar, dan Partai Nasdem. PKB juga menggandengkan Warsubi dengan mantan Ketua PCNU Jombang KH Salmanudin Yazid atau Gus Salman.
Lawannya adalah petahana Mundjidah Wahab-Sumrambah yang diusung PPP, PDIP dan Partai Demokrat. Nampaknya Pilkada 2024 ini PKB berhasil mematahkan mitos tak pernah menang. PKB mampu lepas dari bayang-bayang Sisyphus. Sejarah baru tercipta.
Betapa tidak, pasangan yang mereka usung Warsubi-Gus Salman menang telak melawan petahana Mundjidah-Sumrambah. Jago dari PKB menyapu bersih kemenangan di 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang.
Hal ini nampak dalam rapat pleno terbuka pengitungan suara Pilkada serentak 2024 yang dilakukan oleh KPU Jombang, Selasa (3/12/2024) malam. Rinciannya, Warsubi-Salman mendulang 515.880 suara. Sedangkan Mundjidah-Sumrambah hanya meraup 173.098 suara.
Selanjutnya, suara sah 688.978 dan tidak sah 33.063 suara. Jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap) Pilkada Jombang sebesar 1.012.800 orang.
PKB berhasil memanggul suara terbanyak di Pemilu dan Pilkada Jombang 2024. Batu besar bernama Pemilu dan Pilkada itu mampu mereka sorongkan ke puncak kemenangan, tanpa menggelinding lagi ke bawah. Jalan panjang PKB di Pilkada membuahkan hasil. Jago PKB menang, bayang-bayang Sisyphus menghilang. [suf]







1 Komentar
Bagus ulasannya. Sekalian dg foto, tambah bagus