Gresik (beritajatim.com)- Perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, Petrokimia Gresik, mendukung pengurangan emisi karbon di Forum Conference of the Parties 30 (COP30) yang digelar di negara Brazil baru-baru ini. Melalui solusi inovatif, perusahaan ini turut serta berkontribusi menuju keberlanjutan lingkungan.
Senior Vice President (SVP) Teknologi & K3LH, Bambang Ariwibowo mengatakan, saat melakukan presentasi perusahannya membahas tentang strategi, atau roadmap kedepan dalam mendukung upaya dekarbonisasi. “Kami berkomitmen melakukan pengurangi emisi karbon keberlanjutan lingkungan,” katanya, Selasa (18/11/2025).
Hal senada juga dituturkan Vice President (VP) Lingkungan Hidup, Bagus Eka Saputra. Di forum tersebut pihaknya mempresentasikan ekosistem inovasi yang telah dijalankan Petrokimia Gresik. “Semua yang kami lakukan ini demi menghadapi perubahan iklim dunia,” tuturnya.
Sementara itu, secara terpisah Dirut Petrokimia Gresik Daconi Khotob menambahkan, Petrokimia Gresik mengoperasikan 36 pabrik dengan total kapasitas produksi tahunan mencapai 11 juta ton, mencakup produk pupuk dan nonpupuk.
Ekosistem produksi yang masif ini tentu memiliki dampak lingkungan. Oleh karena itu, sejak tahun 2021, Petrokimia Gresik telah aktif menjalankan berbagai inisiatif dekarbonisasi yang didukung oleh strategi ekonomi sirkular.
“Penerapan ekonomi sirkular berfokus pada pemanfaatan produk samping (byproduct) menjadi produk bernilai tambah. Kami menawarkan solusi konkret dalam menjaga kelestarian lingkungan perusahaan,” imbuhnya.
Dampak positif yang dihasilkan dari strategi ini lanjut dia, meliputi peningkatan kualitas lingkungan, penurunan potensi risiko kesehatan dan keselamatan kerja, serta terciptanya lingkungan kerja yang lebih nyaman dan kondusif.
Dalam paparan di COP30, Petrokimia Gresik mempresentasikan optimalisasi gipsum, produk samping dari proses produksi, untuk diolah lebih lanjut. Pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA). Serta pemanfaatan Karbon Dioksida (CO2) untuk produksi dry ice dan lainnya.
“Kami memaksimalkan seluruh potensi produk samping agar tidak terbuang, melainkan diubah menjadi bahan baku atau energi alternatif yang mendukung efisiensi dan keberlanjutan operasional kami,” jelas Bambang Ariwibowo.
Salah satu inovasi signifikan adalah pemanfaatan FABA sebagai bahan baku pengisi (filler) pupuk NPK, menggantikan clay (tanah liat). Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan FABA sebagai pengganti clay dalam pupuk NPK terbukti tetap memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Aplikasi pupuk NPK dengan FABA pada tanaman padi juga menunjukkan kualitas hasil yang setara dengan pupuk NPK tanpa FABA.
Bahan baku filler pupuk NPK umumnya adalah white clay yang didapatkan melalui proses penambangan. Dengan memanfaatkan FABA yang merupakan limbah padat, Petrokimia Gresik tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan tambang baru, tetapi juga meningkatkan efisiensi produksi secara berkelanjutan.
“FABA memiliki karakteristik dan kandungan yang setara dengan clay. Inovasi ini secara langsung meningkatkan daya saing pupuk NPK yang kami produksi, sehingga manfaatnya juga optimal dirasakan oleh petani sebagai konsumen utama kami,” pungkas Bambang.
COP30 merupakan pertemuan global paling krusial mengenai perubahan iklim. Indonesia menjadi salah satu negara yang berpartisipasi aktif dalam gelaran COP30 di Brazil, yang dihadiri oleh perwakilan berbagai negara dan diperkirakan diramaikan sekitar 50.000 pengunjung.
Forum bergengsi ini, Petrokimia Gresik hadir sebagai salah satu wakil industri pupuk dari Indonesia yang mampu menunjukkan implementasi transisi industri hijau. [adv/dny]






