Sleman (beritajatim.com) – Meski masih cukup lama berlangsung, namun isu kesiapan Pemilihan Gubernur (Pilgub) di Jawa Timur (Jatim) semakin seru untuk dicermati. Beberapa calon yang mulai bermunculan dan digadang-gadang dapat maju menjadi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur.
Pengamat Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr. rer.pol. Mada Sukmajati, M.PP, berpendapat meski proses masih lama, masyarakat akan hanyut dulu dalam euforia Pilpres dan Pileg yang lebih dulu dilaksanakan di Februari 2024 mendatang. Namun, tak ada salahnya para calon untuk mulai melakukan sebuah terobosan sosialisasi yang berbeda dari sistem sebelum-sebelumnya.
“Kalau kita berbicara mengenai Pilgub Jatim saat ini sebenarnya masih jauh. Fokus semua orang Jatim dan pemilih tengah terfokus di Februari dulu dan ini menurut saya masih awal sekali. Meski demikian Pilgub 2024 yang dilaksanakan serentak ini sebenarnya bisa menjadi pertarungan kedua setelah Pilpres dan Pileg sebagai pertarungan pertama. Sejauh mana partai politik (parpol) dapat memaknai pertarungan pertama dan kedua. Ini akan sangat kompetitif sekali. Kesuksesan di pertarungan kedua berkaitan erat dengan kesuksesan di pertarungan pertama,” jelas pengamat yang juga Ketua Program Studi Ilmu Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM ini, Selasa (8/8/2023).
Pemilu Februari dan Pilgub November 2024 tetap berkaitan erat. Hal ini, imbuh Mada, seharusnya menjadi momen penting bagi parpol untuk memaknai, mendorong dan mencari strategi demi kesuksesan masing-masing dalam mengusung Cagub-Cawagub Jatim. Jika parpol tidak bisa memaknai hal tersebut tentunya peperangan politik ini menjadi sia-sia.
Mada Sukmajati yang merupakan praktisi pendidikan asli Madiun ini menuturkan, jika ingin menciptakan Pilgub yang berkualitas dan membawa perubahan di Jatim diperlukan sinergitas yang baik antara peran masyarakat, ulama, dan juga calon yang bersangkutan.
“Pada Pilgub 2024 kali ini bagaimana caranya kita dorong Pilgub ini menjadi ajang kontestasi yang basisnya tidak mengarah ke personal individu calon saja tetapi lebih pada program, politik programatik,” tegasnya.
BACA JUGA:
Pilgub Jatim 2024, Pengamat UGM: Kandidat Slow Dulu
Ia kemudian menjelaskan iklim masyarakat Jatim yang kental dengan nuansa figur yang berkharisma ini sudah waktunya diubah sedikit demi sedikit menuju ke politik yang programatik.
“Sudah waktunya para elit politik ini menerapkan politik programatik bukan hanya sekadar politik kharismatik. Kita juga dorong masyarakat Jatim lebih memahami program politik programatik dari para elit politik,” bebernya lagi.
Ia kemudian mengambil contoh misalnya di tahap awal elit dan calon dapat melakukan identifikasi persoalan antar daerah.
“Jadi bagaimana persoalan di Jatim bagian timur, bagian tengah, bagaimana persoalan di kawasan Madura, bagaimana persoalan di Jatim pesisir, hingga ke kawasan pedalaman. Dari sini persoalan publik akan berkembang berikutnya direspon dan disosialisasikan dalam sebuah visi dan misi,” ujarnya.
“Sekali lagi saya yang kebetulan juga berasal dari Jawa Timur sangat berharap dari sisi elit sudah mulai melakukan politik programatik dan tidak hanya bermain di politik kharismatik atau figur personalitik apalagi dengan potensi wilayah dan penduduk di Jatim yang besar,” tegasnya lagi.
BACA JUGA:
Running Pilpres atau Pilgub Jatim, Khofifah Mulai Buka Suara
Ditanya mengenai potensi dan celah diterimanya parpol atau tokoh baru diluar sistem karakter masyarakat Jatim sebagai nasionalis dan agamis dirinya menegaskan akan sangat sulit tokoh baru atau dari parpol baru diluar lingkaran basis massa yang sudah lama mayoritas yakni PDIP dan PKB.
“Karakter masyarakat Jatim untuk menerima parpol lain di luar dua ini akan sangat sulit untuk sementara waktu ini. Masyarakat Jatim sudah terlembaga dengan partai berbasis Nasionalis yakni PDIP dan partai berbasis Islam NU yakni PKB. Karakter ini akan sulit dihilangkan,” tegasnya.
Meski demikian, Mada berharap dari kaum muda yang dimungkinkan akan menjadi pemilih yang berbeda di luar sistem yang sudah terlembaga.
“Ciri anak muda itu kan suka perubahan, eksistensi dan dinamis. Tinggal bagaimana kemudian para tokoh baru atau parpol lain bisa membuat tertarik meski tidak mudah,” tutupnya. [aje/beq]






